Kamis 23 Mei 2019, 08:50 WIB

Massa dan Aparat Diminta Menahan Diri

Ferdian Ananda Majni | Politik dan Hukum
Massa dan Aparat Diminta Menahan Diri

MI/ROMMY PUJIANTO
Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik

 

KOMISI Nasional Hal Asasi Manusia (Komnas HAM) menyayangkan aksi penyampaian pendapat yang dilakukan pada 21 Mei 2019 berakhir dengan bentrokan antara aparat keamanan dan massa. Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik menyatakan bentrokan tidak perlu terjadi apabila seluruh pihak menahan diri.

"Seharusnya penyampaian pendapat yang dilindungi undang-undang dilakukan dengan cara-cara yang baik. Massa aksi dengan aparat keamanan seharusnya bisa bekerja sama," katanya saat mengunjungi korban bentrokan di Jakarta, kemarin.  

Menurutnya, seharusnya bentrokan tersebut tidak perlu terjadi apabila masing-masing pihak menghormati kesepakatan. Saat itu massa peserta aksi dan kepolisian telah sepakat bahwa aksi hanya sampai pukul 21.00 WIB atau setelah salat tarawih. Namun, di luar dugaan kericuhan pecah jelang dini hari.

"Menurut aturan kan jam enam, lalu ada deal dengan pimpinan lapangan aksi, polisi memberikan diskresi sampai selesai tarawih itu aman, tidak terjadi apa-apa. Setelah itu baru terjadi benturan, nah ini harus diselidiki," lanjutnya

Bila ditemukan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan pihak keamanan, Ahmad Taufan mengaku akan berkoordinasi dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. "Iya nanti akan ada, saya belum (koordinasi) ya. Mereka lagi sibuk," lanjutnya

Komnas HAM memastikan secepatnya bisa mengumpulkan fakta dan mengungkapkan pelanggaran yang terjadi di unjuk rasa 22 Mei tersebut. Ketika ditanya apakah sudah ada dugaan terjadi pelanggaran hak asasi dalam kejadian itu, Taufan mengatakan pihaknya belum bisa memastikan karena kejadian tersebut harus dilihat secara keseluruhan. "Kami akan meminta keterangan dari korban, juga dengan pimpinan aparat keamanan kita," ujarnya.

Taufan menjelaskan kebanyakan menjadi korban tembakan peluru karet dan gas air mata yang dilakukan petugas keamanan untuk meng-alau massa. Pasalnya, kericuhan tidak terhindarkan di beberapa titik lokasi.

"Kemungkinan terkena peluru karet jarak dekat, bukan jauh. Kalau peluru tajam, kita belum tahu, yang sekarang kita belum bisa karena belum autopsi," jelasnya.

Berdasarkan data yang dipasang pengelola RSUD Tarakan, Jakarta, terdapat 140 pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut. Seluruhnya laki-laki dengan usia yang beragam. Yang termuda berusia 15 tahun. Sebagian besar pasien sudah diperbolehkan pulang.

Sementara itu di RS Budi Kemuliaan, setidaknya 74 orang mendapatkan perawatan akibat kerusuhan yang terjadi di Tanah Abang. (Fer/Ant/P-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More