Senin 20 Mei 2019, 08:20 WIB

MRT Ubah Perilaku Transportasi Warga

Rifaldi Putra Irianto | Megapolitan
MRT Ubah Perilaku Transportasi Warga

MI/SUSANTO
Rangkaian kereta moda raya terpadu (MRT) memasuki Stasiun ASEAN di Jakarta, akhir pekan lalu.

 

SETELAH

sepekan PT MRT Jakarta memberlakukan tarif normal untuk moda raya terpadu (MRT), yakni Rp3.000 untuk jarak terdekat dan Rp14 ribu untuk jarak terjauh, jumlah penumpang MRT tetap tinggi. Rata-rata 81.405 penumpang menggunakan MRT setiap hari.

Pengamat tata kota Yayat Supriatna mengatakan bahwa tetap tingginya animo masyarakat tersebut menunjukkan MRT berhasil mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam bertransportasi.

Yayat mengatakan, masyarakat saat ini tidak masalah merogoh kocek lebih dalam asal mendapatkan transportasi umum yang cepat, nyaman, dan aman.

"Sepertinya saat ini warga tidak mementingkan tarif. Jadi, mereka menjadikan cepat merupakan pilihan rasional, aman, dan nyaman. Artinya, tiga faktor tersebutlah yang membuat orang mau pindah menggunakan MRT," ungkapnya saat dihubungi, kemarin.

Ia mengibaratkan bahwa kemacetan Ibu Kota saat ini seperti neraka sehingga masyarakat lebih memilih mengeluarkan kocek lebih agar tidak masuk dalam kemacetan Jakarta.

"Rasanya masyarakat sudah muak dengan kemacetan. Diibaratkan kemacetan Ibu Kota seperti neraka. Jadi masyarakat daripada harus masuk dalam neraka kemacetan lebih baik memilih jalan yang lain meskipun harganya sedikit lebih asal tetap terjangkau," jelasnya.

Sebelumnya, saat masih diberlakukannya tarif MRT diskon 50% sejak beroperasi komersial pada 1 April hingga 12 Mei, jumlah rata-rata penumpang MRT ialah 82 ribu penumpang per hari.

Namun hingga Jumat (17/5), jumlah penumpang yang menggunakan MRT tetap stabil meski sudah menerapkan tarif normal.

"Jumlah penumpang cukup stabil meski diskon 50% telah dicabut," ungkap Sekretaris Perusahaan PT MRT Jakarta, Muhammad Kamaludin.

Kamaludin mengungkapkan pada penerapan tarif normal, pola penumpang memang sedikit di awal pekan lalu semakin meningkat menuju akhir pekan.

Hal itu dibuktikan dengan jumlah penumpang MRT terbanyak terjadi pada Jumat (17/5), yakni sebanyak 89.372 penumpang. Sementara itu, penumpang paling sedikit menggunakan MRT pada Senin (12/5) dengan jumlah pengguna sebanyak 77.636.

Integrasi

Kendati jumlah penumpang tetap stabil, Yayat juga mengingatkan bahwa integrasi antarmoda perlu dibangun untuk meningkatkan minat masyarakat yang bepergian menggunakan transportasi umum.

"Ini menjadi sebuah PR (pekerjaan rumah) kalau sudah berhasil mencatat sekitar 80 ribu penumpang, harus dibangun itu interkoneksi antarmoda agar penumpang lebih banyak lagi."

Ia menambahkan bahwa upaya integrasi sebuah angkutan massal menjadi sebuah keharusan untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam bertransportasi. (J-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More