Segitiga Rebana Pemacu Perekonomian Jabar

Penulis: Teguh Nirwahyudi Pada: Senin, 20 Mei 2019, 08:25 WIB Nusantara
Segitiga Rebana Pemacu Perekonomian Jabar

Ist
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan jajarannya

PEMPROV Jawa Barat akan menjadikan kawasan Pelabuhan Patimban di Subang, Bandara Internasional Kertajati di Majalengka, dan Pelabuhan Cirebon sebagai wilayah pengembangan ekonomi terpadu.

Wilayah yang kelak disebut Segitiga Emas Rebana (Cirebon, Patimban, dan Kertajati) itu diproyeksikan menjadi area sangat maju dan futuristik di Jawa Barat. Di Segitiga Rebana nanti beroperasi industri padat karya pada 10 kawasan yang dikembangkan dengan potensi mencapai 6.857 perusahaan.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Grup Advisory & Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Barat, Pribadi Santoso, di Bandung akhir pekan lalu.

"Segitiga Rebana akan menunjang industri padat karya sekaligus untuk mengentaskan penduduk Priangan Timur dari kemiskinan. Selain itu, Segitiga Rebana juga dapat memacu pertumbuhan dan mengatasi ketimpangan ekonomi," kata Pribadi.

Hingga kini pengerjaan konstruksi Pelabuhan Patimban berjalan sesuai jadwal. Pengerjaan jalan akses dari dan ke pelabuhan pun sudah on the track.

"Untuk meramaikan Bandara Kertajati, pemerintah memindahkan rute penerbangan non-Jawa dan Bali dari Bandara Husein Sastranegara. Rencana itu direalisasikan sebelum Lebaran atau maksimal 15 Juni 2019," lanjut Pribadi.

Tidak bisa dimungkiri keberadaan Segitiga Rebana sekaligus juga akan menjawab tiga isu strategis, yakni kecenderungan alih lokasi industri keluar dari Jabar karena tingginya UMK, relokasi industri di Cekungan Bandung, dan tantangan industri ramah lingkungan.

"Berdasarkan data Apindo dan Disnaker ada 21 perusahaan melakukan relokasi, jenis industri utamanya garmen (48%) dan tekstil (14%). Sementara itu, 143 perusahaan memilih tutup. Industri yang terbanyak melakukan relokasi berasal dari Karawang. UMK Karawang tahun ini sebesar Rp4,23 juta atau tertinggi di Jabar," ujar Pribadi.

Terkait kemiskinan, Pribadi mengemukakan di Jabar pada September 2018 tercatat sebesar 7,45% dengan daerah termiskin yang tersebar di Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan. Sementara itu, laju ekonomi Jabar pada triwulan pertama 2019 tumbuh melambat, tetapi masih lebih baik jika dibanding dengan kinerja nasional. "Lajunya itu mencapai 5,43% (year on year/yoy) sedangkan nasional 5,07% (yoy).

Domestik kuat

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Endy Dwi Tjahjono, menambahkan penurunan ekspor terjadi hampir di semua daerah yang potensial di Indonesia. "Ekspor dari provinsi di Jawa seperti produk makanan olahan dan alas kaki mengalami kontraksi. Ekspor CPO juga melandai, sementara ekspor otomotif menurun karena berkurangnya permintaan global," kata Endy.

Saat menjelang Lebaran, Endy berharap tim pemantau inflasi daerah mulai mengecek suplai dan persediaan bahan pokok kebutuhan masyarakat. "Kalau kurang, segera datangkan. Sidak ke pasar pantau harga dan gelar pasar murah. DKI bisa menjadi contoh, bagaimana menjaga kecukupan beras dengan membeli mesin penggilingan padi dan membuat kontrak dengan petani untuk menjamin pasokan," pungkasnya. (N-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More