Minggu 26 Mei 2019, 01:00 WIB

Satukan Fesyen dan Pendidikan

Fathurrozak | Weekend
Satukan Fesyen dan Pendidikan

MI/ FATHURROZAK
Nabilah Kushaflyki, 23, mahasiswi Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung

BAJU-BAJU yang bertumpuk di lemari saat pindahan dari Jakarta ke Bandung, membuat mahasiswi Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung ini berpikir ulang terkait dengan kebutuhan dan manfaat barang yang dimilikinya.

Nabilah Kushaflyki, 23, kemudian merelakan koleksi fesyennya itu untuk dibongkar dan dimiliki orang lain. Ia membentuk organisasi nirlaba Sadari Sedari guna memfasilitasi menjual baju bekas yang hasilnya disumbangkan untuk bidang pendidikan. Bersama keempat temannya, ia meraup Rp200 juta melalui acara bongkar gudang Sadari Sedari dan didonasikan ke Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Nurul Ikhsan, lembaga yang menaungi pendidikan anak yatim piatu dan kurang mampu di sekitar kampusnya.

Muda bertemu dan berbincang dengan pendiri Sadari Sedari, organisasi yang telah dirintis sejak Februari tahun lalu, di Kopi Kotaku, Jalan Wijaya, Jakarta Selatan. Apa saja rencana, pandangannya terhadap jalur alternatif yang ditawarkannya yang menerjang laju industri fesyen, dan mengurangi limbah industri tekstil, sumbangsih kecil mereka terhadap keberlanjutan lingkungan, dan memberi dampak untuk kegiatan pendidikan, simak petikan wawancaranya.

Bagaimana saat itu memandang jual baju sebagai solusi?
Di Bandung, ketika ngekos dengan kamar lebih kecil, beres-beres lemari, banyak baju dari Jakarta yang masih ada mereknya, masih ada yang bagus, dan jarang dipakai. Menurutku ini suatu yang bermasalah, tapi kok belum pernah dibahas. Aku menyortir sampai satu boks kontainer dari kosan doang, kalaupun disumbangin, item-item ini terlalu fashionable, jadi tampaknya enggak tepat sasaran, biasanya yang dibutuhkan ialah yang nyaman dan layak.

Di sisi lain, pendidikan jadi minat personalku, selalu memikirkan  ada anak-anak jalanan yang putus pendidikan karena tidak berkecukupan, padahal pendidikan hak semua orang. Meski banyak kendala untuk pendidikan menyeluruh, dari kurangnya tenaga pengajar, fasilitas, dan akses transportasi.

Kemudian dari masalah pakaian ke pendidikan, berpikir apa yang bisa diberikan ke masyarakat, yang mudah diterima. Setelah menelusuri seluk-beluknya, dan belajar waste is resource di mata kuliah pengelolaan sampah, kalau di Jepang disebutnya pengelolaan sumber daya. Dari ide itu, aku buat Sadari Sedari, limbah pakaian adalah resource dan keuntungannya bisa untuk pendidikan. Kami berfokus pada dua isu, limbah tekstil dan pendidikan kreatif.

Jadi, kuliahmu memengaruhi pandanganmu?
Karena dipelajari di kuliah, dari kegelisahan pribadi, dan tampaknya semua orang di ibu kota, seperti kasus yang aku alami, punya baju berlebihan banyak banget. Di teknik lingkungan, aku belajar mengenai sampah, bagaimana dalam sehari kita bisa menghasilkan banyak sampah dari yang kita konsumsi, dari makanan dan kemasan. Tampaknya kita enggak butuh barang begitu banyak dan masih bisa hidup nyaman dengan secukupnya, asalkan fungsinya masih berjalan. Malahan, kalau terlalu banyak memiliki barang bisa jadi insecure, merasa ini-itu kurang bagus. Aku juga mulai belajar dan sadar, yang sudah dibutuhkan itu sebenarnya sudah terpenuhi atau belum, pelan-pelan pola hidup berpindah, meski belum sampai yang zero waste atau minimalis.

Seperti apa bentuk nyata solusi Sadari Sedari?
Kita sadar harus start small, pandanganku, banyak cara untuk perubahan, dari diri sendiri dulu, setelah itu menyebarluaskan kepedulian yang ingin diberikan ke masyarakat, lingkaran makin besar. Jadi, awalnya dari koleksi fesyen aku sendiri dan teman-teman dekat. Tahun lalu, terkumpul pakaian banyak banget, dan modal awal dari dana pribadi, untuk pengiriman barang dari donatur ke kita, banyak banget yang kirim. Intinya berarti masyarakat punya banyak baju yang enggak terpakai di rumahnya, satu orang bisa ngirim satu dus.

Kita berperan untuk suatu masalah yang eksis di masyarakat dan memberikan satu solusi. Ide ini muncul ketika kuliah, namanya mahasiswa yang uangnya terbatas, kami berpikir orang juga bisa beramal dengan pakaian mereka. Dari keuntungan penjualan, untuk mendanai pendidikan anak-anak LKSA Nurul Ikhsan, kami memenuhi dana pendidikan, tiap bulan kami kirim uang ke sekolah, baik untuk kebutuhan alat tulis, buku pelajaran, maupun lainnya.

Apa ini sebagai alternatif menerjang fast fashion?
Kita berperan mengurangi fast fashion, thrifting shop menjadi salah satu solusi. Tentang limbah tekstil, ada buyer hierarchy, representasi dari yang harus kita lakukan, paling bawah ialah harus menggunakan pakaian yang kita punya, di atasnya dengan meminjam sehingga kita enggak nambah baju, lalu swap (bertukar), ada satu tempat bisa tukeran baju. Sadari Sedari bekerja sama dengan gerakan tukar baju dari Zero Waste Indonesia, yang pernah diadakan di Jakarta, dan akan dilakukan kembali di Yogyakarta.

Thrift (penghematan) dengan membeli pakaian bekas, menjadi upaya minimalisasi limbah tekstil. Ketika permintaan dari masyarakat ke toko baju berkurang, mereka juga akan mengurangi produksi. Kami menyediakan jasa mengumpulkan dan menjual pakaian bekas untuk mengurangi limbah tekstil.

Ketika thrifting, berarti membeli dari barang punya kita, misalkan masyarakat. Sementara itu, ada juga produk dari merek-merek ternama. Kalau membelinya di lingkaran masyarakat saja, dan tidak ada permintaan, ini akan menekan produksi mereka (merek fesyen). Mungkin enggak bisa langsung, tapi ketika kegiatan ini menjamur, pemasukan pemain industri fast fashion jadi menurun. Begitu kompleksnya industri fesyen dan kita harus lakukan sesuatu, kalau tidak, enggak akan berubah.

Bagaimana rencana jangka pendek Sadari Sedari?
Saat ini memang upaya minimalisasi limbah dengan thrifting. Kami juga melakuan upcycling dengan proyek eksplorasi. Saat ini kami tengah melakukan riset dan pengembangan untuk pakaian bekas yang ‘superjelek’ banget, kita sisihkan untuk mempelajari karakteristik dan perlakuannya berbeda. Ini menjadi hal baru untuk kami dan ingin jadikan materi tersebut menjadi bahan baku. Idenya, dari getah kulit singkong yang bisa menggantikan bahan baku plastik, hanya ini sumbernya dari tekstil.

Tentu kami ingin Sadari Sedari menjadi gerakan nasional, terkait isu fesyen dan pendidikan. Kami ingin juga menambah adik-adik asuh, ke daerah yang benar-benar membutuhkan. Namun, untuk saat ini memang mencari yang dekat terlebih dahulu, kalau sudah cukup mapan, kami ingin memperluas gerakan ini di Indonesia, mungkin juga harus bekerja sama dengan lembaga lain. (M-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More