Jumat 17 Mei 2019, 03:45 WIB

Dosa Pertama

Ronal Surapradja | celoteh
Dosa Pertama

MI/ADAM DWI
Ronal Surapradja

SAAT menunggu kereta di Stasiun MRT Bundaran HI sepulang syuting, saya dihampiri seorang ibu. Secara tiba-tiba dia menunjuk saya sambil bilang, “Mas, kok sombong banget sih?.”

Lah, kenal juga enggak, kok ujuk-ujuk nuduh orang lain sombong? Bingung dan kesal, he he.

Lalu, saya tanya mengapa menuduh saya seperti itu? Dia bilang karena saya diam terus dan berwajah serius. Padahal, kalau di radio atau TV biasanya omongannya lucu dan wajahnya komedi.

Ingin rasanya saya menembakkan confetti ke atas ibu itu untuk merayakan cara berpikirnya yang ajaib, ha ha.

Allah memberi saya rezeki lewat kemampuan saya berbicara, seperti siaran radio, syuting TV, MC di panggung, dan jadi pembicara. Pokoknya, kerjaan saya itu ngomong dan ngomong.

Mungkin si ibu tidak tahu kalau itu melelahkan. Karenanya, saya lebih banyak berdiam saat tidak kerja, tujuannya ialah mengistirahatkan pita suara yang menjadi modal kerja saya. Lah, kok orang sedang istirahat dibilang sombong sih?

Gini deh. Penyanyi juga enggak selamanya bernyanyi dan petinju enggak selamanya bertinju kan?

Akan tetapi, menuduh orang lain sombong itu sering kali kita lakukan bukan? Hakikatnya sama saja saat kita ucapkan atau hanya terlintas dalam pikiran. Yang lebih parahnya lagi, kita tidak mengenal orang yang kita tuduh sombong dengan baik. Tuduhan sombong itu hanya asumsi kita dari penampilan luar, ekspresi, gestur, dan mungkin gaya bicara seseorang.

Coba deh pikirkan, bukankah malah itu yang membuat kita sombong?

Kita diajari bahwa sombong ialah sebuah dosa. Meski kesannya dosa sombong tidak sebesar dosa lainnya, tahukah dosa yang pertama kali dilakukan kepada Allah itu ialah kesombongan?

Ingatkah kisah saat Allah memerintahkan semua mahluk untuk bersujud kepada Adam? Semua bersujud, kecuali iblis. Iblis hasad kepada Adam dengan kemuliaan yang Allah berikan kepada Adam. Iblis merasa lebih tinggi derajatnya karena diciptakan dari api, sedangkan Adam diciptakan dari tanah. Kesombongan, inilah dosa yang pertama kali terjadi. Karena sombong, iblis terusir dari surga, menjadi hina, dan akan menjadi penghuni neraka selamanya.

Semua orang punya potensi sombong karena sombong itu sifat yang manusiawi. Teringat beberapa waktu lalu ketika seorang penceramah yang menghina fisik seorang artis. Banyak yang menyayangkan kejadian tersebut dan menunggu permintaan maaf dari sang penceramah.

Namun, yang ada ialah klarifikasi pembelaan bahwa ‘sombong kepada orang yang sombong, sedekah’. Ia seolah tidak tahu dan tidak tahu kalau dirinya tidak tahu. Tidak ada celah yang dapat melegitimasi kata-katanya itu, apa pun alasannya.

Saya kira di bulan Ramadan ini berita di media hanya akan berisi soal kebaikan. Ternyata tidak. Keriuhrendahan tahun politik masih terasa, meskipun sudah tidak sekencang masa sebelum pemilu digelar.

Setiap hari di media massa kita bisa melihat kesombongan dalam berbagai bentuk. Kata-kata yang melecehkan orang lain diumbar, bahkan sampai jauh melewati batas kesantunan. Sering kali diucapkan mereka yang berbalut simbol agama. Ini merupakan sebuah bentuk kesombongan, buah dari selalu merasa benar sendiri, yang akhirnya akan menolak kebenaran apa pun selain kebenaran versi dirinya.

Sombong kok combo, he he. Akan tetapi, tetap sejelas apa pun kesombongan itu dipertontonkan, usahakan untuk tidak menjadi hakim bagi orang lain. Lebih baik energinya kita pakai untuk introspeksi, jangan-jangan selama ini kita sudah berbuat seperti mereka yang kita anggap sombong tersebut.

Jika kesombongan itu sedang mampir, cepatlah sadar. Ingatlah bahwa kita ini manusia yang berasal dari tanah, makan dari hasil tanah, berdiri di atas tanah, dan kelak akan kembali ke tanah. Lalu kenapa kita masih bersifat langit? (H-1)

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More