Serda M. Ahlul Firman, Triathlete Berprestasi Angkatan Darat

Penulis: Mediaindonesia.com Pada: Rabu, 22 Mei 2019, 09:35 WIB Politik dan Hukum
Serda M. Ahlul Firman, Triathlete Berprestasi Angkatan Darat

Dok Dispenad
Serda M. Ahlul Firman saat menjadi Juara 1 di Bali Internasional Triathlon 2018.

ADA aura ketenangan dan percaya diri yang kuat terpancar dari sosok pemuda yang kami temui pagi itu. Sejak awal perjumpaan, senyumnya mengembang mengiringi sikap santun prajurit TNI AD bertubuh atletis dengan tinggi 170 cm dan berat 65 kg ini. Serda Muhammad Ahlul Firman, demikian ia memperkenalkan diri. Ia adalah salah satu diantara 32 prajurit TNI AD yang menjadi atlet Triathlon, atau yang lebih dikenal sebagai Triathlete.

Di Indonesia cabang olahraga (cabor) asal Eropa ini memang belum sepopuler olahraga lainnya. Padahal nyatanya cukup banyak putra-putri bangsa yang berprestasi dalam Trilomba yang menggabungkan renang, sepeda dan lari dalam satu kesatuan waktu ini. Persepsi dan kondisi inilah yang ingin diubah Firman lewat kesediaannya diangkat sebagai profil Triathlete berprestasi asal institusi TNI AD.

Baca juga: Massa Masih Bertahan di Tanah Abang dengan Petasan

“Banyak masyarakat menganggap Triathlon sebagai cabor yang berat dan membutuhkan biaya yang besar. Lewat kisah saya, semoga masyarakat bisa mengubah pandangannya, sehingga makin banyak yang tertarik untuk menjadi atlet Triathlon,” ujar pemuda kelahiran Palembang 24 April 1997 ini bersemangat.

Ia pun mulai mengurai kisah awal dirinya mengenal olahraga yang sejak tahun 2013 digelutinya itu. Menurut Firman, beragam peristiwa dan keterbatasan mengantarnya berkenalan dengan olahraga yang menantang fisik ini. Anak keempat dari tujuh bersaudara dari pasangan M. Tafik Syafe’i dan Nurbaiti asal Gandus Palembang ini berkata bahwa ia tertarik dengan Triathlon karena basic-nya sebagai perenang.

“Keluarga saya tinggal di tepi Sungai Musi. Waktu kecil saya sering berenang di sana. Orang tua saya suka melarang saya, karena sungai itu besar dan dalam. Padahal, saya ke sungai itu selain bermain juga berniat membantu orang tua. Bapak yang seorang wiraswasta dan ibu saya seorang ibu rumah tangga biasa, seringkali kesulitan memenuhi kebutuhan hidup kami bertujuh. Itulah mengapa sepulang sekolah saya suka ikut bekerja di kapal tongkang yang menyedot pasir dari Sungai Musi. Tugas saya di sana membersihkan pasir dari potongan-potongan kayu besar atau sampah. Seharian bekerja, saya diupah 10 ribu, dan uang itu yang saya pergunakan untuk membeli keperluan atau jajan saya di sekolah,” ceritanya dengan mata sendu.

“Karena seringnya saya ke sungai, akhirnya saya diarahkan untuk ikut klub renang. Berlanjut hingga SMA, saya masuk SMA olahraga di Palembang, dan mulai berprestasi di tingkat nasional,” tambahnya mengenang.

Berkat prestasinya, nama Firman masuk dalam tim pra PON cabang renang. Namun malang, ia kecelakaan motor sehingga tidak bisa mengikuti latihan tim, dan akhirnya namanya dicoret dari tim pra PON Provinsi Sumsel. Selalu ada hikmah di balik setiap musibah, demikian ia menggambarkan. Usai gagal ikut pra PON, tiba-tiba seorang Triathlete (sekarang menjadi seniornya-red) mengajaknya untuk mengikuti pemusatan latihan Triathlon di Bandung. Tahun itu memang akan digelar kejuaraan Asian Triathlon Confederation (ASTC) di Palembang.

“Saat diajak, saya hanya pegang uang 800 ribu. Saya bilang ke senior saya itu, kalau saya ke Bandung, nanti saya makan apa di sana,” ceritanya sambil terkekeh pelan.

“Tapi dia terus menyemangati saya. Akhirnya saya beli tiket pesawat 600 ribu, kemudian keluar ongkos lagi dari bandara ke mess 100 ribu, jadi saat itu saya tinggal pegang uang 100 ribu saja. Saya makan dikasih senior. Setelah semua senior makan, baru saya bisa makan juga,” ujarnya sembari menerawang.

Namun, perjuangannya itu tak sia-sia. Firman dikirim sebagai atlet Triathlon tingkat junior mewakili Indonesia dalam kejuaraan ASTC di Palembang dan berhasil keluar sebagai juara pertama dalam event tersebut. “Menjuarai kompetisi Triathlon meskipun itu ajang pertama yang saya ikuti, bisa masuk tim Pelatnas senior dan bersaing dengan senior-senior saya, serta Alhamdulillah sekarang saya bahkan bisa menjadi seorang prajurit TNI AD,” jawabnya ketika ditanya momen yang paling membahagiakan baginya.

Ya.. saat ini, Firman tercatat sebagai Bintara berpangkat Sersan Dua (Serda) yang sehari-harinya berdinas sebagai Bintara Penguji Ketangkasan Jasmani (Baujikasjas) di Dinas Jasmani Angkatan Darat (Disjasad) yang bermarkas di Baros, Cimahi, Bandung. Menjadi prajurit TNI AD tak lantas membuatnya tak bisa lagi menjadi atlet profesional. Justru ia mengaku bersyukur karena mendapatkan banyak dukungan untuk terus berprestasi.

“Satuan saya sangat mendukung saya, mulai dari memberikan izin untuk berlatih, penyesuaian jam kerja, hingga rekan-rekan yang ikhlas mem-backup tugas saya selama saya menjalani Training Center (TC),” ujar pemuda yang sejak kecil bercita-cita menjadi prajurit TNI ini.

Meskipun di awal bergabung dengan TNI AD, Firman mengaku harus membiasakan diri dalam menyeimbangkan waktu latihan dan tugas dinas, ia merasa hidupnya jauh lebih baik setelah menjadi prajurit.

“Dengan menjadi prajurit, kehidupan dan masa depan saya lebih terjamin. Berbeda jika menjadi atlet saja, kita hanya akan diperhatikan saat latihan dan TC  saja,” ungkapnya polos.

Sementara itu, Kepala Dinas Jasmani Angkatan Darat (Kadisjasad) Brigjen TNI Mochammad Hasan sebagai pimpinan Serda Firman, menjelaskan bahwa Serda Firman bergabung dengan TNI AD lewat program penerimaan prajurit jalur Secaba Unggulan dan Atlet. Program ini merupakan kebijakan dari Pimpinan TNI AD untuk merekrut para pemuda dan pemudi yang memiliki keahlian khusus di bidang olahraga yang ingin masuk menjadi tentara.

“Teknis pelaksanaan rekrutmennya sama saja seperti pada rekrutmen Secaba umum, hanya saja untuk Secaba Unggulan dan Atlet ada standar prestasi minimal di tingkat PON (Provinsi),” jelasnya.

Lebih lanjut, Kadisjasad menjelaskan bahwa setelah lolos seleksi, atlet yang memiliki keahlian olahraga dalam Komite Olahraga Militer Angkatan Darat (Komiad) dididik di Pusat Pendidikan Jasmani (Pusdikjas) Kodiklatad.

“Kemudian untuk penempatan personel ditentukan dari Staf Personel AD (Spersad). Selaku pembina Cabor Komiad Bola Voli dan Triathlon, seharusnya atlet Voli dan Triathlon ditempatkan di Disjasad guna memudahkan pembinaan, namun saya mengambil kebijakan menempatkan atlet pada kedua cabor tersebut kembali ke daerahnya masing-masing. Tujuannya agar mereka dapat memelihara dan meningkatkan prestasinya di klub asalnya,” terangnya.

Ketika ditanya seputar ada tidaknya kebijakan atau perlakuan khusus yang diberlakukan terhadap para prajurit atlet ini, Jenderal Bintang Satu ini mengatakan bahwa semua prajurit atlet tetap menjalankan tugas-tugas keprajuritan seperti halnya prajurit yang lain. “Namun, jika mereka dibutuhkan oleh klub atau daerahnya, maka diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk berlatih dan mengikuti event-event kejuaraan yang sedang berlangsung,” jelasnya.

Mengomentari kinerja Serda Firman, Kadisjasad menilai bahwa anak buahnya itu selalu menunjukkan disiplin dan dedikasi yang tinggi baik dalam pelaksanaan tugas sehari-hari di Disjasad maupun saat mengikuti program latihan di luar.

“Firman selalu berlatih keras, dibuktikan dengan seringnya dia memperoleh prestasi di kejuaraan Triathlon baik tingkat nasional maupun internasional yang diikutinya,” ujarnya bangga.

Untuk itu, Kadisjasad berpesan agar ia tidak mudah berpuas diri dengan apa yang telah dicapai saat ini dan harus tetap berlatih dengan tekun dan keras, serta disiplin yang tinggi. Sehingga prestasi yang sudah didapat bisa terus dipertahankan bahkan lebih ditingkatkan. “Bagi Firman dan para prajurit TNI AD yang memiliki bakat dan prestasi khususnya di bidang olahraga, ketahuilah bahwa prestasi terbaik hanya bisa diperoleh melalui disiplin tinggi, kerja dan latihan yang keras tanpa mengenal lelah,” pesannya.  

Prestasi Serda Firman di cabang olahraga Triathlon memang sangat membanggakan. Berbagai kejuaraan tingkat nasional hingga taraf internasional tercatat pernah diraihnya. Bahkan ia berhasil menorehkan namanya sebagai kampiun dalam beberapa kompetisi. Serda Firman merupakan langganan naik podium pada kejuaraan tingkat internasional Sungailiat Triathlon. Terhitung sejak 2013 hingga 2017, dirinya naik podium sebagai juara 1 atau 2. Sementara dalam kejuaraan lainnya seperti Pariaman Triathlon, Jepara Triathlon, Sibolga Triathlon, dan Mandalika Triathlon ia juga sukses keluar sebagai juara.

Ia juga pernah menjadi juara 2 dalam kejuaraan internasional ASTC Subic Bay Asian Cup di kategori Elite Men. Juara 1 Elite Men Southeast Asian kategori U-23 ASTC Palembang Asian Championship. Juara 1 Elite Men di Bali Internasional Triathlon. Ia juga merupakan pemegang peringkat 15 dari 60 peserta Asian Games 2018 cabor Triathlon, serta peringkat ke-22 International Super League Triathlon 2019 di Bali. Nomor yang dimenanginya yaitu Standard Distance dan Sprint Distance.

Dalam Triathlon dikenal tiga kategori nomor cabor. Nomor Standard Distance yaitu kompetisi Triathlon dengan jarak renang 1.500 meter, sepeda 40 km, dan lari 10 km. Sementara nomor Sprint Distance, jarak renang 750 meter, sepeda 20 km, dan lari 5 km. Ada pula nomor Mixed Team Relay yang merupakan kompetisi estafet dari dua atlet pria dan dua atlet wanita, yang masing-masing harus menyelesaikan jarak renang 250 meter, sepeda 7,5 km, dan lari 1,5 km secara bergantian dengan capaian waktu diakumulasi.

Sejumlah event kejuaraan Triathlon di tahun 2019 ini yang akan dihadapi Serda Firman antara lain Olimpiade Militer pada bulan Oktober 2019, dan Sea Games pada bulan Desember 2019 nanti.

Seperti yang dikatakan Sekretaris Disjasad (Sesdisjasad) Kolonel Inf Hariyanta, S.E., M.Si, bahwa saat ini Firman sedang mengikuti TC guna persiapan menghadapi Olimpiade Militer dan Sea Games yang akan digelar tahun 2019 ini. “Untuk Triathlon, TC nya selalu dilaksanakan di luar Disjasad. Untuk latihan di internal satuan, karena Firman masuk atlet nasional, maka materi latihannya juga mengikuti arahan pelatih nasionalnya,” jelasnya.

Ketika ditanya tentang porsi latihan dan kiat-kiat, khususnya dalam memelihara kemampuan, Serda Firman menjelaskan bahwa ia biasa berlatih di dua lokasi berbeda. Untuk lari dan renang, Firman berlatih di Gelanggang Olah Raga Universitas Pendidikan Indonesia (GOR UPI), sementara untuk sepeda ia berlatih di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).

“Semua atlet bisa berprestasi selama ia mau disiplin, berlatih keras, yakin, mengikuti semua arahan pelatih dan mengatur pola makan, serta jangan lupa berdoa kepada Tuhan karena tanpa izin-Nya kita tak mungkin meraih apa yang kita inginkan,” ujarnya membagikan kiat suksesnya.

Di akhir wawancara, Firman menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada orang-orang yang telah berjasa dalam hidupnya selama ini.

Baca juga:Pengamanan Gedung DPR Diperketat

“Terima kasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan kepada kedua orang tua saya, keluarga, senior dan pelatih yang telah membina dan memotivasi saya. Juga kepada Pimpinan TNI AD, Kadisjasad, atasan dan rekan-rekan saya di Disjasad yang telah memberikan dorongan dan kepercayaan kepada saya untuk berlatih, sehingga saya mampu berprestasi di tingkat nasional dan internasional sehingga membawa nama baik Indonesia, TNI AD, dan khususnya satuan saya tercinta, Disjasad,” tandasnya dengan rasa haru dan mata berkaca-kaca.

Itulah sekelumit catatan prestasi salah satu atlet Indonesia yang berprestasi. Masih banyak atlet berprestasi dari TNI AD di berbagai cabang olahraga yang ikut mengharumkan nama Indonesia dalam berbagai event nasional dan internasional. (RO/OL-6)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More