Minggu 26 Mei 2019, 09:15 WIB

Ngabuburit Penuh Warna di Motomoto

Galih Agus Saputra | Weekend
Ngabuburit Penuh Warna di Motomoto

MI/Galih Agus Saputra
Ocean Wonderland di Museum Motomoto.

BERTAMBAH lagi kini satu tempat hit di Tangerang Selatan, Banten, Motomoto namanya.

Motomoto yang mengambil lahan seluas kurang lebih 300 hektare di kawasan BSD menggabungkan dua hal sekaligus, kenikmatan perut dan kenikmatan visual. Restoran dan museum seni rupa dalam satu tempat. 

Konon, nama Motomoto dipilih sebagai nama resto dan museum itu lantaran diambil dari plesetan kata foto-foto, sebuah ‘kata benda’ yang kemudian berubah menjadi ‘kata kerja’ yang tidak asing dengan gaya hidup di zaman modern.

Ya, sesuai namanya, tempat itu memang sengaja dibuat sang pemilik, Boy William, untuk memuaskan gairah para pencinta swafoto. Sangat Instagrammable!

Setiba di pusat perbelanjaan Qbig BSD, pengunjung dapat melihat dua jalur ke Motomoto. Jalur kiri masuk ke resto dan jalur kanan untuk ke museum. Karena saat itu awal Ramadan dan saya sedang berpuasa, saya lantas memilih masuk menggunakan jalur kanan. Setiba di lobi utama, saya langsung disapa dengan dua instalasi seni yang penuh warna. Ada juga tulisan Motomoto berwarna merah yang dirancang menggunakan teknik tiga dimensi bertengger di sebelah pojok kanan bagian atas.

Sebelum berkeliling, ada tiket yang harus dibayar, sebesar Rp100 ribu. Belakangan, saya pikir harga itu cukup sepadan karena instalasi-instalasi seni yang dipamerkan sangat menawan. Koleksi pertama yang saya lihat bahkan langsung membuat saya terkesima. Koleksi itu berjudul Batik Room.

Semua gambar diawali dengan titik-titik hitam. Kumpulan titik itu dalam jumlah banyak akan membentuk garis yang pada akhirnya mewujud dalam sebuah pola. Setelah berjalan sedikit lebih jauh dan menikmati seluruh proses dalam pola itu, pengunjung akan berhenti di sebuah ruangan yang dipenuhi batik. Kalau dicermati secara seksama, garis berliku itu membentuk pola batik klasik, seperti kawung, udan iris, dan parang rusak. Ada juga pola batik mega mendung dikombinasikan dengan motif bunga atau sebagaimana batik pada umumnya yang terinspirasi dari motif batik pesisir.

Setelah beberapa saat dihipnotis dengan motif batik berwarna hitam-putih, saya beranjak ke instalasi berikut. Dalam Colour Movement, rasa-rasanya saya bak diajak berdansa dengan beragam warna. Sebentar saja di sana karena saya merasa kurang berdaya, alias agak loyo lantaran puasa.

Perjalanan lantas berlanjut ke Bird Park. Di sebelahnya, ada kolam bola bernama Rafflesia Pool. Kolam itu sungguh mencolok karena dikemas dengan warna warna merah, putih, dan merah tua. Keberadaan instalasi itu, katanya, terinspirasi dari tiga bunga yang diakui secara resmi oleh pemerintah, yaitu anggrek bulan, melati putih, dan Rafflesia arnoldi.

Nah, buat yang rindu masa kecil, kolam bola itu ternyata bisa 'diselami' lo. Syaratnya, lepas dulu alas kaki agar tidak mengotori instalasi. Selepas puas menyelam dalam kolam, pengunjung diajak mendaki Polygon Hills. Instalasi itu mirip sebuah bukit yang mana puncaknya dipenuhi janji perdamaian. Setibanya di dataran paling atas, pengunjung dapat merayakan kebersaman dalam keberagaman sambil mengabadikan momennya.

 

Taman laut

Batik, lanskap, dan perbukitan telah saya lewati sebelum pemandu museum mengarak saya ke 'dasar lautan'. Bagian ini menjadi salah satu favorit saya. Bukan sekadar karena daya tarik warna, melainkan juga lantaran adanya refleksi atas kerumitan proses atau daya ciptanya.

Perjalanan di dasar laut yang saya maksud, tak lain dan tak bukan ialah kunjungan ke Ocean Wonderland, rangkaian instalasi seni itu lahir dari tangan perupa asal Yogyakarta, Mulyana.

Ocean Wonderland di Museum Motomoto terdiri atas tiga instalasi, yaitu Sea Remember (2018), Modula Monster (2018), dan Silent Prayer (2017). Sedari dulu, Mulyana memang sudah dikenal sebagai perupa dengan metode rajut dan renda, sebagai bentuk meditasi dan doa dalam proses berkarya.

Sea Remember (2018) ialah salah satu instalasi dari Mulyana yang digarap dengan pendekatan komunitas. Rajutan puluhan pasang tangan itu dulunya pernah dikomisikan dalam ART|JOG 2018 dan telah menjadi instalasi terbesar yang pernah dibuat Mulyana.

Ia menampilkan panorama bawah laut secara utuh, lengkap dengan kerangka ikan paus dengan karang yang melekat, sekaligus dikelilingi ikan-ikan kecil yang dirangkai menyerupai ledakan bom atom dalam instalasi tersebut. Melalui instalasi itu pula, ia ingin menyampaikan rasa takut akan ekosistem di bawah laut, yang di satu sisi penuh warna, tetapi di sisi lain juga membutuhkan perawatan.

 

Menitipkan impian

Masih banyak instalasi menarik di museum ini. Waktu 2 jam ternyata tidak cukup untuk mengeksplorasi satu per satu isinya. Lantaran ada urusan yang tak dapat ditunda, saya pun harus bergegas.

Alhasil, saya tak  sempat 'menari' di bawah instalasi awan karya Sembilan Matahari. Pun tidak sempat merasakan aura Sumpah Pemuda, sekaligus menikmati tawa di ruangan HAHAHA. Meski begitu, saya masih sempat menitipkan impian di Make it Stick, Make it Happen.

Instalasi tersebut ialah salah satu bagian dari karya Sara Nuytemans berjudul Rise and Shine (2014). Karya itu sengaja dibuat Sara untuk menyoroti persoalan finansial, teknologi, dan kehidupan sosial yang dewasa ini dirasa lebih tinggi kedudukannya ketimbang keseimbangan alam (natural balance).

Padahal, menurut Sara, ada begitu banyak cara yang dapat dilakukan manusia untuk berinteraksi dengan alam sekitarnya. Mengetahui perkataan itu, sekaligus melihat kertas berwarna dan pena yang disediakan untuk pengunjung, saya lantas mengambil satu dari sekian banyak kertas berwarna itu dan menulis pesan sebelum pulang.

‘Terima kasih Motomoto telah membuat puasa hari kedua saya lebih berwarna dengan berbagai macam persepsi tentang dunia dan semoga akan ada kesempatan lagi bagi saya untuk berkunjung ke sini di masa yang akan datang. Salam bahagia dan selamat menunaikan ibadah puasa’.(M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More