Sabtu 25 Mei 2019, 20:33 WIB

Mentan Amran Optimistis Program Serasi Sejahterakan Petani

mediaindonesia.com | Ekonomi
Mentan Amran Optimistis Program Serasi Sejahterakan Petani

Dok Kementan
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat meninjau dua lokasi lahan rawa di Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalsel, Sabtu (25/5).

 

KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) optimistis program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi) di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) sesuai harapan.

Untuk memastikannya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, Sabtu (25/5), meninjau dua lokasi lahan rawa di Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalsel yang termasuk dalam program Serasi.

Lokasi pertama yang dikunjungi Amran adalah lahan rawa yang ada di Desa Tumih, Kecamatan Wanaraya. Di sini ia meninjau areal pembuatan tanggul dengan brigade alat excavator.

Kepada operator excavator, Mentan berpesan agar bekerja keras dan memanfaatkan alat berat dengan maksimal. Mengingat Kabupaten Batola
adalah salah satu daerah yang terbesar mendapatkan dana program ini, yakni Rp200 miliar lebih. Dan saat ini, alokasi program Serasi di Batola seluas 56.042 hektare.

"Kita ingin menggerakkan pertanian secara modern sesuai yang diharapkan Bapak Presiden. Karena kita ini bekerja bukan untuk ketersediaan pangan di Kalsel saja, tetapi untuk Indonesia," ujar Amran dihadapan Komandan Korem (Danrem) 101/Antasari Kolonel M Syech Ismed yang membantu pengamanan mekanisasi pertanian di Batola.

Lokasi berikutnya yang dikunjungi adalah Desa Kokida, Kecamatan Barambai. Di sini Mentan berbincang dengan petani di Posko Serasi Gapoktan Kokida, yang merupakan satu contoh keberhasilan program Serasi.

Amran memperhatikan dari dekat air mengalir di saluran irigasi yang sudah berfungsi dengan baik. Ia meyakini jika program ini berjalan dengan baik, maka petani bisa untung dua kali lipat. Sesuai dengan mimpi besar yang dicita-citakan pemerintah menyejahterakan petani salah satunya melalui program Serasi.

"Untuk membuat ini semua anda dipungut biaya, ndak?" tanya Amran pada petani.

"Tidak, malah kita dikasih uang untuk operasional pembuatan saluran irigasi," jawab seorang petani, Surono.

Surono mengaku, dengan irigasi yang baik ia optimistis pendapatannya akan meningkat seiring produksi padi yang juga akan terus meningkat.

"Sekarang kita punya varietas baru namanya Inpara 2, yang sudah terbukti produktivitasnya di lahan rawa. Maksimal bisa 6 ton per ha. Bisa, enggak?" tantang Amran.

"Diupayakan, Pak Menteri," jawab Surono pasti.

"Itu baru sekali, kalau bisa tanam tiga kali setahun, berapa kali lipat pendapatan petani meningkat? Terlebih nanti di sini akan mekanisasi semua. Kita transformasi dari pertanian tradisional ke pertanian mekanik," jelas Amran.

Di lokasi yang sama Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy menjelaskan di Kalsel potensi lahan rawa ada sekitar 257.300 Ha. Dari jumlah tersebut yang sudah ada CP/CL (Calon Petani/Calon Lahan) seluas 160.481 ha. Sudah disurvei seluas 43.188 Ha dan sudah didesain seluas 38.121 Ha. Sementara yang dalam proses pekerjaan fisik kontruksi seluas 2.143 Ha.

Dengan program ini, Sarwo Edhy menargetkan lahan yang belum pernah tanam bisa tanam sekali, yang sudah tanam sekali bisa dua kali, yang sudah tanam dua kali bisa dijadikan tiga kali. Sehingga terjadi optimalisasi dan nambah produksi untuk petani.

"Saat ini petani di Barambai, sudah tanam dua kali. Namun tanam pertama dengan menggunakan varietas lokal, produktivitasnya rendah yaitu 1,5-2 ton/Ha. Sementara tanam kedua dengan varietas unggul, produktivitas naiknya 3-4 ton/Ha," jelas Sarwo Edhy.

Rendahnya produktivitas pada tanam pertama juga disebabkan suplai air ke sawah sangat kurang. "Dengan Program Serasi, diharapkan masalah air dapat diatasi, begitu juga bibit," harap Sarwo Edhy.

Kegiatan Optimasi Lahan Rawa
Program Serasi bertumpu pada sejumlah kegiatan. Di antaranya pembuatan polder keliling dan tanggul pada saluran tersier dengan menggunakan excavator, normalisasi kanal sekunder pada daerah irigasi rawa dengan menggunakan excavator dan pembuatan saluran tersier baru untuk membawa air hingga ke tengah lahan.

Program ini juga melibatkan penggunaan alat mesin pertanian (alsintan). Seperti traktor roda 2, traktor roda 4 dan bulldozer D21 yang didesain khusus untuk lahan rawa untuk proses pengolahan lahan.

Selain itu, juga dilakukan langkah menaikkan ph tanah dengan menggunakan berbagai teknologi. Di antaranya penggunaan amelioran kapur pertanian dan mikroba tanah. Juga dilakukan pemanfaatan decomposer hasil riset Balittra untuk mempercepat proses penguraian sisa-sisa rumput belukar yang dibersihkan.

"Sehingga tidak diperlukan pembakaran. Dan penggunaan benih resisten genangan dan kemasaman, seperti Inpar," tuturnya.

Pola optimasi lahan rawa yang dilaksanakan Kementan ini telah terbukti berhasil membalikkan kondisi rawa yang suram, menjadi harapan sumber penghasil pangan masa depan.

Direktur Perluasan dan Perlindungan Lahan Indah Megawati menambahkan, Kementan tahun ini melalui program Serasi, akan mengoptimalkan lahan rawa dan pasang surut seluas 500.000 Ha di enam provinsi. Yaitu Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Lampung, Riau, dan Kalimantan Tengah.

"Semakin banyak provinsi tentunya lebih baik. Jika satu provinsi ada masalah teknis, maka dapat dialihkan kepada provinsi lain, sehingga capaian target lebih luas," jelas Indah.

Baca juga: Toko Tani Indonesia Center Disambut Gembira Warga Bogor

Dilanjutkan Indah, dalam Program Serasi, Kementan juga melibatkan TNI AD. Peran dan fungsi TNI dalam pendampingan pelaksanaan kegiatan antara lain mengkoordinasikan peran serta Babinsa dalam kegiatan yang dilaksanakan petani.

Selain itu, TNI akan membantu pelaksanaan SID dalam hal sosialisasi kegiatan dan mendampingi dalam proses survey lapangan. Mendampingi proses pengerjaan fisik di lapangan.

"TNI juga akan membantu menyampaikan laporan perkembangan kegiatan dan memastikan semua spesifikasi pekerjaan telah telah terlaksana dengan rencana," pungkasnya. (X-15)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More