Senin 27 Mei 2019, 19:10 WIB

Trump Tampak Melunak dengan Korea Utara dan Iran

Tesa Oktiana Surbakti | Internasional
Trump Tampak Melunak dengan Korea Utara dan Iran

AFP
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump

 

PRESIDEN Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyerukan rasa hormat yang begitu besar terhadap hubungan AS dengan Korea Utara. Dia pun mengulurkan potensi negosiasi dengan Iran, untuk meredam terjadinya hal-hal buruk.

Jelang pertemuan puncak dengan Perdana Menteri (PM) Jepang, Shinzo Abe, Trump berupaya meredam pertikaian dengan Korea Utara belum lama ini. Seperti diketahui, bulan lalu, Pyongyang menembakkan rudal jarak pendek yang meningkatkan ketegangan di kawasan.

Baca juga: Tornado Hantam Oklahoma, Dua Orang Tewas

"Saya pribadi berpikir bahwa banyak hal baik yang akan terjadi dengan Korea Utara. Saya merasakan hal itu. Mungkin saya bisa benar, mungkin juga salah," ujar Trump kepada pewarta di kantor PM Jepang.

"Ada rasa hormat yang dibangun antara AS dan Korea Utara. Namun, kita lihat apa yang akan terjadi," imbuh Trump.

Pada Februari lalu, Trump mengadakan pertemuan puncak dengan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, di Vietnam, yang berakhir tanpa kesepakatan. Situasi di luar ekspektasi yang memicu lonjakan baru dalam ketegangan bilateral.

Selama di kantor, Trump memperhatikan uji coba nuklir yang dilakukan Korea Utara. "Dan itu tampaknya telah berhenti," katanya.

Menyikapi tes rudal Korea Utara baru-baru ini, Trump menganggapnya sebagai beberapa senjata kecil. Pernyataan Trump seakan melemahkan pendapat Penasihat Kemanan Nasional, John Bolton. Sehari sebelumnya, Bolton menyeut peluncuran Pyongyang telah melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.

"Uji coba baru-baru ini telah mengganggu sebagian orang di bawah saya, begitu juga dengan lainnya. Tetapi, tidak dengan saya," ucap Trump, yang dipandang secara luas merujuk kepada penasihat hawkish-nya.

Selain itu, Bolton juga mendapat kritikan dari juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara. Dia digambarkan sebagai sosok yang memiliki kesalahan struktural dan harus menghilang secepat mungkin.

Trump turut mengeluarkan nada yang relatif dovish kepada Iran, di tengah meningkatkan ketegangan dengan musuh bersejarah AS. "Saya yakin Iran ingin bernegosiasi. Jika mereka ingin melakukan pembicaraan, kami juga demikian," pungkas Trump.

"Kita akan melihat apa yang terjadi, tetapi saya tahu bahwa PM Abe sangat dekat dengan kepemimpinan Iran. Tidak ada yang ingin hal-hal buruk terjadi, khususnya saya," imbuhnya.

Abe dilaporkan tengah mempertimbangkan kunjungan ke Iran, sebagai upaya menengahi krisis Timur Tengah. Trump tampaknya memberikan lampu hijau.

"Semua akan baik-baik saja," kata dia. Trump menjadi pemimpin asing pertama yang bertemu dengan Kaisar Naruhito. Suatu kehormatan yang diharapkan Abe, dapat memikat pemimpin AS dalam negosiasi perdagangan bilateral.

Di lain sisi, Trump kerap mengecam hubungan perdagangan dengan Jepang, yang disebutnya mengalami ketidakseimbangan luar biasa.

"Saya optmistis kami dapat mengumumkan beberapa hal, mungkin Agustus mendatang, yang berdampak positif bagi kedua negara," tutur Trump.

Pada Minggu lalu, Trump memberikan pesan yang lebih halus kepada pemerintah Jepang. Dia mengatakan banyak dari kesepakatan yang menanti Abe dalam pemilihan majelis tinggi. Kemungkinan besar diadakan pada Juli mendatang. Sebab berbagai rumor mengindikasikan Abe akan menggabungkan pemilihan tersebut, dengan pemilihan umum yang lebih cepat.

Negosiator perdagangan utama Jepang dan AS menghabiskan waktu lebih dari dua jam, dalam pembicaraan pada Sabtu malam. Kendati demikian, pertemuan itu gagal menghasilkan terobosan. Padahal, Jepang mengungkapkan kedua belah pihak memiliki pengertian lebih besar.

Senin menandai dimulai agenda resmi kedua pemimpin negara, setelah akhir pekan yang menyenangkan. Seperti bermain golf dan makan di sebuah restoran. Trump mengaku telah menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama teman dekatnya, Abe.

"Sebuah kehormatan besar untuk menjadi (pemimpin) pertama yang bertemu Kaisar Naruhito. Setelah sang ayah mengundurkan diri dalam turun tahta pertama sejak dua abad lalu," papar Trump.

Dengan mengenakan jas gelap dan dasi merah, Trump meninjau pasukan kehormatan Jepang. Sekaligus, menyapa puluhan pejabat Jepang, ketika band militer beraksi. Kaisar Naruhito terlihat memakai dasi biru muda, sedangkan istrinya, Permaisuri Masako mengenakan topi dan jaket putih. Keduanya turut menemani Trump beserta sang istri, Melania, yang memakai gaun putih dan sepatu hak tinggi berwarna merah.

Baca juga: Trump Jadi Pemimpin Dunia Pertama yang Bertemu Kaisar Baru Jepang

Setelah berjalan mengitari istana, kedua pasangan duduk untuk mengobrol lebih lanjut. Penerjemah resmi tampaknya tidak terlalu berperan. Mengingat, Naruhito pernah menimba ilmu di Universitas Oxford, dan Masako merupakan lulusan Universitas Harvard. Pada malam hari, Trump dan Melania dijadwalkan menghadiri pesta penyambutan di istana.

Kunjungan Trump yang begitu menyenangkan di Jepang, sekaligus merayakan hubungan AS-Jepang di tengah meningkatkan ketidakpastian regional. Selain kebijakan perdagangan AS, ketegangan hubungan AS dengan Tiongkok dan Korea Utara, juga memberikan dampak. (AFP/OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More