Kamis 23 Mei 2019, 20:30 WIB

Sang Pejuang Demokrasi tanpa Kompromi telah Tiada

Pengamat Politik President University Muhammad AS Hikam | Politik dan Hukum
Sang Pejuang Demokrasi tanpa Kompromi telah Tiada

Media Indonesia
Mantan Menteri Sekretaris Negara Bondan Gunawan

 

INNA lillahi wa inna ilaihi rajiun Mas Bondan Gunawan Sastrosudarmo, atau yang saya kenal dengan nama akrab Mas Bondan yang telah dipanggil menghadap Allah swt pada Kamis (23/5) pukul 13.00 WIB di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.

Kesedihan tak akan pernah cukup bagi kami, khususnya seluruh anak bangsa pecinta demokrasi yang ditinggalkan beliau. Sosok yang sangat dekat dan setia dengan almarhum KH Abdurrahman Wahid atau yang kerap disapa Gus Dur ini adalah salah sosok seorang pekerja dan pejuang demokrasi tanpa kompromi yang pernah saya kenal, kagumi, akrabi, dan selalu menjadi salah satu sumber kekuatan untuk terus bersemangat.

Pendiri Forum Demokrasi (Fordem) bersama Gus Dur (alm), Rahman Tolleng (alm), dan Marsillam Simanjuntak dll ini juga seorang pribadi santun, tegas, dermawan, dan luas pergaulan. Tokoh GMNI dan alumni Universitas Gadjah Mada ini juga dekat dengan rakyat kecil, mahasiswa, politisi, dan para cendekiawan di dalam seluruh kehidupan dan kariernya.

Mas Bondan lahir pada 24 April 1948, sama dengan saya sebagai Taurian, di Yogyakarta. Saya mengenal beliau karena diajak almarhum Gus Dur untuk bertemu tokoh marhaenis ini ketika Fordem sedang aktif memerjuangkan kembalinya demokrasi konstitusional di Indonesia yang saat itu sedang di bawah rezim otoriter Orde Baru.

Dari Mas Bondan lah saya kemudian dikenalkan dengan para aktivis dan mahasiswa yang tergabung dalam GMNI dan belajar tentang visi marhaenis yang dipahami dan dipraktikkan almarhum secara konsisten dan tanpa kompromi.

Berdiskusi dan bercanda dengan Mas Bondan, bagi saya, adalah bukan hanya mengadu nalar, tetapi juga menimba pengalaman dan roso, sebuah spiritualitas yang beliau ambil dari kebudayaan adiluhung Jawa.

Komplentasi dan konvergensi antara nalar dan roso itu, menurut saya, yang membuat mas Bondan tegar, tegas, tetapi realistis dan tak pernah tampak kecewa dalam kondisi apapun. Beliau menikmati hidup yang tersedia tetapi selalu siap jika terjadi perubahan sedrastis apapun.

Kesan paling mendalam dalam bergaul dengan para sesepuh Fordem adalah kebinekaan mereka dan kemampuan merayakannya. Mas Bondan dengan latar belakang budaya Jawa dan Yogyakarta, dengan sangat enteng dan nyaris tanpa masalah merangkul dan merayakan latar budaya pesantren Gus Dur, intelektual sosialis almarhum Rahman Tolleng dan Pak Marsillam Simanjuntak, dan sebagainya.

Secara pribadi, Mas Bondan juga selalu bersedia melayani tukar pikiran dengan saya yang menurut beliau kadang-kadang terlalu barat dalam pikirannya, terkait masalah demokrasi. Semua bisa bertemu dalam sebuah rajut keindahan berupa tujuan utama, sebuah Indonesia yang demokratis, adil, dan beradab. Karenanya, walaupun beliau tak lagi sering jumpa, namun kehangatan perkawanan kami berdua selalu terjaga,

Saya terakhir bertemu beliau saat sowan di rumahnya, entah bulan apa, tetapi pada 2018. Saya lihat sosok yang selain sehat jasmani juga tetap kritis terhadap situasi negeri.

Baca juga: Saatnya Pemerintah Melakukan Manajemen Politik yang Tepat

Beberapa waktu lalu, sebelum beliau dirawat di RSPAD, saya sempat kirim foto-foto melalui Whatsapp seputar kiprah saya di antara mahasiswa GMNI di Solo. Beliau beri komentar balik: "Kuwi apik, dik. Teruskan saja."

Saya bilang, pertemuan dengan teman-teman mahasiswa GMNI Solo itu mengingatkan apa yg pernah kita berdua lakukan di Jember pada 1990-an, saat ikut mendirikan Komisariat GMNI di IAIN Jember. Mas Bondan tertawa, sambil bilang: "Dhek, jaman semana.."

Mas, selamat jalan ya, salam saya untuk Gus Dur dan Bung Rahman Tolleng. Tetap konsisten bikin diskusi seperti biasa. Insya Allah nanti saya akan wawancara imajiner dengan Anda bertiga, Alfatihah..

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More