Kewajiban Meneladani Nabi Muhammad

Penulis: Quraish Shihab Pada: Kamis, 23 Mei 2019, 04:00 WIB TAFSIR AL-MISHBAH
Kewajiban Meneladani Nabi Muhammad

MI/SENO
Quraish Shihab

Tafsir Al Mishbah Eps.19

 

SURAH Al-Fath ayat 8 merupakan penjabaran ayat-ayat terdahulu yang antara lain berbicara mengenai kemenangan yang dianugerahkan Allah kepada Rasulnya.

"Sesungguhnya Kami mengutusmu (wahai Rasul) sebagai saksi atas umatmu bahwa kamu telah menyampaikan, juga sebagai penjelas bagi mereka tentang apa yang dengannya Kami mengutusmmu kepada mereka, juga sebagai pemberi kabar gembira berupa surga bagi siapa yang menaatimu, juga sebagai pemberi peringatan berupa azab dunia dan akhirat bagi siapa yang mendurhakaimu."

Allah lalu meneruskan firmannya, "Agar kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menolong Allah dan menolong agama-Nya, mengagungkan Allah, dan bertasbih kepada-Nya, di pagi dan petang hari."

Dalam ayat tersebut diterangkan Nabi Muhammad SAW sebagai syahidan atau saksi. Kesaksian itu bisa diterjemahkan dengan mata kepala, bisa pula dengan pengetahuan. Saksi berfungsi mendukung kebenaran yang benar dan menampik kebenaran yang dianggap benar oleh orang yang salah.

Jadi, Nabi Muhammad SAW ialah saksi kebenaran mengenai keesaan Allah. Dalam fungsinya sebagai saksi, kita bisa melihat benar atau tidaknya perbuatan umat manusia melalui perbuatan Nabi Muhammad SAW. Itu karena sebagai Rasul, Nabi Muhammad bisa membenarkan suatu perbuatan ataupun menyatakannya keliru.

Pesan ayat itu ialah Nabi Muhammad SAW menjadi tolok ukur. Jika perbuatan kita sejalan dengan perbuatannya, itu merupakan kebenaran. Sebaliknya, jika apa yang kita perbuat tidak sejalan dengan Nabi, itu perbuatan keliru.

Pembuktian kesaksian Nabi Muhammad SAW itu bisa terjadi di dunia, bisa juga terjadi di hari kemudian. Allah juga berfirman, "Kami jadikan kamu umat pertengahan supaya kamu menjadi saksi atau syahidan bagi umat lain." Maksudnya ialah agar semua umat Islam bisa menjadi saksi dalam artian menjadi teladan.

Karena itu, kita punya kewajiban menjadi teladan untuk sesuatu yang indah dan baik yang teladannya bersumber dari Nabi Muhammad SAW. Sebagai umat, kita patut meneladani Rasul. Sebagai syahidan, kita harus menampilkan yang terbaik karena menjadi teladan umat yang lain.

Tak hanya itu, Rasulullah juga diutus sebagai pemberi berita gembira dan memberi peringatan. Sebagai pembawa kabar gembira Nabi diutus untuk jadi saksi keesaan Allah agar kita meyakini Allah dan Rasul-Nya.

Allah juga berpesan kepada seluruh umat manusia untuk bertasbih kepada-Nya. Maka dari itu, Nabi Muhammad berkata, "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah." Ucapan dalam kalimat syahadat itu selalu-diingatkan Nabi Muhammad. Mengapa ia mengucapkan itu berulang-ulang?

Nabi memerintahkan kita agar senantiasa memperbarui iman. Sebabnya, keyakinan tidak selamanya bisa utuh dan bisa mengalami erosi. Banyak hal atau godaan dalam kehidupan yang bisa membuat kita lengah. Banyak godaan yang bisa menjadi debu-debu atau kotoran dalam keyakinan kita.

Percaya kepada Allah SWT dan Rasul tak lain ialah untuk mendukung agama-Nya dan untuk mengagungkan Allah. Karena itu, kita tidak boleh melecehkan Allah dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Karena itu pula, kita tidak dianjurkan mengucapkan kalimat-kalimat Allah di tempat yang tidak wajar atau tidak pantas. (Dhk/H-3)

 

TAFSIR AL-MISHBAH

Read More

CELOTEH

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Selasa, 25 Jun 2019 / 20 Ramadan 1440 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : 04:26 WIB
Subuh : 04:36 WIB
Terbit : 05:52 WIB
Dhuha : 06:21 WIB
Dzuhur : 11:53 WIB
Ashar : 15:14 WIB
Maghrib : 17:47 WIB
Isya : 19:00 WIB

PERNIK

Read More