Selasa 21 Mei 2019, 07:00 WIB

UBSI Bertekad Wujudkan Perguruan Tinggi Berkualitas

mediaindonesia | Humaniora
 UBSI Bertekad Wujudkan Perguruan Tinggi Berkualitas

foto UBSI
Rektor UBSI, Mochamad Wahyudi (keempat dari kiri), bersama jajaran Kepengurusan Yayasan BSI.

 

PEMERINTAHAN Kabinet Kerja terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan nasional, tak terkecuali pendidikan tinggi. Berbagai program aksi dilakukan untuk itu agar tercipta perguruan tinggi yang menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berdaya saing dan siap kerja.

Peningkatkan kualitas pendidikan tidak hanya dilakukan pemerintah, tetapi juga dilakukan swasta. Seperti yang dilakukan Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI).

Rektor Universitas Bina Sarana Informatika Mochamad Wahyudi mengatakan, salah satu yang mereka lakukan ialah berpartisipasi menyatukan (merger) 21 perguruan tinggi yang ada di bawah Yayasan BSI Group menjadi sebuah perguruan tinggi besar dengan nama Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), yang diselenggarakan Yayasan Bina Sarana Informatika.

UBSI secara resmi berdiri pada 3 September 2018. Sebanyak 21 perguruan tinggi yang digabung tersebut terdiri atas 18 perguruan tinggi dengan jenis akademi, dua perguruan tinggi dengan jenis sekolah tinggi, dan satu perguruan tinggi dengan jenis universitas.

"Yayasan Bina Sarana Informatika ingin berpartisipasi dalam rangka menyukseskan program pemerintah menjadikan perguruan tinggi yang besar dan sehat serta berkualitas," ujar Wahyudi di Jakarta, Kamis (16/5).

Upaya yang dilakukan UBSI untuk meningkatkan kualitas pendidikan, antara lain dengan memperbarui kurikulum pendidikan secara berkala dan disesuaikan dengan kebutuhan industri dan ketentuan pemerintah.

UBSI menerapkan kurikulum berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), melengkapi sarana dan prasana untuk proses belajar mengajar, mengimplementasikan penjaminan mutu pendidikan. "Kami juga bekerja sama dengan dunia industri dalam berbagai hal, termasuk untuk magang di industri, praktik kerja lapangan (PKL), riset, kuliah kerja nyata (KKN) campus recruitment, dan lainnya."

Untuk menciptakan SDM yang berdaya saing, mereka telah be-kerja sama dengan beberapa industri, seperti Peruri, Bulog, Kalbe, Penanaman Modal Madani, Kimia Farma, Produksi Film Nasional (PFN), Cisco, Mikrotik, BNSP, ITC (International Test Center), LSP Informatika, LSP Incinema, Swiss-Bell Hotel, BCA, CIMB Niaga, BTN, Bank Permata, dan Bank Mandiri.

Selain itu, UBSI bekerja sama dengan berbagai perguruan tinggi baik dalam dan luar negeri untuk student exchange, seminar, dan riset bersama. Adapun beberapa perguruan tinggi internasional itu, yakni Korean Institute for Education and Culture, Repulic of Indonesia, Suzhou Vocational University, Zhejiang Business Technology Institute, Jiangsu Agrianimal Husbandry Vocational College, Jiangsu Vocational Institute of Architectural Technology, Jiangsu Vocational College of Information Technology, International Cultural Communication Center, Edith Cowan University (Australia), Sun Moon University (Korea Selatan), Australian Council for Private Education and Training (ACPET) Australia, Catholic University of Daegu (Korea),AUG Global Network (Australia), Human Academy (Jepang), University Utara (UUM) Malaysia , University Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM), Manitoba Institute of Trades and Technology (Kanada), University of Ioannina Greece (Yunani), dan University of Linz (Austria).

Upaya yang dilakukan UBSI untuk meningkatkan kualitas dosen, antara lain kerja sama dengan dunia industri agar dosen dapat magang di industri, dengan berbagai perguruan tinggi baik dalam dan luar negeri dalam rangka studi lanjut program pendidikan doktor, pertukaran dosen, sertifikasi kompetensi, kolaborasi riset, dan seminar.

Perlu pembenahan

Pada bagian lain, Wahyudi mengakui perlu ada pembenahan kualitas perguruan tinggi di Indonesia. Pasalnya, masih banyak perguruan tinggi yang tidak sehat bahkan seperti 'mati segan hidup pun tak mau'.

"Perguruan tinggi masih banyak yang kesulitan memenuhi kebutuhan dosen minimal, kesulitan untuk mendapatkan mahasiswa, belum memiliki sarana dan prasarana yang memadai bahkan termasuk belum memiliki gedung sendiri untuk proses belajar mengajar sendiri atau masih menyewa atau bahkan kampusnya masih menempati ruko." (Try/S-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More