Senin 27 Mei 2019, 21:05 WIB

Ketika Diet Vegan Menjadi Petaka

Galih Agus Saputra | Weekend
Ketika Diet Vegan Menjadi Petaka

AFP
ilustrasi makanan vegetarian.

POLA makan vegetarian alias tidak mengkonsumsi protein hewani selama ini kerap dianggap sangat sehat. Nyatanya pola makan itu juga bisa membuat sakit bahkan menopause dini.

Itulah yang terjadi pada Virppi Mikkonen ialah seorang penulis blog, sekaligus pemenang penghargaan di bidang makan nabati. Berbasis di Finlandia, Virpi telah meluncurkan empat buku memasak, serta memiliki 164.500 pengikut di Instagram.

Namun, pola makan vegan yang dipromosikannya sebagai jalan menuju kesehatan, tampaknya justru membuatnya jatuh sakit. Hal ini diungkapnya di daily Mail, baru-baru ini.

"Saya benar-benar takut. Apa yang salah dengan saya? Saya sehat, dan saya berolahraga," tutur Virpi, seperti dilansir Daily Mail. Pada mulanya, Virpi percaya bahwa dirinya telah mengonsumsi makanan diet yang sangat sehat, mulai dari yang bebas gluten, bebas gandum, susu, daging, pun bebas gula. Ia telah membangun karir dari pola makan demikian, yang mana cukup menginspirasi orang lain untuk mengikutinya.

Namun, kembali lagi, pola makan 'bersih' atau vegan yang dia promosikan sebagai jalan menuju kesehatan justru membuatnya sakit. Akibat hal itu lah ia lantas mencari bantuan dari seorang Spesialis Pengobatan Dalam dari Tiongkok, yang kemudian mendiagnosis bahwa dirinya 'kekurangan yin', karena dalam anggapan spesialis pengobatan itu kesehatan juga memiliki asas keseimbangan seperti "yin" dan "yang".

Lebih lanjut, Spesialis Pengobatan Tadisional dari Tiongkok, yang tak disebutkan namanya itu, mengatakan bahwa Virpi harus berhenti mengonsumsi makanan nabati, meskipun makanan seperti salad, jus, dan smoothie tetap dapat dipakai untuk menu dietnya.

Virpi juga diperkenankan mengonsumsi sarapan seperti jus seledri, mentimun, dan adas, maupun makan siang seperti salad daun bayam, selada air, mentimun, adas dan buncis dengan taburan bunga matahari, labu atau biji wijen. "Tapi semuanya harus dimasak, dan dihangatkan," tutur Virpi, mengulang perkataan Spesialis Pengobatan tersebut.

Bahkan, secara radikal, spesialis itu mengatakan Virpi harus mulai mengonsumsi makanan yang berasal dari produk hewani setiap hari. Sebelumnya, Virpi diketahui tidak mengonsumsi daging selama 15 tahun, kecuali saat mengandung putrinya yang saat ini berusia tujuh tahun.

Virpi awalnya memang cukup kaget dengan saran tersebut. Namun, dia kini sudah tidak menganut pola makan veganisme, pun merasa jauh lebih baik. Ia kini sangat menyukai kaldu tulang yang dimasak menjadi sup untuk ditambahkan pada semur. Dia juga mengonsumsi telur, dan mengaku merasakan efek yang sangat dramatis.

"Ini luar biasa. Saya merasa energik, dan termotivasi. Saya tidur lebih nyenyak, muka memerah dan pegal-pegal di tubuh saya sudah berhenti, dan yang terpenting, haid sudah kembali," tuturnya.

Dewasa ini, gaya hidup vegan memang tumbuh di Eropa, yang mana ditandai dengan peningkatan permintaan makanan bebas-daging mencapai 987 persen, pada 2017. Tetapi Virpi, kini ingin menyoroti bagaimana veganisme itu sendiri memiliki banyak kekurangan.

"Ini tidak berfungsi untuk semua orang. Itu tidak berhasil bagi saya. Masalahnya bukan menjadi vegan itu saja, tapi itu adalah pola makan dan gaya hidup saya yang penuh tekanan. Saya banyak bekerja, saya telah menghasilkan empat buku dalam dua tahun. Itu sungguh gila. Tidak heran saya kelelahan. Beberapa orang membutuhkan produk hewani agar mereka sehat. Tidak semua diet itu cocok untuk semua orang," tuturnya.

Virpi selanjutnya mengatakan bahwa jika seseorang tinggal di Eropa Utara, maka ia tidak dapat membuat makanan mentah atau vegan. "Anda perlu sesuatu untuk menghangatkan Anda," imbuhnya

Veganisme pada dasarnya sangat bagus untuk hewan dan planet ini. Tapi, sekali lagi, Virpi mengaku khawatir terhadap anak muda, khususnya yang bagi mereka yang mungkin akan terseret oleh tren atau tidak tahu bagaimana cara melakukannya dengan benar. (M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More