Senin 27 Mei 2019, 21:10 WIB

Partai Arus Utama Uni Eropa Dihantam Gelombang Populis

Tesa Oktiana Surbakti | Internasional
Partai Arus Utama Uni Eropa Dihantam Gelombang Populis

AFP
Presiden Rassemblement National (RN) sayap kanan kanan dan anggota Parlemen Marine Le Pen menyampaikan pidato setelah pengumuman hasil awal

 

SEJUMLAH partai politik arus utama Uni Eropa mendapat pukulan dalam pemilihan umum (pemilu) pada Minggu (26/5) waktu setempat. Termasuk, gelombang kuat golongan populis dari Marine Le Pen, Matteo Salvini dan Nigel Farage.

Dalam salah satu pemungutan suara demokrasi terbesar dunia, kelompok utama sayap kanan-tengah dan sayap kiri-tengah telah kehilangan suara mayoritas di Parlemen Eropa. Mereka harus menghadapi tantangan euroskeptis dan tekanan nasionalis.

Pertikaian simbolis dari kampanye yang membuat Partai National Rally asal Prancis yang dipimpin Le Pen, berada di depan gerakan sentris Presiden Emmanuel Macron. Hal itu merusak upayanya untuk memperdalam integrasi Eropa.

Adapun di Inggris, Partai Brexit pimpinan Farage, tampaknya telah mengalahkan berbagai partai utama. Dia akan mengirimkan kontingen besar euroskeptis Inggris ke parlemen, yang ingin ditinggalkan dalam beberapa bulan mendatang.

Sementara di Italia, kelompok sayap kanan Salvini mencapai hasil serupa, yang memperkuat perannya sebagai inti dari faksi populis vokal di parlemen Uni Eropa. Kemajuan sayap kanan kurang menonjol di Jerman, mengingat Partai Hijau memiliki peranan besar seperti gelombang hijau di banyak negara. Adapun kelompok anti-imigran menembus batas dengan perolehan suara 10%.

"Kami menghadapi penyusutan di area pusat," ujar Manfred Weber, kandidat dari Partai Rakyat Eropa (EPP), yang merupakan partai konservatif Jerman. Dia ingin menggantikan Jean-Claude Juncker sebagai Ketua Komisi Eropa.

Jumlah pemilih Uni Eropa diperkirakan mencapai 51%, tertinggi dalam 20 tahun terakhir. Hal itu mencerminkan lebih dari 200 juta warga dari 28 negara, memberikan suara dalam jajak pendapat. Pesta demokrasi yang menjadi ajang pertempuran kalangan populis dan pro militer Eropa.


Baca juga: Boris Johnson Difavoritkan Jadi PM Inggris Terbaru


Berdasarkan proyeksi terbaru yang disiapkan parlemen, EPP mendapat suara mayoritas di parlemen dengan 179 kursi. Namun, capaian itu turun dari 2014 lalu yang mencapai 216 kursi. Kelompok Sosialis dan Demokrat (S&D) diproyeksikan memenangkan 150 kursi, turun dari sebelumnya 185 kursi. Kedua partai arus utama tidak akan lagi meraih suara mayoritas. Mereka harus menjangkau kaum liberal untuk mempertahankan "cordon sanitaire", agar tidak jauh dari pengambilan keputusan.

Aliansi Liberal dan Demokrat untuk kelompok Eropa (ALDE), yang mencakup partai Macron, berada pada jalur 107 kursi. Di lain sisi, Partai Hijau diperkirakan akan mengambil 70 kursi, naik dari perolehan 52 kursi sebelumnya.

Berbagai partai populis, euroskeptis dan sayap kanan memenangkan lebih dari 150 kursi, namun tidak membentuk koalisi koheren. Europe of Nations and Freedom, yang terdiri atas Partai National Rally dan Partai Lega Nord, memandang suara mereka naik dari 37 kursi menjadi 58 kursi.

Melalui akun Twitter-nya, Salvini mengunggah foto dirinya dengan tanda bertuliskan 'top party in Italy', sembari berdiri di depan rak buku yang memajang topi bertuliskan 'Make America Great Again" dan sebuah gambar Vladimir Putin. Suara Europe for Freedom and Direct Democracy, yang meliputi Partai Brexit Inggris, naik dari 42 kursi menjadi 56 kursi'.

"Sepertinya itu akan menjadi kemenangan besar bagi Partai Brexit," tutur Farage, setelah pemilihan diadakan dengan latar belakang kekacauan. Termasuk, pengunduran diri Perdana Menteri (PM) Inggris, Theresa May, berikut penundaan perceraian Inggris dari Uni Eropa (Brexit). (AFP/OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More