Jaga Lisan

Penulis: Ronal Surapradja Pada: Sabtu, 18 Mei 2019, 03:40 WIB celoteh
 Jaga Lisan

MI/ROMMY PUJIANTO
Ronal Surapradja

SETIAP Ramadan tiba, selalu muncul kegalauan dalam bekerja pada saya. Sebabnya ialah Allah memberikan rezeki kepada saya dalam bentuk kemampuan mengolah kata dalam siaran radio, syuting acara TV, menjadi MC sebuah acara, ataupun menulis untuk kolom ini.

Yang saya takutkan ialah kata yang diucapkan mulut saya atau jari yang saya ketikkan, bukanlah kata yang baik. Ingin rasanya berdiam minimal selama bulan Ramadan ini. Akan tetapi, kalau saya lakukan, saya enggak dapat penghasilan dong? Hehe.

Teringat nasihat Ali bin Ali Thalib RA, bahwa lidah orang berakal berada di belakang hatinya, dan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya. Memang setiap kata yang keluar pasti sudah saya pikirkan dengan baik. Namun, namanya juga manusia, mungkin suatu saat bisa terpeleset.

Lisan merupakan salah satu nikmat Allah yang diberikan kepada kita. Lisan merupakan anggota badan manusia yang kecil jika dibandingkan dengan anggota badan yang lainnya. Akan tetapi, ia dapat menyebabkan pemiliknya ditetapkan sebagai penduduk surga atau dilemparkan ke neraka berdasar apa yang diucapkannya.

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari tahun politik seperti tahun ini. Kita bisa saksikan di media massa (juga media sosial) begitu banyak mereka yang melakukan maksiat lisan. Jenisnya beragam, dari menghina, menuduh, memberi kesaksian palsu, dan tentunya berkata bohong sekaligus menyebar dan mendukung berita bohong.

Seorang ahli hikmah mengatakan, berbicara tanpa dilandasi pemikiran yang matang merupakan sebuah kesalahan fatal. Mengapa demikian? Karena faktanya tidak sedikit orang yang hancur karena hanya oleh ucapannya mereka sendiri.

Masalahnya, menjaga lisan dari berkata bohong, bergunjing, menyindir, dan sejenisnya di zaman sekarang menjadi hal yang berat karena perbuatan tersebut telah menjadi kebiasaan yang lumrah dilakukan.

Zaman dahulu, perkataan yang punya efek besar biasanya yang diucapkan orang besar. Akan tetapi, kini siapa pun bisa menjadi 'besar' karena ucapannya.

Adanya media, terutama media sosial, membuat perkataan siapa pun bisa memiliki efek merusak yang besar dengan jangkauan yang luas. Caranya pun semudah jari kita me-repost, me-retweet, atau copy paste sebuah kabar yang belum jelas kebenarannya atau memang dengan niat sengaja menyebarkan sebuah kebohongan.

Untuk mereka yang terang-terangan, okelah saya anggap mereka sebagai orang yang 'berani' jika nanti diminta pertanggungjawaban. Akan tetapi, mereka yang menggunakan akun anonim atau mengawali penyebaran sebuah kabar yang belum jelas kebenarannya dengan 'copas dari grup sebelah', menurut saya ini ialah cara seorang pengecut, dan jumlah yang kedua ini jauh lebih banyak melebihi yang pertama.

Kesalahan manusia di zaman sekarang ialah mendengar setengah, mengerti seperempat, berpikir nol, tapi bicaranya double. Kabar belum jelas (apalagi kabar bohong) yang bisa jadi dimengerti pun tidak, tanpa pikir panjang langsung diteruskan ke orang lain, tentunya dengan tambahan bumbu penyedap kata. Masih mending jika kabar A 'hanya' berubah jadi A aksen. Yang terjadi sering kali kabar A disebarluaskan menjadi kabar B sehingga kabar yang beredar sudah berbeda sangat jauh dengan kabar aslinya.

Perbaiki hatimu dan hatimu akan memperbaiki pikiranmu. Lalu pikiranmu akan memperbaiki lisanmu. Kemudian lisanmu akan memperbaiki hidupmu. Pada akhirnya, hidupmu akan memperbaiki akhiratmu.

Karena sejatinya lisan dan tulisan itu bukan urusan mulut atau jari, melainkan masalah hati. Lisan dan tulisan ialah cerminan kepribadian dan apa yang ada di hati kita. Jika yang keluar itu baik, itulah cerminan baiknya kepribadian dan hati, begitu pun sebaliknya.

Khalifah Umar bin Abdul Azis berkata, "Hati itu adalah harta rahasia, bibir adalah gemboknya, dan lisan adalah kuncinya. Maka, hendaklah setiap orang menjaga kunci rahasianya itu."

Ini sesuai dengan yang diucapkan Rasulullah SAW, "Berkata baiklah atau diam". Memang diam itu emas, tapi berbicara penuh ilmu dan sarat hikmah adalah berlian. Maka dari itu, lisan yang dirawat dengan baik, ibarat cincin emas bertakhtakan berlian. Jadi, pilih mana yang akan keluar dari mulut kita, kotoran atau berlian? (H-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More