Minggu 19 Mei 2019, 04:00 WIB

Ogah Pensiun

Ronal Surapradja | celoteh
Ogah Pensiun

MI/ROMMY PUJIANTO
Ronal Surapradja

“I’m easy like a Sunday morning” itulah yang menjadikan minggu pagi, salah satu waktu kesukaan saya untuk menulis. Seperti biasa, saya tidak akan mulai menulis sebelum menemukan musik yang tepat sebagai teman.

Sempat terdiam beberapa lama memandangi lemari berisi koleksi musik, pilihan pun dijatuhkan kepada Egypt Station album terakhir atau ke-17 dari salah satu pahlawan musik saya, Paul McCartney.

Rentang karirnya sudah lebih dari lima puluh tahun, sejak era The Beatles, Wings (band bentukannya setelah The Beatles bubar), hingga solo karir.

Susah dicari lawan yang sepadan dengannya. Bayangkan saja dalam sepuluh tahun terakhir saja disela tour dunia yang tak berkesudahan, masih mengeluarkan tiga album contemporary pop khas Paul, satu album musik elektronik, dan satu album musik klasik.

Di album terakhirnya ini suaranya terdengar tua, namun nyanyiannya masih merdu. Power bernyanyinya nya tidak sekuat dulu, tapi di bawah intruksinya penonton satu stadion bisa ikut bernyanyi. Saya adalah salah satu yang ikut bernyanyi saat menonton konsernya One on One Tour di Melbourne dua tahun lalu.

Dalam sebuah penelitian yang dimuat dalam Journal of Psychological Science in the Public Interest (2018) dijelaskan mengenai rentang kognisi atau sebaik apakah otak kita berfungsi dalam berbagai usia. Hasilnya adalah aktifitas otak berfungsi dalam mencapai puncaknya di usia 50-an dan akan tetap terjaga hingga usia 90-an.

Namun rata-rata manusia mencapai puncaknya di usia 30 lalu menurun seiring usia dan berhenti di akhir usia 80an.

Dengan kata lain, dalam kondisi terbaik manusia bisa mencapai puncak berkarya tidak hanya saat berusia muda saja tapi bisa dalam berbagai tingkatan usia.

Dulu ketika usia masih jauh lebih muda dibanding sekarang sempat terbayang bahwa saya akan pensiun di usia 40, lalu bersantai menikmati hidup. Tapi nyatanya di tahun ini usia saya akan menginjak 42 dan rasanya belum mau berhenti berkarya.

Masih banyak yang ingin saya lakukan karena masih banyak mimpi yang belum saya wujudkan. Justru di rentang usia yang dulu direncanakan untuk pensiun ini saya malah merasa at my prime condition.

Pengalaman hidup, jam terbang, kematangan berpikir juga kestabilan mental spiritual menjadi alasan kuat bahwa saya akan menunda pensiun atau mungkin malah meniadakan kata pensiun dalam hidup saya.

Setidaknya jika istilah “young genius” tidak bisa saya dapatkan ketika saya muda, semoga sebutan “old master” bisa didapatkan justru ketika saya sudah tidak muda lagi.

Maka muncullah sekarang apa yang disebut generasi nevertirees, yaitu generasi orang-orang yang tidak mau menyerah pensiun meskipun usia-nya sudah tidak muda lagi.

Beruntung dunia kerja saya sebagai seniman tidak mengenal kata pensiun. Selama masih bisa berkarya, usia bukanlah masalah.

Tapi tentu saja tidak semua orang bisa melakukannya. Membangun kompetensi dan jaringan adalah hal yang mutlak dilakukan sejak muda.

Kompetisi akan terus terjadi, terutama dari mereka yang lebih muda tapi akumulasi pengetahuan dan pengalaman adalah kekuatan “para senior” untuk tetap bisa bersaing.

Ingin rasanya seperti Sir Paul di usia 77 tahun masih produktif berkarya dan belum menunjukkan tanda akan pensiun.

Saya tidak bisa membayangkan di usia tua nanti hanya diam tidak melakukan apapun.

Beruntunglah mereka yang mengetahui apa kelebihan mereka dalam hidup yang digunakan sebagai modal dalam berkarya.

Jika belum tahu, maka carilah. Jadilah seperti yang Denis Waitley seorang motivational speaker asal Amerika Serikat tulis dalam bukunya “Chase your passion, not your pension.”

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More