Minggu 19 Mei 2019, 19:20 WIB

Tujuh Alasan Perempuan Ingin Berselingkuh

Kumara Anggita | Humaniora
Tujuh Alasan Perempuan Ingin Berselingkuh

Ilustrasi
Perselingkuhan

 

TAK ada orang yang merencanakan perselingkuhan dalam sebuah hubungan. Namun tanpa disangka, itu terjadi begitu saja pada siapa saja. Termasuk perempuan yang selama ini dianggap ‘lebih setia’.
 
Melansir dari psychology today, dalam hubungan hetereseksual jumlah perempuan dan laki-laki yang berselingkuh dalam pernikahan sama banyaknya. Penelitian menunjukkan bahwa 10 hingga 20 persen laki-laki dan perempuan dalam pernikahan atau hubungan berkomitmen (monogami) lainnya, akan secara aktif terlibat dalam aktivitas seksual di luar hubungan utama mereka.

Selain ingin mencari tantangan, berikut ada tujuh alasan umum mengapa perempuan berselingkuh:


Merasa Tak Dihargai
Perempuan merasa kurang dihargai atau diabaikan. Seiring berjalannya hubungan itu, mereka merasa lebih seperti pembantu rumah tangga, pengasuh, atau penyedia keuangan daripada seorang istri atau pacar. Jadi mereka mencari situasi dari luar yang memvalidasi mereka daripada sekedar melayani.


Menginginkan keintiman
Perempuan cenderung merasa dihargai dan terhubung dengan orang lain secara interaksi emosional dan non-seksual. Seperti berbicara, bersenang-senang bersama, membangun rumah, kehidupan sosial bersama, dan lain-lain daripada aktivitas seksual. Ketika mereka tidak merasakan jenis koneksi semacam ini dari pasangannya mereka dapat mencarinya di tempat lain.


Mereka menginginkan keintiman
Penelitian terbaru tentang perempuan yang selingkuh menunjukkan bahwa banyak dari mereka tetap berselingkuh walaupun pernah mengatakan mencintai pasangganya, rumah, pekerjaan, dan kehidupan.
 Perempuan dalam penelitian ini menggambarkan perasaan yang tak didukung dan kelelahan akibat mereka berusaha untuk menjadi segalanya bagi semua orang. Karena itu, mereka mencari seks di luar pernikahannya sebagai bentuk pemenuhan hidup.


Kesepian
Rasa kesepian muncul karena berbagai alasan. Bisa karena pasangan mereka bekerja berjam-jam atau melakukan perjalanan bisnis secara teratur, atau mungkin pasangan tak pernah ada mendukungnya secara emosional. Apa pun penyebabnya, mereka merasa kesepian, dan mereka mencari koneksi melalui perselingkuhan untuk mengisi kekosongan tersebut.


Berharap terlalu besar
Beberapa perempuan memiliki harapan yang tidak masuk akal tentang apa yang seharusnya diberikan oleh pasangan dan hubungan utama mereka. Mereka mengharapkan pasangannya untuk memenuhi setiap kebutuhan mereka setiap hari, setiap detiknya, dan ketika itu tidak terjadi, mereka mencari perhatian di tempat lain.


Seks yang buruk
Perempuan tidak memiliki hubungan seks yang cukup memuaskan di rumah. Ada kesalahpahaman sosial bahwa hanya laki-laki yang menikmati seks padahal banyak perempuan juga yang menikmatinya. Dan jika mereka tidak mendapatkannya di rumah atau tidak merasa puas untuk alasan apa pun, mereka mungkin mencarinya di tempat lain.


Trauma atas pelecehan di kehidupan awal
Kadang-kadang perempuan yang mengalami trauma awal (atau orang dewasa) yang mendalam, terutama trauma seksual, akan memerankan kembali trauma itu sebagai cara untuk mencoba menguasai atau mengendalikannya.
 
Orang yang melakukan perselingkuhan biasanya tidak menyadari bagaimana perselingkuhan yang mendalam mempengaruhi pasangan mereka dan hubungan mereka. Kecurangan semacam ini sangat menyakitkan dan terlepas dari apa status mereka.
 
Jika pasangan memilih untuk mengatasi situasi bersama, konseling pasangan dapat mengubah krisis hubungan menjadi peluang pertumbuhan. Sayangnya, bahkan ketika terapis berpengalaman terlibat dalam hal ini, beberapa pasangan tidak pernah bisa mendapatkan kembali rasa percaya itu kembali.
 
Namun kembali lagi ke setiap pasangan, jika kedua belah pihak sepakat untuk melihat kejadian ini sebagai akhir dari suatu hubungan, maka ia dapat dilihat sebagai ujian atas kematangan dan kemampuannya untuk menghadapi badai, maka besar kemugkinan hubungan bisa bertahan.  (Medcom/OL-9)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More