Senin 20 Mei 2019, 13:30 WIB

Trump Sebut Kesepakatan AS-Tiongkok tidak 50:50

Tesa Oktiana Surbakti | Internasional
Trump Sebut Kesepakatan AS-Tiongkok tidak 50:50

AFP
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump

 

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump menilai pemberlakuan tarif atas komoditas Tiongkok mendorong investor AS merelokasi basis produksi di Negeri Tirai Bambu ke negara-negara Asia, seperti Vietnam. Menurutnya, kesepakatan dagang dengan Tiongkok tidak akan berujung 50:50.

Dalam sebuah wawancara dengan Fox News Channel yang disiarkan Minggu (19/5) malam waktu setempat, Trump menyatakan AS dan Tiongkok memiliki kesepakatan yang kuat.

"Awalnya kami memiliki kesepakatan yang baik dan mereka malah mengubahnya. Lalu saya berkata tidak apa-apa, karena kami akan menaikkan tarif terhadap produk mereka," tukas Trump.

Sejauh ini, belum ada negosiasi perdagangan lebih lanjut antara pejabat tinggi AS dan Tiongkok, sejak putaran terakhir pada 10 Mei lalu. Tak berapa lama kemudian, Trump meningkatkan tarif atas komoditas Tiongkok senilai US$200 miliar, dari 10% menjadi 25%.

Trump mengambil langkah tersebut setelah Tiongkok dianggap memperburuk negosiasi dengan perubahan besar pada kesepakatan. Sejak saat itu, Tiongkok mempertegas retorikanya, yang menunjukkan pembicaraan kembali dengan AS dengan tujuan mengakhiri perang dagang dalam 10 bulan terakhir, tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat.

Baca juga: Trump: Perang Dagang Berakhir, AS Menang!

Kepada pembawa acara Fox News Steve Hilton, Trump mengatakan setelah memberlakukan tarif baru terhadap komoditas Tiongkok, pihaknya dengan senang hati mempertahankan tarif tersebut. Mengingat, komoditas AS senilai lebih dari US$100 miliar akan dikenai tarif dari Tiongkok.

Dia pun meyakini pada akhirnya Tiongkok akan membuat kesepakatan dengan AS.

"Karena mereka akan menderita dengan tarif AS. Tiongkok benar-benar terbunuh," cetusnya.

Sebelum perundingan putaran terbaru, Trump sempat mengatakan kepada Presiden Tiongkok Xi Jinping bahwa kesepakatan antara kedua negara tidak mungkin berakhir 50:50. Kesepakatan, lanjut dia, harus menguntungkan AS yang selama ini merugi karena praktik perdagangan Tiongkok.

Selain itu, Trump menekankan calon presiden dari Partai Demokrat sekaligus mantan Wakil Presiden AS Joe Biden harus diselidiki atas tuduhan penulis konservatif. Anak Biden, yakni Hunter Biden, dituding mengambil keuntungan dari posisi ayahnya, untuk menandatangani perjanjian bisnis yang menguntungkan dengan Bank of China. Tuduhan itu tertuang dalam buku milik Peter Schweizer dengan judul "Secret Empires".

"100% harus diselidiki. Itu sangat memalukan, apalagi dia (Joe Biden) mengatakan Tiongkok bukan saingan kita. Kenyataannya, Tiongkok adalah saingan terbesar AS. Mereka ingin mengambil alih dunia," tutup Trump.(Channelnewsasia/OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More