Rabu 22 Mei 2019, 04:00 WIB

Tuhan Hadir di Medsos

Ronald Surapradja | celoteh
Tuhan Hadir di Medsos

MI/Rommy
Ronald Surapradja

SAYA yakin semua sudah tahu kalau Ramadan ialah bulan suci yang penuh berkah. Karenanya, kita dianjurkan memperbanyak doa di bulan ini. Ada fenomena yang terjadi di era digital sekarang ini, yaitu banyak orang yang berdoa di media sosial. Coba cek di lini masa media sosial kamu, pasti ada yang seperti itu. Atau jangan-jangan kamu yang suka berdoa di media sosial? Hehe.

Sepengetahuan saya belum ada hukum atau fatwa tentang boleh atau tidaknya berdoa di media sosial. Di sinilah agama melalui para ahlinya dituntut untuk bersikap progresif menjawab pertanyaan-pertanyaan baru seiring kemajuan zaman.

Berdoa itu layaknya curhat kepada Tuhan. Jika dulu dilakukan dengan khusyuk di ruang pribadi, kini malah diumbar di media sosial yang semua orang bisa membaca bahkan memberi komentar.

Masih mending jika di kolom komentar kita isinya tulisan ‘aamiin’, tapi sayang kebanyakan komentarnya tidak seperti itu. Habis dikomentari yang berdoa malah marah-marah, maka hilanglah esensi berdoa yang dia lakukan.

Ketika kita curhat di media sosial, alih-alih mendapatkan simpati yang ada follower malah menikmati dan mungkin menertawakan masalahmu. Bahkan ketika dikemas dengan kalimat yang sopan seperti ‘mohon maaf sekadar mengingatkan’, tetap saja terasa aura nyinyirnya, hehe.

Akan tetapi, kan semuanya tergantung niatnya? Nah, kalau sudah ada argumen seperti ini, suka bingung jawabnya karena hati orang siapa yang tahu?

Menurut saya, jika seseorang berdoa untuk dirinya, lebih baik langsung diucapkan kepada Tuhan. Namun, jika niatnya ingin memberikan pelajaran kepada orang lain tentang doa yang baik, hal tersebut tidak masalah kalau ditampilkan di media sosial.

Harapannya, dengan diunggah ke media sosial banyak orang yang termotivasi, kemudian menirunya. Jadi, media sosial digunakan sebagai media untuk dakwah. Akan tetapi, jika doanya berupa doa pertobatan yang memuat aib, sebaiknya tidak dibuat menjadi status di media sosial.

Yang saya tahu salah satu adab dalam berdoa ialah dipanjatkan dengan lirih. Jika doa itu diumbar ke media sosial, dikhawatirkan akan mengurangi keikhlasan doa orang yang memanjatkannya. Sementara itu, keikhlasan dalam berdoa sangatlah penting. Ikhlas dengan motif seseorang berdoa bukan karena ingin dipuji sebagai orang saleh, melainkan karena hanya mengharapkan pertolongan Allah semata. Membuat status doa di media sosial bisa menimbulkan banyak perangkap keikhlasan.

Secara logika, jika merunut kepada objek doanya, dan apabila kita membuat status yang berisi doa, kita itu memohon kepada media sosial yang digunakan. Takutnya media sosial menggantikan posisi Tuhan.

Di media sosial yang akan membaca doa kita tentu saja manusia dalam bentuk teman, saudara atau follower yang tidak kita kenal yang tentu saja tidak punya kemampuan untuk mengabulkan doa.

Belum lagi di tahun politik ini, banyak doa yang diunggah ke media sosial dengan motif mendukung junjungannya. Jika doanya untuk kebaikan rasanya masih oke, tapi sering kita lihat doa yang berisi permintaan agar Tuhan menurunkan azab untuk mereka yang tidak sepaham dengannya. Makhluk kok mengatur penciptanya, tidak sopan sekali rasanya, hehe.

Lucu memang zaman sekarang ini, orang berdoa melalui status di media sosial, pahalanya diukur dengan jumlah likes, dan amalannya dibuktikan dengan foto.

Karenanya, saya mengajarkan anak saya jika ingin berdoa lakukanlah sendiri di ruangan tertutup atau sekalian di masjid, bukan di media sosial. Ketika dia bertanya alasannya, saya bilang karena dia ada di dunia ini dilahirkan, bukan diunduh dari internet. (H-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More