Kamis 23 Mei 2019, 08:51 WIB

Polisi belum Pastikan Ada 6 Korban Tewas Pada Kerusuhan 22 Mei

Ferdian Ananda Majni | Politik dan Hukum
Polisi belum Pastikan Ada 6 Korban Tewas Pada Kerusuhan 22 Mei

Antara
Polisi menghadang massa perusuh di sekitaran wilayah MH. Thamrin, Jakarta, Kamis (23/5).

 

TERKAIT pernyataan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan bahwa ada enam korban meninggal dunia, dan 341 orang mengalami luka-luka akibat kericuhan aksi 22 Mei, Polda Metro Jaya belum punya konfirmasi terhadap jumlah korban jiwa dan luka-luka. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan pihaknya memastikan hanya terdapat korban yang mengalami luka-luka tusuk akibat insiden yang berawal dari unjuk rasa di depan Gedung Bawaslu Jakarta.

"Ada yang luka tusuk itu, ada empat, jangan salah," kata Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (22/5).

Argo tidak menjelaskan secara rinci kondisi terkini keempat korban yang mengalami luka tusuk tersebut. Apalagi membenarkan kematian mereka setelah menjalani perawatan di rumah sakit seperti disampaikan Anies Baswedan.

"Kabiddokes akan cek itu. Kan massa berbaur di situ. Sekarang banyak senjata ilegal beredar, belum bisa mengetahui (korban tewas) secara pasti di situ," lanjutnya.

Argo menegaskan, pihaknya telah melakukan upaya yang sangat persuasif dan preventif dalam membubarkan massa yang berada di luar waktu yang telah ditolerir.

"Ngak ada. Polisi hanya gas air mata, tidak pakai peluru tajam," pungkasnya.

Senada disampaikan, Kadiv Humas Mabes Polri M Iqbal mengatakan, pihaknya memastikan tidak membekali petugas pengamanan di lapangan dengan dengan senjata api lengkap. Pasalnya, polisi di lapangan hanya dibekali tameng dan gas air mata.

"Masih dicek (korban meninggal). Yang perlu disampaikan bahwa aparat keamanan dalam PAM unjuk rasa tidak dibekali oleh peluru tajam dan senjata api," katanya di Mabes Polri, Rabu (22/5).

Dia menambahkan, polisi telah menginggatkan terkait adanya pihak ketiga yang memanfaatkan kondisi ini dan menjadi chaos di sejumlah wilayah.

"Kita sudah sampaikan jauh-jauh hari bahwa akan ada pihak ketiga yang akan memanfaatkan situasi unjuk rasa ini," sebutnya.

Ia juga meminta masyarakat agar tidak terprovokasi.

"Masyarkat tidak terprovokasi. Polri sudah mengidentifikasi bahwa pelaku provokator pertama warga dari luar Jakarta," lanjutnya.

Saat ini aparat kepolisian sudah mengamanankan lebih dari 58 orang yang diduga pelaku provokator dan melakukan tindak pidana lainnya.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengungakapkan bertambahnya jumlah korban luka-luka akibat aksi demonstrasi hari ini menjadi 341 orang. Hal itu disampaikannya pada saat meninjau kondisi unjuk rasa di depan Hotel Pullman, Bundaran HI, Rabu (22/5) malam.

Dari jumlah tersebut baru 271 korban yang masih didata. Sementara korban luka ringan berjumlah 21 orang, luka berat 16 orang, non trauma 33 orang. Jumlah korban meninggal sampai saat ini tercatat tetap berjumlah enam orang. Korban luka 341 orang yang ditangani di RS Pelni ada 78 orang, di RS Abdi Waluyo 2 orang, RS Tarakan 122 orang, RSAL Mitoharjo 2 orang, RS Budi Kemuliaan 84 orang, RSUD Tanah Abang 28 orang, dan RSCM 6 orang.

"Sedangkan di posko lapangan 25 orang. Itu update per jam 8 malam tadi," kata Anies.

baca juga: Pemerintah Batasi Penggunaan Media Sosial

Hingga kini Anies belum mau membuka seluruh identitas korban meninggal akibat rusuh aksi demonstrasi.Penyebabnya, keluarga dari tiga korban meninggal hingga saat ini sedang berada di luar kota. Dinas Kesehatan DKI maupun pihak RS masih mengupayakan untuk mengabarkan kondisi korban kepada pihak keluarga. Ia pun tidak ingin mendahului pengumuman informasi korban meninggal dunia sebelum pihak keluarga mengetahui hal tersebut.

"Kita ingin menghormati keluarga. Karena masih ada keluarga yang belum tahu karena masih di luar kota. Jadi tunggu mereka tahu dulu baru kita umumkan," terangnya. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More