Selasa 21 Mei 2019, 06:00 WIB

Waspadai Produk Pangan Kedaluwarsa

Indriyani Astuti indriyani@mediaindonesia.com | Humaniora
 Waspadai Produk Pangan Kedaluwarsa

ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/hp.
Kepala Badan POM Penny K Lukito

 

HASIL intensifikasi pengawasan pangan menunjukkan jumlah produk pangan yang tidak memenuhi syarat keamanan dan mutu meningkat jika dibandingkan dengan tahun lalu. Masyarakat diminta lebih waspada dan teliti dalam membeli ptoduk pangan.

Intensifikasi pengawasan itu dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) bekerja sama dengan berbagai sektor terkait. Intensifikasi dilakukan sejak 22 April 2019. Hingga 10 Mei 2019, telah dilakukan pemeriksaan terhadap 1.553 sarana ritel dan 281 gudang distributor/importir produk pangan.

Hasilnya, ditemukan 170.119 kemasan produk pangan rusak, kedaluwarsa, dan ilegal atau tidak memenuhi ketentuan dari 796 sarana distribusi dengan total nilai keekonomian lebih dari Rp3,4 miliar. Nilai itu meningkat daripada periode yang sama pada 2018 sebesar Rp2,2 miliar.

"Peningkatan jumlah dan nilai keekonomian temuan tersebut merupakan hasil dari semakin luasnya cakupan pengawasan intensifikasi pangan hingga ke kabupaten/kota," ungkap Kepala Badan POM Penny K Lukito di Jakarta, kemarin.

Ia menjelaskan, target intensifikasi pengawasan yang dilakukan terkait dengan Ramadan dan Idul Fitri itu difokuskan pada pangan olahan tanpa izin edar (TIE)/ilegal, kedaluwarsa, rusak, serta pangan jajanan berbuka puasa (takjil).

Berdasarkan lokasi, pangan kedaluwarsa banyak ditemukan di Kendari, Jayapura, Mimika, Palopo, dan Bima, dengan jenis produk susu kental manis, sirop, tepung, makanan ringan, dan biskuit. Pangan rusak banyak ditemukan di Palopo, Banda Aceh, Bima, Kendari, dan Gorontalo, dengan jenis produk susu kental manis, sereal, minuman teh, ikan dalam kemasan kaleng, dan minuman berperisa.

"Untuk pangan ilegal banyak ditemukan di Kendari, Tangerang, Makassar, Baubau dan Banjarmasin, dengan jenis produk garam, makanan ringan, cokelat, air minum dalam kemasan, dan minuman berperisa."

Untuk pangan takjil, dari 2.804 sampel yang diperiksa, 83 sampel (2,96%) tidak memenuhi syarat. Jenisnya berupa agar-agar, minuman berwarna, mi, dan kudapan. Bahan berbahaya yang banyak disalahgunakan, yaitu formalin (39,29%), boraks (32,14%), dan pewarna rhodamin B (28,57%).

Kopi Pak Belalang

Pada kesempatan itu, Penny juga mengungkapkan pelanggaran kopi merek Pak Belalang.

"Hasil penelusuran terhadap produk kopi Pak Belalang ini menunjukkan pelaku melakukan setidaknya tiga pelanggaran. Pertama, mengubah tanggal kedaluwarsa" kata Penny.

Kedua, kata dia, kopi diimpor dari luar negeri tanpa memiliki surat keterangan impor (SKI) dari Badan POM. Ketiga, produsen mencantumkan tulisan 'Rajanya Kopi Nusantara', padahal produk berisi material impor. Karena itu, Badan POM akan mencabut nomor izin edar (NIE) produk kopi Pak Belalang. (H-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More