Rabu 22 Mei 2019, 02:45 WIB

Alquran Referensi Keadaban Sosial

Muhbib Abdul Wahab Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah dan UMJ | Opini
Alquran Referensi Keadaban Sosial

ANTARA FOTO/Adeng Bustomi
Sejumlah santri mengikuti kegiatan menghafal Alquran (Hafiz Quran)

ALQURAN merupakan kitab suci paling mulia dan paling sempurna yang ‘dihidangkan’ oleh Allah SWT untuk dinikmati umat manusia. Nuzulnya berfungsi sebagai referensi kehidupan dengan petunjuk-petunjuk moralnya yang bersifat universal. Hukum dan nilai-nilai moral yang dikandungnya menjadi pembeda (al-furqan) antara kebenaran dan kebatilan, kebaikan dan keburukan, keadaban dan kebiadaban.

Alquran sudah turun, membumi, dan menginspirasi kehidupan lebih dari 14 abad. Di masa lalu, Alquran menjadi sumber nilai dan motivasi yang memacu dan melejitkan kecerdasan dan pemikiran umat Islam sehingga sukses membangun dan memajukan peradaban. Dewasa ini, ketika zaman, sains, dan teknologi berubah sedemikian cepat dan pesat, tampaknya tradisi literasi dan tadarus (pembacaan dan pengkajian) umat Islam mengalami kelesuan, sehingga belum mampu mengaktualisasikan fungsi-fungsi Alquran dalam kehidupan.

Sebagai refleksi, mengapa tradisi literasi dan tadarus Alquran belum membuahkan masyarakat dan bangsa berperadaban maju dan berkeadaban, padahal mayoritas penduduk negeri ini mengimani kebenaran Alquran? Berbagai persoalan pendidikan, kegaduhan politik, kemerosotan moral, dan sebagainya, masih belum sepenuhnya dapat dipecahkan. Nilai-nilai agama, khusus pesan moral Alquran, belum menjadi referensi dan solusi terhadap berbagai persoalan umat dan bangsa.

Menuju literasi Alquran
Oleh karena itu, umat dan bangsa mendambakan aktualisasi dan kontekstualisasi nilai-nilai Alquran dalam kehidupan nyata. Membudayakan tradisi mengaji: membaca, belajar, mengamalkan, dan mengajarkan ayat-ayat Alquran bagi semua kalangan, tidak hanya generasi muda, menjadi sangat penting dan relevan.

Dewasa ini, gerakan literasi Alquran di dunia Islam dan Indonesia menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Di tingkat akar rumput, gairah membaca dan menghafalkan Alquran (tahfiz) semakin semarak. Gagasan Indonesia mengaji, kontes tahfiz di beberapa stasiun televisi swasta, dan menjamurnya taman pendidikan Alquran (TPA) menggugah umat peduli terhadap Alquran sebagai referensi kehidupan.

Pendidikan Alquran sejak dini dalam rangka pemberantasan buka aksara Alquran merupakan gerakan strategis umat dan bangsa yang berperan penting meningkatkan kualitas literasi Alquran. Pengkajian Alquran di tingkat PT sebagai program studi, baik S-1, S-2, maupun S-3 juga diharapkan berkontribusi besar membumikan dan memasyarakatkan Alquran dalam kehidupan kebangsaan dan keumatan.

Gerakan literasi dan studi Alquran yang semakin dinamis tentu menjadi harapan baru bagi masa depan umat dan bangsa. Di tengah merebaknya hoaks, ujaran kebencian, fitnah, radikalisme, dan aksi kekerasan, gerakan ini diharapkan menjadi oase yang menyejukkan kehidupan beragama dengan menghadirkan kearifan digital dan keadaban sosial. Karena Alquran merupakan kitab suci kebenaran, kebaikan, keindahan, dan keadaban yang sangat kompatibel dengan visi penyemaian keadaban digital dan sosial.

Gerakan literasi dan studi Alquran itu sangat diharapkan mampu mewujudkan kehidupan kebangsaan yang damai, harmoni, penuh toleransi, dan sikap saling mengakui dan menghargai perbedaan. Alquran sangat  menjunjung budaya taaruf, berdialog, berkolaborasi, bersinergi, dan berintegrasi untuk kebaikan dan dalam rangka mewujudkan ketakwaan personal dan sosial (QS Al-Hujurat [40]:13 dan Al-Maidah [5]:2).
 
Keadaban digital dan sosial
Visi utama Alquran adalah mewujudkan khaira ummah (umat terbaik dan unggul) yang mampu membangun baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur (negeri yang baik, gemah ripah loh jinawi, adil dan makmur sekaligus mendapat lindungan dan ampunan Tuhan), (QS Ali Imran [3]: 110 dan Saba’ [34]:15).

Visi ini dapat diaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, antara lain dengan menjadikan negeri ini sebagai darul ahdi wa as-syahadah (NKRI sebagai negeri perjanjian bersama dengan memberi kesaksian dan kontribusi positif). Semua warga bangsa harus bersepakat merawat, mengisi kemerdekaan, membangun, dan mencerdaskan kehidupan bangsa agar menjadi berkemajuan, berkemakmuran, dan berkeadilan.

Di era digital ini, etika dan keadaban digital sungguh sangat penting diaktualisasikan dengan peneguhan prinsip tabayyun (teliti, check and recheck, konfirmasi, dan verifikasi kebenarannya) sebelum sebuah berita/video disampaikan atau disebarluaskan kepada pihak lain.

Alquran menegaskan: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS Al-Hujurat [49]:6). ‘Saring sebelum sharing’ merupakan pilihan bijak yang perlu menjadi komitmen bersama.

Keadaban digital dan sosial sangat diperlukan karena Alquran mengajarkan prinsip wasathiyyah, jalan moderasi, tidak ekstrem kiri maupun kanan. Keadaban digital dan sosial di tahun politik ini dapat diwujudkan dengan mengejawantahkan pesan Islam wasathiyyah dari Bogor (Bogor Message, 1-3 Mei 2018), antara lain tawassuth, sikap moderat, tengahan, dan tidak ekstrem dalam kehidupan beragama dan berbangsa.

Lalu i’tidal (berlaku adil dan proporsional) dalam segala aspek kehidupan, sehingga semua diperlakukan setara dan adil di depan hukum, dan tasamuh (toleransi) dengan menghargai perbedaan, kebinekaan, dan keragaman dalam berbagai aspek kehidupan.

Jadi, keadaban digital dan sosial penting diarusutamakan (mainstreaming) melalui aktualisasi wasathiyyah Islam yang sejatinya merupakan misi profetik dan pesan utama Alquran. “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ‘umat pertengahan’ agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS Al-Baqarah [2]:143).

Pesan dan nilai wasathiyyah Islam itu diharapkan menjadi pencerahan yang fungsional apabila diperkuat dengan tiga nilai utama dalam bermedia, berpolitik, dan berbangsa. Pertama, aktualisasi filosofi iqra yang menandai awal turunnya Alquran (Nuzul Alquran).

Alquran harus dibaca dengan semangat mempelajari, menggali nilai, mengembangkan ilmu pengatahuan dan membangun peradaban, bukan sekadar membaca verbal dan menghafal dengan niat semata-mata mendapat pahala. Alquran dibaca sebagai referensi kehidupan yang meniscayakan terwujudkan peradaban dan keadaban digital dan sosial.

Kedua, aksentuasi etos fastabiqul khairat (berkompetisi dalam memberi kontribusi kebajikan) dengan terus meningkatkan daya saing dan daya juang warga bangsa (QS Al-Baqarah [2]:148). Dengan komitmen mewujudkan keadaban digital dan sosial, Indonesia harus bertekad menjadi kiblat dunia dalam mewujudkan bangsa berperadaban maju, berdaulat, bermartabat, zero korupsi, adil dan makmur.

Ketiga, implementasi nilai-nilai ihsan (berjiwa dan beraksi yang terbaik) dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Alquran menumbuhkan jiwa keterpanggilan untuk berbuat yang terbaik bagi kemaslahatan umat dan bangsa.

Jika nilai-nilai Islam tengahan itu dapat dikembangkan dan dibudayakan dalam kehidupan bangsa, niscaya keadaban digital dan sosial dapat menjadi sebuah solusi strategis dalam meredam potensi kekerasan dan konflik sosial.

Bukankah logika dan gaya bahasa Alquran itu bernilai sastra sangat tinggi dan indah sehingga aktualisasi nilai-nilai keadaban digital dan sosial dari pesan-pesan moral Alquran dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara mestinya juga lebih indah, damai, dan harmoni?    

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More