Dicari: Negarawan

Penulis: Ronal Surapradja Pada: Senin, 27 Mei 2019, 03:20 WIB celoteh
Dicari: Negarawan

MI/Adam Dwi
Ronal Surapradja

SORE 21 Mei kemarin, di saat ada imbauan untuk tidak mendekati area yang dipakai untuk aksi, saya malah sengaja mendatanginya. Karena dulu pernah ikut aksi menuntut reformasi 1998, saya rasakan bahwa gerakan rakyat tahun ini berbeda, meskipun figur sentralnya, ya dia, dia juga hehehe.

Peristiwa Mei 1998 ialah gerakan massa oposisi yang murni berakar serta digerakkan rakyat dan mahasiswa berhasil menyudahi kekuasaan rezim. Bedanya dengan people power 2019 ini ialah tidak adanya substansi.

Substansi people power ada pada kekuatan dan pelibatan rakyat. Meskipun sering mengatasnamakan rakyat, faktanya ialah yang menginginkan aksi tersebut hanyalah sekelompok rakyat yang merupakan pendukung salah satu pasangan calon Pemilu 2019.

Mungkin penyebabnya karena negara ini kelebihan politikus, tapi kekurangan negarawan.

Politikus hanya memandang bagaimana memenangi pemilu berikutnya, sedangkan negarawan memikirkan bagaimana generasi berikutnya bisa menjadi pemenang.

Dengan menyimak rekam jejak mereka, kita bisa mengetahui apakah seorang politikus sudah naik tingkat menjadi negarawan atau belum?

Seorang negarawan juga tidak berorientasi serta terjebak pada kepentingan berjangka pendek atau sesaat, tapi berpikir mengarahkan perjalanan negara agar tidak terperosok ke jurang.

Sebetulnya negarawan dan politikus samasama pekerja politik. Bedanya negarawan menempatkan dirinya dalam pelayanan kepada negara, sedangkan politikus ialah pekerja politik yang menempatkan negara dalam pelayanan dirinya.

Jadi, kebanyakan penyelenggara negara di negara ini tidak hidup untuk politik, tetapi hidup dari politik. Lihat saja mereka yang memakai rompi oranye KPK kebanyakan ialah penyelenggara negara, seperti menteri anggota DPR, ketua/pengurus partai, dan PNS.

Saya kira pembaca pernah dengar metode 5W+1H sebagai teknik dasar mengumpulkan informasi. Nah, dengan 5W+1H kita bisa membedakan mana politikus atau negarawan. Politikus menyibukkan diri dengan pertanyaan 3W (what, who, when) dan 1H (how), sedangkan negarawan fokus melakukan 2W (why and where).

Why ialah pertanyaan yang berfokus ke dalam, yaitu hati nurani. Jadi, pertanyaan terpentingnya bukan saya jadi presiden dan berkuasa sampai kapan, melainkan mengapa saya mau menjadi pemimpin?

Apa motivasinya? Mengapa selama ini telah berjuang untuk urusan presiden ini. Dalam ilmu manajemen ada teknik why 5 times. Seorang pemimpin akan bertanya why ke dirinya sebanyak lima kali untuk bisa menemukan akar dari segala masalah.

Biasanya jawaban kelima atas pertanyaan ‘mengapa’ itulah yang merupakan jawaban sesungguhnya yang merupakan alasan utama dalam memutuskan sesuatu. Setelah itu baru where, yaitu pertanya an mengenai visi atau tujuan. Ke mana saya akan menuju? Ke arah mana saya akan berjalan bersama untuk mencapai apa yang dicitacitakan?

Sekali lagi visi itu harus bisa menjelaskan doing the right things, bukan sekadar doing things right. Kira-kira adakah negarawan di negara ini? (H-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More