Mendag Optimistis IC-CEPA Dongkrak Perdagangan Indonesia-Cile

Penulis: Atikah Ishmah Winahyu Pada: Sabtu, 18 Mei 2019, 12:00 WIB Internasional
Mendag Optimistis IC-CEPA Dongkrak Perdagangan Indonesia-Cile

Dok Kehumas Mendag
Pertemuan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dengan delegasi Cile

MENTERI Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menghadiri forum bisnis yang merupakan rangkaian kegiatan misi dagang ke Santiago, Cile, Kamis (16/5).

Dalam forum bisnis tersebut Mendag didampingi Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Arlinda, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Iman Pambagyo serta Wakil Kepala Perwakilan RI untuk Cile Amin M Wicaksono.

Pada sambutannya, Mendag mengaku optimistis perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Cile (IC-CEPA) akan mendongkrak perdagangan kedua negara.

"Potensi pertumbuhan perdagangan Indonesia-Cile sangat besar. IC-CEPA tidak hanya akan meningkatkan ekspor Indonesia ke Cile saja, tetapi juga ekspor Cile ke negara-negara lain di kawasan Amerika Latin," kata Mendag.

Forum bisnis yang digelar dalam rangkaian kunjungan kerja Mendag ke Cile sekaligus sebagai upaya sosialisasi implementasi IC-CEPA yang diperkirakan segera berlaku pada Agustus mendatang.

Baca juga: Mendag Dorong Pelaku Usaha Proaktif

Acara tersebut turut mempertemukan para pelaku usaha Indonesia dan Cile dari bisnis ke binis (B to B) untuk melengkapi upaya pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah ke pemerintah (G to G).

“Dengan penandatanganan IC-CEPA, kegiatan itu menjadi efektif sebagai media sosialisasi sekaligus sebagai ajang berkenalan bagi para pelaku usaha yang baru pertama kali bertemu,” imbuh Mendag.

Potensi perdagangan Indonesia dengan Cile pascaimplementasi IC-CEPA diprediksi akan meningkat signifikan. Cile akan menjadi hub masuknya produk-produk Indonesia ke negara sekitarnya. Sedangkan Indonesia akan menjadi hub masuknya produk-produk dari Cile ke ASEAN serta Australia dan Selandia Baru.

Selain itu, Perjanjian Kemitraan Ekonomi Regional Komprehensif (RCEP) yang ditargetkan selesai tahun ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi Cile.

Isu lain yang mengemuka dalam forum bisnis tersebut adalah sertifikasi halal yang menjadi keharusan bagi produk makanan dan minuman agar bisa masuk ke Indonesia.

"Sertifikasi halal merupakan suatu keharusan, namun Pemerintah Indonesia akan membantu agar hal tersebut tidak menjadi suatu hambatan," jelasnya.

Menurut Mendag, salah satu komoditas Indonesia yang ekspornya berpotensi meningkat tajam adalah kertas.

Kebutuhan Cile terhadap produk kertas cukup tinggi, terbukti, ekspor kertas Indonesia ke Cile pada Januari-April 2019 naik 50% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Sehingga sampai akhir 2019 diperkirakan ekspor kertas dari Indonesia ke Cile naik sampai 200%," katanya.

Sementara itu, Direktur Pemasaran Charta Global Anthony Atamimi menyampaikan, dengan dihapusnya bea masuk komoditas kertas sebesar 6% ke Cile, produk kertas Indonesia akan semakin kompetitif dan berpotensi meningkatkan ekspor produk tersebut hingga tiga kali lipat.

Lebih lanjut Anthony berharap ekspor ke Cile tidak akan menemui hambatan perdagangan.

“Biaya logistik yang dikeluarkan untuk mengekspor kertas ke Cile tidak jauh berbeda dengan ekspor ke Amerika Serikat, serta karakteristik pasar Amerika Latin sebagai negara berkembang relatif lebih mudah dihadapi dalam melakukan penetrasi pasar,” imbuh Anthony.

Berdasarkan data Kemendag, nilai perdagangan Indonesia-Cile tercatat sebesar US$ 274,1 juta pada 2018. Dari nilai tersebut, Indonesia surplus sebesar US$ 43,87 juta.

Investasi Pengolahan Rumput Laut

Bersamaan dengan pelaksanaan penjajakan kesepakatan dagang (business matching), Mendag menerima sejumlah pelaku usaha Cile, termasuk Midesa.

Midesa merupakan perusahaan asal Cile yang berinvestasi di Sulawesi Selatan mulai tahun ini dengan nilai sebesar US$3 juta-4 juta. Investasi akan dilakukan dengan mendirikan tempat pengolahan rumput laut untuk dijadikan tepung yang kemudian diekspor.

“Dalam investasinya ini, Midesa memberdayakan para petani rumput laut lokal mulai dari budi daya rumput laut hingga pengolahan rumput laut menjadi tepung. Kerja sama dilakukan untuk pengolahan barang setengah jadi, bukan hanya barang mentah, sehingga ada nilai tambah terhadap produk,” jelas Mendag.

Alternatif Sumber Impor Susu

Pada kesempatan yang sama, Mendag juga bertemu dengan Manajer Ekspor Colun Company Sebastian Vargas. Colun adalah perusahaan penghasil produk-produk berbahan dasar susu dari Cile.

Dalam pertemuan tersebut Mendag menyampaikan keinginannya untuk menjajaki peluang sumber alternatif impor susu, selain dari Eropa.

"Colun sebagai penghasil susu dan produk-produk berbahan dasar susu memiliki peluang besar untuk menjadi alternatif negara sumber impor bagi Indonesia. Dengan masuknya Colun ke Indonesia, maka pasar produk-produk sejenis di Indonesia akan lebih kompetitif sehingga dapat meningkatkan kualitas produk dan menurunkan harga produk bagi konsumen," pungkas Mendag.

Usai menyelesaikan rangkaian kegiatan misi dagang di Santiago, Mendag dijadwalkan menghadiri pertemuan para Menteri yang bertanggung jawab di bidang perdagangan atau Ministers Responsible for Trade (MRT) pada Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC MRT) 2019 di Viña del Mar, Cile. Pertemuan ini akan berlangsung selama dua hari, yaitu pada 17?18 Mei 2019. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More