Kamis 23 Mei 2019, 11:15 WIB

Pemerintah Pacu Ekspor Komoditas Pertanian asal Pontianak

Andhika Prasetyo | Ekonomi
Pemerintah Pacu Ekspor Komoditas Pertanian asal Pontianak

Dok. Humas Kementan
Kementan melihat produk-produk ekspor dari Kalimantan Barat

 

KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) melepas ekspor komoditas pertanian asal Pontianak, Kalimantan Barat, senilai Rp24,1 miliar.

Kepala Barantan Ali Jamil menyebut ada lima komoditas yang diekspor yakni karet lempengan ke Tiongkok, India dan Korea Selatan senilai Rp9,1 miliar. Kemudian kelapa bulat tujuan Tiongkok senilai Rp1,4 miliar. Kelapa parut kering ke Brazil, Arab Saudi, Turki dan Polandia senilai Rp2,4 miliar. Lada dikirim ke Vietnam senilai Rp6,2 miliar dan pinang biji tujuan Bangladesh, India, Thailand dan Pakistan senilai Rp4,8 miliar.

Nilai tersebut cukup besar dan diharapkan mampu melampaui kinerja ekspor di tahun sebelumnya. Sepanjang 2018, produk-produk agrikultur asal Pontianak mampu menyumbang devisa sebesar Rp2,8 triliun. Lebih dari separuh jumlah tersebut, yakni Rp1,6 triliun, disumbangkan oleh komoditas karet.

"Karet masih menjadi komoditas ekspor unggulan di Kalimantan Barat. Tahun lalu saja karet menyumbang lebih dari setengah total nilai ekspor komoditas pertanian," ujar Ali melalui keterangan resmi, Kamis (23/5).

Baca juga: Jelang Lebaran, Kementan dan TNI AL Lakukan Patroli Laut

Ia pun bangga karena karet yang diekspor dari Pontianak bukan dalam bentuk mentah melainkan sudah menjadi produk turunan dengan nilai tambah.

"Ada banyak perusahaan pengolahan karet Kalimantan Barat dan itu sangat membantu proses nilai tambah produk tersebut," tuturnya.

Hal itu dinilai sangat bagus karena sesuai kesepakatan International Tripartite Rubber Council (ITRC) sejak 1 April hingga 31 Juli 2019 mendatang. Indonesia berkomitmen untuk mengurangi ekspor karet mentah sebesar 240 ribu ton untuk mendongkrak harga karet di level global dari US$1,4 menjadi US$2 per kilogram.

Karena sudah memiliki cukup banyak industri pengolahan, lanjutnya, Indonesia tidak perlu khawatir dengan kebijakan pembatasan ekspor karet.

"Pengurangan ekspor karet mentah tidak akan banyak berpengaruh pada petani. Kita punya banyak perusahaan dalam negeri yang menyerap karet mentah untuk diolah sebelum diekspor. Justru hal ini dapat mendatangkan nilai tambah dan meningkatkan daya saing karet Indonesia," tambahnya.

Berdasarkan data FAO, Indonesia merupakan negara produsen karet terbesar kedua setelah Thailand, dengan produksi mencapai 3.629.544 ton.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More