Senin 20 Mei 2019, 01:50 WIB

Derita Petani Garam akibat Cuaca dan Impor

Derita Petani Garam akibat Cuaca dan Impor

AFP
Petani garam di Vietnam

 

PARA petani garam di Hon Khoi bangun sebelum fajar seperti kebiasaan mereka selama beberapa generasi. Mereka kemudian menyebar menyusuri kolam air laut dangkal di Vietnam Selatan untuk memanen mineral berharga itu dengan harapan musim ini lebih baik daripada yang terakhir.

Pekerjaan sebagai petani garam memang kurang menguntungkan dan pendapatannya tidak stabil. Itu akibat pasar Vietnam tunduk pada permintaan pasar yang digerakkan impor asing serta pola cuaca yang semakin tak terduga.

"Pekerjaan ini tidak menyenangkan sama sekali. Kita harus bekerja sangat keras di bawah sinar matahari dan kemudian selama musim dingin kita libur," kata Nguyen Thanh Lai yang berkulit cokelat hasil bekerja hampir empat dekade.

Dia menjual hasil panennya kepada pedagang lokal yang meneruskan rantai dagang garam hingga meja makan atau pabrik di sekitar Vietnam. Di pabrik itu, garam digunakan untuk mengawetkan ikan, membuat saus ikan pedas yang populer di Asia Tenggara, atau membuat air soda.

Lai telah lama berjuang membesarkan lima anaknya. Dia mengatakan, dulu permintaan dan harga pasar dapat diandalkan.

"Di masa lalu kami tidak rugi memproduksi garam. Sekarang ada kerugian," kata pria 60 tahun yang mengenakan dua topi untuk melindungi dari matahari pagi.

Sebagai pengawas teknis, ia biasanya memperoleh penghasilan sekitar US$360 sebulan selama musim panen. Itu lebih dari dua kali lipat yang dibawa pulang oleh kebanyakan pekerja garam.

Akan tetapi, penghasilannya tidak selalu sama. Itu tergantung pada permintaan yang berfluktuasi berdasarkan impor dari luar negeri.

Vietnam menghasilkan sekitar 1 juta ton garam pada 2015. Itu menurut data resmi terbaru. Sering kali surplus. Meskipun demikian, Vietnam masih mengimpor garam, sebagian besar dari Tiongkok dan India.

Negara itu mengimpor 500 ribu ton mineral pada 2017 meskipun surplus 147 ribu ton produksi dalam negeri.

Produk impor berkualitas digunakan untuk keperluan industri karena kebutuhan industri ini tidak selalu cocok bagi garam lokal.

Di Hon Khoi, tujuan wisata populer yang mengemas pantai berpasir putihnya, petani juga menghadapi perubahan iklim.

Pola cuaca yang berubah-ubah telah menghentikan pekerjaan di industri yang bergantung pada hari-hari cerah dan kering agar produksi maksimum.

"Jika cuacanya bagus, kita bisa bekerja selama enam bulan. Jika hujan, kita semua kelaparan," kata Nguyen Quang Anh yang telah bekerja di ladang selama dua dekade.

Pihak berwenang Vietnam berjanji untuk mereformasi sektor ini pada 2014 dengan meluncurkan rencana memodernisasi industri, tapi hanya sedikit yang merasakan dampaknya. (Denny Parsaulian Sinaga/AFP/X-11)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More