Aladdin, A Not So Whole New World

Penulis: (M-2) Pada: Minggu, 26 Mei 2019, 06:40 WIB Weekend
Aladdin, A Not So Whole New World

DOK. DISNEY
film Aladdin

MESKI skenario yang ditulis sang sutradara Guy Ritchie bersama John August mengalami perkembangan pada plot, juga penambahan karakter serta penajaman motivasi karakter, remake live action yang menampilkan Will Smith sebagai jin biru, tak beranjak jauh dari film versi jin biru animasi yang diisi suara oleh Robin Williams (1992). It seems like nothing new under the sun, Disney?

Aladdin (Mena Massoud) dan rekan monyetnya, Abu, bertemu dengan Putri Jasmine (Naomi Scott) di suatu pasar riuh di Agrabah. Jasmine yang tengah menyamar untuk melihat kondisi langsung rakyatnya, terlibat pada insiden pencurian, suatu yang tak asing lagi untuk Aladdin. Di titik itulah mereka menjalin kontak singkat yang kelak membawa keduanya pada romansa dongeng 1.001 malam Arabia.

Guy Rithcie, sutradara di balik RocknRolla (2008), The Man from U.N.C.L.E (2015), memberikan sentuhan dengan menghadirkan karakter baru, seperti Dalia (Nasim Pedrad), pelayan pribadi Jasmine. Ia juga memberikan adegan Jasmine untuk bernyanyi pada judul lagu Speechless meski tampak hanya sekadar tempelan demi mempertegas kesan pesan feminisme pada versi remake ini. Terasa seperti pada salah satu scene Avengers:

Endgame bagian akhir yang mempertontonkan para perempuan jagoan sama-sama menyerang bala tentara Thanos.

Namun, ada juga yang menarik, ketika momen Aladdin saat menjadi alternya, Pangeran Ali dari Ababwa, yang hendak melamar Jasmine. Bagaimana suatu pernikahan hanyalah sebatas 'membeli' mempelai perempuan dengan mahar.

Ritchie dan August sepertinya memberikan proyeksi ketika suatu kultur monarki yang patriarkat ingin didobrak oleh Jasmine dengan keinginannya menjadi Sultan pada suatu masa nanti, sebagai suksesor sang ayah (Navid Negahban). Andai saja Ritchie mau menggali lebih jauh ide ini. Sayangnya, itu juga sebagai sebatas bumbu untuk memberi rasa baru pada menu lama untuk memelihara kisah klasik para putri Disney. Jafar (Marwan Kezari) juga agaknya tak sebegitu maniak seperti versi orisinalnya. Ia hanya cukup untuk memberi porsi sebagai wazir antagonis yang berkhianat pada Sultannya.

Sementara itu, Will Smith lebih memberikan persona ketika ia berwujud manusia, ketimbang jadi raksasa biru. Apalagi, ketika ia bernyanyi, kurang bisa dinikmati itu. Karakter Jin yang memang banyak omong juga tampaknya tidak begitu mengimpresi, malah terkesan 'gagal' memberi kedongkolan untuk mengantar punchline.

Aladdin mungkin saja memang untuk para penonton generasi saat ini yang tak bisa menikmati versi orisinalnya. Untuk tetap menjaga warisan klasiknya, tentu diberikan komodifikasi sehingga laba tetap terkumpul dengan gelontoran dana rumah produksi yang berlimpah. Termasuk memberi bumbu baru pada theme song A Whole New World yang ikonik dan lifetime untuk dinyanyikan dengan muram oleh sosok abad ini, Zayn Malik, berduet Zhavia Ward.  

Ya, memang tidak ada yang bisa diekspektasikan lebih untuk anggota Disney's Princess ini. Aladdin (2019) mungkin cukup untuk memenuhi ekspektasi ketika kita melihat trailernya yang sempat menjadi perbincangan para pencinta film. Namun, rasa-rasanya tak cukup melampaui Aladdin (1992). (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More