Senin 27 Mei 2019, 20:25 WIB

Berkat Doa Antarkan Wanita asal Surabaya Dibaptis Paus Fransiskus

Mediaindonesia.com | Humaniora
Berkat Doa Antarkan Wanita asal Surabaya Dibaptis Paus Fransiskus

Ist
Anastasia Clara Tjia saat dibaptis Paus Fransiskus, pada perayaan Paskah 2019 di Vatikan.

 

ANUGERAH terindah sering datang tanpa diduga. Ini lah yang dialami Anastasia Clara Tjia. Tidak terlintas dalam benaknya, dia dibaptis Paus Fransiskus pada perayaan Paskah 2019 di Vatikan.

"Saya tidak menduga sama sekali. Saya sangat bersyukur dan bahagia. Tidak semua orang mengalami peristiwa ini, dibaptis oleh Paus. Ini suatu mukjizat bagi saya. Ini sebuah jawaban atas doa dari suami saya," kata Vivi, panggilan Anastasia, saat menceritakan peristiwa yang dialaminya itu, di Jakarta, Senin (27/5).

Wanita asal Surabaya ini mengisahkan, suaminya mendaraskan Rosario tiap hari. Tidak pernah berhenti selama 30 tahun.

Dalam doa Rosario, Andreas Andiono, sang suami, memohon kepada Bunda Maria agar suatu saat nanti Vivi dibaptis.

"Saya percaya, ini jawaban atas doa Rosario suami saya. Ternyata Bunda Maria memberi lebih apa yang diharapkan suami saya. Ini anugerah luar biasa, mendapat kesempatan untuk dibaptis, bahkan dibaptis Paus Fransiskus," kata Vivi.

Dari delapan orang yang dibaptis oleh Paus saat itu, dia menjadi satu-satunya orang Indonesia.

"Dari informasi seorang romo yang sudah 12 tahun bertugas di Vatikan, belum ada orang Indonesia yang dibaptis oleh Paus, khususnya selama 12 tahun terakhir," ujar wanita kelahiran Makassar ini

Menurutnya, menjadi Katolik adalah sebuah panggilan yang tidak mudah untuk dijalani. Dia harus menjalani katekumenat selama hampir 2 tahun dengan 60 kali pertemuan. Sebuah masa persiapan yang cukup lama.

Sebelum menjadi Katolik, dia adalah penganut Buddha yang taat. Dia sering kali mengunjungi tempat suci agama Buddha. Bahkan dia pernah ke Tibet untuk belajar agama dengan Dalai Lama.

 

Baca juga: Menag Pastikan Kesiapan Layanan Jemaah Haji Hampir Final

 

Vivi sebenarnya mengenal agama barunya sudah cukup lama karena suaminya seorang Katolik yang taat.

 Perayaan ekaristi diselenggarakan di rumahnya setiap tahun. Pada suatu saat, begitu perayaan ekaristi selesai, Vivi diminta untuk memberikan sambutan.

Pada waktu itu, tanpa disadari, dia mengucapkan minta dibaptis tahun depan.

Setelah Vivi mengucapkan kalimat itu, barulah dia sadar mengapa dia mengucapkannya. Padahal, dia tidak pernah memikirkan sebelumnya.

"Tidak mungkin saya pindah keyakinan, karena saya seorang penganut Buddha yang sangat taat. Saya tidak tahu bagaimana melukiskan perasaan saya saat itu. Permintaan untuk dibaptis itu keluar begitu saja, tanpa saya sadari. Setelah tahun berganti, saya malu ketika bertemu romo dan suster, karena saya masih belum juga dibaptis," katanya.

Pada April 2017, Vivi dengan sungguh-sungguh menyatakan keinginannya untuk mempelajari agama Katolik supaya bisa dibaptis pada 2018.

Namun, karena persyaratan katekumenat belum mencukupi, akhirnya rencana itu ditunda hingga 2019.

Yang dinanti akhirnya tiba pula. Pada Desember 2018, seorang suster memberi tahu, permintaannya untuk dibaptis Paus diterima. Dia seolah tidak percaya dengan kabar itu.

 Akhirnya Vivi memilih nama permandian Clara. Santa Clara memang diperingati tiap 11 Agustus, sama seperti tanggal dan bulan lahirnya.

Setelah dibaptis, Vivi merasa sering gmendapatkan mukjizat.

"Saya merasa hidup saya kini pun menjadi lebih bermakna untuk sesama," ujarnya.  (RO/OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More