PB IDI Soroti Tingginya Angka Tengkes pada Balita

Penulis: Indriyani Astuti Pada: Senin, 20 Mei 2019, 20:55 WIB Humaniora
PB IDI Soroti Tingginya Angka Tengkes pada Balita

Ist
Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr Daeng Mohammad Faqih

TINGGINYA angka prevalensi penyakit tidak menular (PTM) di kalangan masyarakat Indonesia, serta masalah tengkes atau anak pendek karena kekurangan gizi kronis (stunting), menjadi masalah kesehatan yang mendesak untuk ditanggulangi yakni dengan memaksimalkan upaya pencegahan dengan pengendalian faktor risiko penyakit.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr Daeng Mohammad Faqih, mengatakan, apabila PTM dan tengkes tidak segera ditangani akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia Indonesia. Anak yang mengalami tengkes berisiko menderita penyakit tidak menular seperti stroke, jantung, kanker, dan diabetes di kemudian hari.

"Itu akan juga berdampak pada besarnya beban biaya kesehatan yang dikeluarkan oleh masyarakat dan pemerintah," ujarnya dalam acara temu media terkait perayaan Hari Bakti Dokter Indonesia ke-111 di Kantor Pengurus Besar IDI, Jakarta, pada Senin (20/5).

Mengutip hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi balita tengkes di Indonesia sebanyak 30,8% atau 7 juta balita mengalami tengkes karena kekurangan asupan gizi kronik.

Di sisi lain, kata dr. Daeng, anak-anak Indonesia juga mengalami obesitas (kegemukan). Dari sumber data yang sama, sekitar 8% balita mengalami kegemukan. Hal ini, ujarnya, menjadi masalah ganda bagi Indonesia. Karena itu, menurut IDI, baik tengkes maupun obesitas serta penyakit lain dapat dicegah melalui perilaku sehat.

Tengkes, kata dr Daeng, dapat dicegah dengan memerhatikan kecukupan asupan nutrisi pada saat kehamilan. Selain itu, pada saat anak tumbuh dan berkembang, terangnya, harus dipastikan tidak ada penyakit infeksi yang menyerang. Penyakit infeksi menjadi faktor penyebab gizi kurang pada balita karena penyakit membuat penyerapan nutrisi dalam tubuh tidak maksimal.


Baca juga: Palsukan Kedaluwarsa, Ribuan Kopi Merek Pak Belalang Disita


Pola makan yang salah, lanjut dia, juga bisa membuat anak kekurangan gizi kronik. Oleh karena itu, dalam peringatan Hari Bakti Dokter Indonesia, IDI akan menyosialisasikan pada masyarakat di fasilitas kesehatan dan posyandu, mengenai pemanfaatan pangan lokal seperti ikan dan telur sebagai sumber pangan yang bergizi.

PB IDI, kata dr Daeng, juga mendorong posyandu digalakkan kembali untuk pencegahan tengkes. Posyandu ujung tombak dalam sosialisasi kesehatan balita. Di sana ada kegiatan penting dalam mencegah infeksi seperti imunisasi dan penimbangan serta pengukuran badan.

"Kalau posyandu dimaksimalkan, gizi buruk bisa ditanggulangi," ucapnya.

Terkait penanggulangan PTM, menurutnya derajat status kesehatan masyarakat bisa ditingkatkan melalui penerapan pola hidup sehat dan kualitas lingkungan yang bersih. Pemerintah, kata dia, sudah mencanangkan gerakan masyarakat hidup sehat (Germas) yang bisa menjadi panduan untuk mencegah faktor risiko PTM.

Germas tidak akan maksimal diterapkan apabila tidak ada kerja sama lintas sektor dalam mendukung kebijakan dan sarana prasarana yang menunjang masyarakat menerapkan pola hidup sehat seperti sanitasi yang baik, fasilitas olah raga dan pemeriksaan (skrining) faktor risiko penyakit di fasilitas layanan kesehatan.

Sekjen PB IDI, dr Henry Salim Siregar SpOG(K), menekankan pentingnya peran tenaga kesehatan termasuk dokter dalam mengampanyekan hidup sehat pada masyarakat seperti mengonsumsi makanan sehat dan bergizi, rutin aktivitas fisik, tidak merokok, memeriksakan kesehatan secara rutin, menjaga kebersihan diri, keluarga dan lingkungan. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More