Jumat 24 Mei 2019, 03:45 WIB

Gaya tapi Kw

Ronal Surapradja | celoteh
Gaya tapi Kw

MI/Ronal Surapradja
Ronal Surapradja

DULU, saya selalu membaca buku sebelum tidur, tapi sekarang lumayan terbagi waktunya dengan melihat barang di situs belanja online. Zaman sekarang, siapa sih yang tidak melakukannya? he he.

Malam itu, saya tertawa melihat barang yang dijual di situs belanja online asal negeri Tiongkok. Ada sepatu keren Bacenliaga dan tas perempuan Cuggi. Niat abis. Bentuk, logo, dan font merek dibuat mirip dengan aslinya. Mirip, artinya tidak sama, pasti tetap ada bedanya. Terang saja karena itu barang Kw.

Ayo ngaku, pasti punya barang Kw kan? he he. Istilah Kw diambil dari kata 'kwalitas' dan ini bukan kata baku. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang benar itu 'kualitas', bukan 'kwalitas'. Jadi dari istilah Kw pun, itu sudah Kw.

Cara mencarinya gampang sekali. Masuk saja ke pusat perbelanjaan kelas menengah ke bawah atau lihat barang yang dijual di kaki lima. Atau kalau mau lebih simpel, buka saja situs belanja online, di sana pasti ada barang Kw yang dijual.

Cara mengenalinya yang paling gampang tentu saja dari harga. Si tas Cuggi dijual seharga $2-$5, padahal harga barang aslinya $795 atau 159 kali lipat. Setelah harga, tentu saja yang membedakan ialah kualitas barang. Jika kita membeli langsung, tentu kita bisa dengan mudah membandingkannya dengan yang asli.

Namun, jika kita hanya melihat di situs belanja online itu, bisa menjadi hal yang lumayan ‘tricky’. Meski seharusnya tidak terlalu sulit membayangkan kualitas barang yang harganya terpaut jauh tadi. Sudah pasti kualitas barang harga $5 tidak mungkin sama dengan harga $795, bahkan mendekati pun sudah pasti tidak.

Soal produsen, rasanya semua sudah tahu negara mana, he he. Menurut sebuah penelitian, lebih dari 60% barang palsu berasal dari Tiongkok. Di bawahnya ialah Hong Kong, yang juga di bawah kekuasaan Tiongkok, dengan lebih dari 20%.

Jadi, total dua negara itu menyumbang lebih dari 80% barang palsu di seluruh dunia. Yang dirugikan tentu saja negara pemilik merek yang dipalsukan. Peringkat pertama Amerika Serikat, disusul Italia, Prancis, dan Swiss.

Meskipun di negara kita ada produsen barang Kw, tapi tidak dianggap produsen barang Kw yang signifikan. Meskipun begitu, soal jumlah konsumen dan penjual, bisa dibilang masif. Bahkan untuk urusan barang tiruan pun, bangsa kita hanya bisa menjadi konsumen. Sedih.

Lucunya, banyak pengguna barang Kw justru ialah mereka yang tahu membedakan mana barang asli dan bukan. Jadi, mereka memang dengan sadar membeli barang tiruan tersebut.

Hal itu berbeda dengan mereka yang tidak tahu mana barang asli dan tiruan karena mereka membeli berdasarkan kemampuan beli yang rendah dengan niat membeli barang yang murah. Kebanyakan konsumen di negara kita memang sensitif harga, tapi kurang sensitif dengan kualitas. Asal harga murah, kualitas tidak terlalu bagus bukanlah masalah.

Memang, barang tiruan pun ada banyak kelasnya, dari Kw superpremium atau grade ori yang sering juga disebut kloning, Kw super, semisuper, sampai kelas terbawah barang tiruan, yaitu Kw 2. Harga bisa berbeda, dari puluhan juta sampai puluhan ribu, tapi tetap Kw ya tiruan. Palsu.

Membeli barang tiruan bukan hanya dilakukan masyarakat kelas bawah yang memang berdaya beli rendah, mereka yang masuk kategori orang berada pun sering melakukannya. Ada beberapa selebritas di negara ini yang jadi bahan bully-an di medsos karena ketahuan menggunakan barang tiruan.

Jika memiliki barang tiruan, please jangan unggah di medsos karena percayalah ada yang bisa mendeteksi itu barang asli atau bukan. Sebut saja @wristbusters yang pernah nge-gap seorang anak muda dari keluarga Youtuber terkenal yang mengenakan jam tangan supermahal, tapi Kw. Atau @yeezybusta yang bisa mengetahui keaslian sepatu kreasi Kanye West ini hanya dari foto.

Kalau cuma orang biasa yang ketahuan membeli barang tiruan, itu bisa dimaklum. Namun kalau orang mampu, terlebih figur publik, duh enggak kebayang malunya. Eh, jangan-jangan mereka cuek ya? ha ha.

Demi fesyen semua berkompetisi karena kompetisi ialah salah satu sifat purba (primal) manusia. Semua ingin kelihatan keren. Meski dana rakyat jelata, gaya harus seperti raja. Fesyen bukanlah soal kompetisi. Strata mana yang lebih kaya atau lebih keren, itu hanya ilusi tidak tertulis di kepala orang. Jadi, kenapa harus memaksakan diri untuk tampil keren dengan barang Kw? (H-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More