Minggu 26 Mei 2019, 02:40 WIB

Ekses akibat One Way Tol telah Diantisipasi

Rizky Noor Alam | Weekend
 Ekses akibat One Way Tol telah Diantisipasi

MI/PIUS ERLANGGA
Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan RI, Budi Setiyadi

SEPERTI yang selalu terjadi setiap tahun, manajemen arus mudik ialah pekerjaan besar bagi pemerintah. Terlebih jumlah pemudik yang terus meningkat. Tahun ini Kementerian Perhubungan memprediksi jumlah pemudik pada tahun ini akan meningkat 6% dari tahun lalu. Diperkirakan jumlahnya mencapai 23 juta orang. Untuk memperlancar arus mudik dan juga umumnya transportasi darat Jawa dan Sumatra, pemerintah pun telah membuka sejumlah ruas tol baru. Total panjang ruas tol Trans-Jawa yang siap dipakai pemudik mencapai 1.000,7 km, sedangkan tol Trans-Sumatra mencapai 503 km. Meski begitu, berbagai permasalahan dan keluhan tetap datang baik dari pemudik maupun pengusaha moda transportasi. Di antaranya ialah soal rencana pemberlakuan one way tol pada ruas Cikampek hingga Brebes Barat dan juga soal kenaikan tiket pesawat.
Lalu apa saja strategi pemerintah untuk mengatasi kendala-kendala itu? Berikut petikan wawancara Media Indonesia dengan Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan RI, Budi Setiyadi, di kantornya berikut ini.

Mendekati musim mudik Lebaran, sejauh ini bagaimana persiapan pemerintah untuk menghadapinya?
Kalau saya bilang dengan persentase, persiapan kita sekarang sudah 60%-70% (per 15 Mei) tinggal try out, melakukan simulasi-simulasi persiapan terhadap beberapa rencana strategi yang akan kita lakukan. Tapi pada aspek koordinasi saya juga masih melakukan koordinasi dengan Korlantas (Korps Lalu Lintas) Polri terutama yang akan nanti di lapangan. Kalau kesiapan secara umum, kita bicara dari aspek sarana dulu. Kalau dari sisi kendaraan bus kita sekarang dalam tahap untuk melakukan ramp check (inspeksi keselamatan) baik di tingkat kabupaten, provinsi, maupun pusat karena bus itu kan banyak. Jadi, ramp check manfaatnya adalah untuk menyiapkan kendaraan-kendaraan ini karena akan dipakai masyarakat sebagai moda transportasi mudik maupun balik karena ibaratnya kalau orang itu sehat dan layak jalan.

Untuk kesiapan infrastrukturnya bagaimana, termasuk terkait proyek pembangunan?
Kalau dari sisi infrastruktur, kemarin kita jalan dengan Pak Menteri Perhubungan dan PU-Pera, kita sudah jalan dari Jakarta ke arah Lampung sampai dengan Terbangi Besar dan Kayu Agung. Jalan Tol Sumatra siap walaupun dari Terbangi Besar sampai Kayu Agung nanti masih fungsional, tapi bisa dilalui saat siang hari. Kemudian sekitar jalan tol sampai dengan Pantura bisa dikatakan sedang ada beberapa hal yang diperbaiki dan sudah siap juga. Kemudian jalan alternatif juga karena memang sebagian besar masyarakat yang mudik itu kita lakukan survei untuk sepeda motor, terutama mereka senang melalui jalan alternatif karena mungkin jalannya agak jauh sedikit, tapi sepi dengan view pemandangan yang bagus.

Kemudian dari sisi kelembagaan institusional, biasanya mudik adalah uji coba bagaimana koordinasi dari semua kementerian lembaga yang terkait, ada ESDM, Perhubungan, Kominfo, Kemendagri, dan lain sebagainya, itu semua nanti akan turun ke lapangan dan sampai ke tingkat daerah juga. Untuk komunikasi, koordinasi, Pak Menteri Perhubungan sudah melakukan rapat koordinasi dari Bandung, Semarang, kemudian ke arah timur dengan gubernur dan perangkat daerah untuk melakukan komunikasi dan koordinasi.

Lalu bagaimana dengan strategi operasi yang akan diterapkan selama musim mudik nanti?
Kalau untuk strategi, secara umum untuk jalan tol nanti kita akan berjenjang, sekarang yang sedang dilakukan adalah penghentian pembangunan (proyek Kereta Cepat, Tol Layang Cikampek, LRT Jabodebek) mulai dari H-10 sampai H+10. Kemudian selain itu, sekarang sedang mengembalikan kapasitas jalan yang tadinya 4 lajur menjadi 3 lajur karena pembangunan sekarang sedang proses pengembalian menjadi 4 lajur dan sedang dilakukan proses overlay oleh Jasa Marga. Kemudian yang dilakukan berikutnya adalah pemindahan gate Tol Cikarang Utama ke arah Bandung dan Cikampek. Tadinya bisa menjadi problem kemacetan karena antrean untuk arah Bandung dan Cikampek menjadi satu, sekarang sudah dipecah.  

Untuk contra flow pasti nanti akan dilakukan, tapi sangat dinamis tergantung kebutuhan dan one way ini adalah uji coba karena one way di 2019 ini memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan 2017 dan 2018 yang kalau sebelumnya itu pendek dan tidak pernah disampaikan kepada masyarakat. Kelebihan di 2019 adalah waktunya ditentukan, rutenya pun sudah ditentukan dan jamnya sudah ditentukan termasuk kilometernya. Jadi, mulai tanggal 30, 31, 1, dan 2 untuk yang arus mudik. Untuk jamnya akan berlaku 24 jam untuk ruasnya dari kilometer 29 sampai kilometer 262 (Brebes Barat), itu mobil yang dari Semarang akan lewat Pantura susuri terus sampai arah Jakarta.

Menhub sebelumnya sudah menyebutkan prediksi kenaikan pemudik yang tahun ini menjadi 23 juta orang. Dari jumlah itu sebarannya bagaimana?
Jabodetabek saja kenaikan perjalanan pemudik itu sekitar 14,9, jadi hampir sekitar 15 jutaan. Kalau untuk Bandung Raya pemudik itu berdasarkan survei yang dilakukan oleh Badan Litbang Kementerian Perhubungan sekitar 2,5 juta dan wilayah Banten sekitar 700 ribu. Pasti setiap tahun akan terjadi kenaikan, apalagi sekarang infrastruktur sudah terbangun dengan baik dan di Sumatra sudah ada tol juga.

Apakah hitungan prediksi jumlah pemudik tersebut sudah termasuk dengan prediksi penambahan dari masyarakat yang beralih ke moda transportasi lain akibat mahalnya harga tiket pesawat?
Sudah, jadi kita dengan kondisi sekarang ini, infrastruktur sudah berjalan dengan bagus. Jadi, kalau dari Jakarta mau ke Solo atau Semarang itu sudah mulai menggunakan jalan tol. Karena masyarakat selain ingin mencoba (tol baru), mereka juga bisa menghitung kalau dalam satu perjalanan dalam mobil itu jumlah keluarganya bisa 5-6 orang, mungkin masyarakat akan menggunakan mobil untuk ke Semarang atau Solo daripada pesawat. Tapi kalau kita lihat dengan kondisi sekarang, misalnya, di Solo atau Semarang bandaranya ada penurunan, saya kira mungkin ada perubahan perilaku di masyarakat.

Terkait dengan rencana penerapan one way pada tol tersebut, sejumlah asosiasi bus menyatakan penolakannya. Bagaimana Anda menanggapinya?
Saya kira namanya sebuah strategi, rencana, pasti ada kurang lebihnya. Mungkin persepsi para operator bus anggapannya akan mengganggu, tapi kita akan mencoba antisipasi. Toh, kalau memang mungkin akan terganggu saat keluar dari Jakarta menuju Jawa Tengah akan lancar, tapi untuk ke Jakartanya mungkin (terganggu). Tapi Kementerian PU-Pera sudah mengantisipasi dengan menyiapkan infrastrukturnya dengan baik dan mudah-mudahan bisa diantisipasi, kepolisian juga akan lebih banyak petugas yang berjaga di jalan.

Selain di Jawa bagaimana kesiapan mudik di tempat lain, misalnya, Tol Trans-Sumatra?
Untuk Trans-Sumatra kemarin saya sudah sampai Palembang bagus, hanya waktu itu memang ada jalan sedikit rusak dari mulai Palembang, Betung, Bayung Lencir, sampai Jambi ada kerusakan, tapi saya dengar dari Kementerian PU-Pera sudah dilakukan pengurukan dan overlay.

Bagaimana dengan pemudik sepeda motor? Hal-hal apa aja yang sudah dipersiapkan untuk mengantisipasinya?
Pemudik sepeda motor memang dari hasil survei yang dilakukan oleh Badan Litbang Kementerian Perhubungan jumlahnya itu sekitar 1,9 jutaan sekian, mereka rata-rata akan menggunakan jalur Pantura atau menggunakan jalur tengah melewati Bogor kemudian menyambung ke Bandung, kemudian setelah memasuki Jawa Tengah dan melewati Brebes mereka akan masuk ke jalur-jalur alternatif dan itu kita sudah komunikasikan dengan Dinas Perhubungan setempat termasuk koordinasi dengan polres-polres setempat dengan di jalan-jalan alternatif nanti banyak RPBJ (petunjuk jalan) yang kita pasang dan rambu-rambu yang akan kita tambah. Untuk kondisi jalannya bagus, tapi sepi. (M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More