AJ Jonathan & Henry William Menggarap Potensi Besar Industri Gim

Penulis: Tosiani tosiani@mediaindonesia.com Pada: Kamis, 23 Mei 2019, 07:40 WIB Indonesia 2018
 AJ Jonathan & Henry William Menggarap Potensi Besar Industri Gim

MI/ TOSIANI
AJ Jonathan & Henry William Menggarap Potensi Besar Industri Gim

Menyukai gim dan sadar akan peluang industrinya yang besar, dua sahabat ini mendirikan Semisoft yang kini terkenal dengan produk gim Legrand Legacy.

PULUHAN orang itu asyik menatap layar komputer masing-masing. Sesekali terdengar canda di antara mereka, tetapi selanjutnya lebih banyak serius dengan program-program gim.

Sama sekali bukan warnet berisi para pemain gim, itulah suasana di kantor Semisoft di Mangga Dua, Jakarta. Berdiri sejak 2015, perusahaan atau studio pengembang gim daring itu terkenal dengan gim Legrand Legacy. Dirilis awal 2018, sampai sekarang gim tersebut banyak direkomendasikan pemerhati gim.

Konsep pertualangan yang berdasar dari perjalanan seorang anak muda dengan kekuatan super, tetapi menderita amnesia, dianggap cukup menarik. Versi yang terus dikembangkan, yakni awalnya hanya untuk Microsoft Windows dan kini tersedia pula untuk perangkat konsol Nintendo Switch, membuat gim tersebut makin populer.

Legrand Legacy nyatanya juga refleksi perjalanan panjang dua pendiri Semisoft, AJ Jonathan dan Henry William Winata. Ditemui di kantor Semisoft, beberapa waktu lalu, keduanya mengungkapkan sudah keranjingan gim sejak kecil.

"Adapun inspirasinya datang dari gim yang pernah dimainkan kami sewaktu masih di sekolah dasar (SD), yakni Final Fantasy. Cerita dua gim ini nyaris mirip, hanya dibedakan variasi karakter tokohnya," tutur Jonathan.

Meski keduanya merupakan penggemar gim, ide untuk membuat gim datang dari William yang seusai sekolah mejalani profesi sebagai pebisnis. Jonathan saat itu sebenarnya sudah cukup mapan dengan profesi sebagai komposer musik.

Kembali ke Tanah Air setelah lulus dari sebuah sekolah musik di Singapura, Jonatan menangani penyanyi dan musikus yang cukup terkenal, di antaranya Tulus dan Alika.

Jalan pertemuannya dengan William mulai terbentuk di 2012 ketika dirinya terjun ke industri gim sebagai pengisi musik dan pembuat suara-suara tertentu untuk gim. William kemudian mengajaknya mendirikan Semisoft.

"Industri gim amat menjanjikan karena pasarnya yang besar, bahkan tiga kali lebih besar dari market film," ujar William. Demikian penilaian pria berusia 34 tahun itu berdasarkan sebuah riset lembaga internasional.

Peluang pasar industri gim pun dilihatnya sangat besar di Indonesia karena jumlah perusahaan pengembang gim yang masih dalam hitungan jari, bahkan menurut William kurang dari lima perusahaan. "Karena itu, Semisoft bersaing dengan developer gim dari luar negeri. Produknya juga banyak dipasarkan di luar negeri melalui publisher dan partnership di berbagai negara," tambahnya.

Ia menjelaskan, hingga saat ini Legrand Legacy sudah terjual hingga sekitar 10 ribu unit di PC dan sekitar 5.000 unit untuk Nintendo Switch. Adapun modal atau biaya produksi pembuatan gim itu selama lebih dari tiga tahun mencapai angka sekitar Rp10 miliar. "Sekarang kita masih dalam proses untuk balik modal," imbuh William.

Kendala SDM

Perjalanan Jonathan dan William membuat Legrand Legacy bukanlah hal yang mudah.

Mereka membutuhkan lebih dari tiga tahun hingga akhirnya gim itu siap dirilis.

Jonathan menjelaskan, jika kurangnya sumber daya manusia yang berpengalaman membuat waktu pengerjaan gim menjadi lama. Tenaga ahli pembuat gim, diakuinya, lebih banyak di Amerika, Jepang, dan Eropa.

Di negara itu, studio pengembang gim umumnya hanya butuh waktu 1,5 tahun membuat gim console.

Jonathan menjelaskan, dengan belum tingginya jam terbang para pembuat gim, banyak kesalahan kecil dibuat. Persoalan makin rumit karena kesalahan itu baru bisa diketahui belakangan.

"Pernah sudah kita bikin semua lengkap dengan sistem dan kode segala macam, ternyata di bagian battle banyak bug. Artinya, ada kesalahan desain, program tidak bisa jalan. Kita perbaiki tidak bisa karena orang yang menulis kode sudah tidak bekerja pada kita lagi sehingga harus kita lakukan pemrogaman lagi dari awal," tutur Jonathan yang bertanggung jawab untuk seluruh produksi, mulai pemrogaman, artistik, hingga audio.

Gim yang dibuat Semisoft, jelasnya, bertipe GRPG atau based compact. Gim jenis itu memiliki karakter bergerak agar menyerang secara bergantian.

Sekarang, gim semacam itu diakui Jonathan sudah sangat jarang sehingga kerap dianggap sudah kuno. Bahkan, jika anak kecil diberi gim based compact ini kemungkinan akan bingung. Namun, gim ini tetap mempunyai penggemarnya sendiri, termasuk di Amerika Serikat dan Eropa.

Pasar yang beragam juga membuat Semisoft harus menyiadakan beragam versi bahasa.

"Kebanyakan pemain kita orang Amerika, kedua Eropa. Tapi karena gim kita bergantung pada cerita, harus sediakan sebanyak mungkin bahasa. Orisinalnya kan bahasa Inggris, tapi kita sudah translate ke bahasa Mandarin, Jepang, dan Korea," katanya.

Saat ini Semisoft masih dalam proses untuk melakukan porting atau pemindahan ke Playstation 4 dan X Box. Semisoft sementara ini masih fokus di gim console. Namun, tidak menutup kemungkinan akan membuat gim untuk skala smartphone di masa mendatang. (M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More