Kamis 16 Mei 2019, 16:55 WIB

Jalur Kalimalang, Jalur Mudik Paling Bermasalah

Gana Buana | Megapolitan
Jalur Kalimalang, Jalur Mudik Paling Bermasalah

ANTARA FOTO/Risky Andrianto/ama.
JALAN KALIMALANG BEKASI RUSAK

 

JALAN KH Noer Ali atau Kalimalang merupakan jalur mudik yang paling banyak permasalahan. Hal ini teridentifikasi pasca Pemerintah Kota Bekasi memetakan jalur mudik yang akan dilalui pemudik saat melintas Kota Bekasi.

Seperti yang diketahui, sedikitnya ada sembilan jalur mudik yang telah dipetakan oleh pemerintah setempat. Sembilan jalur mudik itu adalah jalan Sultan Agung, jalan Jendral Sudirman, jalan Djuanda, jalan I Gusti Ngurah Rai, jalan Ahmad Yani, jalan KH Noer Ali Kalimalang, jalan Mayor Hasibuan, jalan Chairil Anwar dan jalan Cut Meutia.

Baca juga: Pengamat: Pembangunan Stadion BMW Sebaiknya Ditunda

Kepala Bidang Teknik Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Bekasi, Johan Budi Gunawan, mengatakan penanganan lalu lintas di tiap ruas jalur mudik tentu berbeda. Dari sembilan ruas jalur mudik itu, jalan KH Noer Ali Kalimalang paling banyak mendapat permasalahan.

“Sedikitnya, ada lima persoalan di ruas jalan ini,” ungkap Johan, Kamis (16/5).

Johan menjabarkan, adapun persoalan di ruas jalan tersebut antara lain kontur jalan bergelombang, kapasitas jalan tidak sama, kemampuan jalan maksimal 5 ton, terletak di kawasan perdagangan sehingga berpotensi kemacetan serta pola perjalanan internal kota sangat tinggi. Apalagi saat ini di ruas jalan ini terdapat pembangunan tol layang Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu).

Ia menjelaskan, ada tiga strategi lagi untuk menghadapi persoalan di ruas Kalimalang. Di antaranya pemasangan rambu, pemasangan pembatas ketinggian di kolong tol JORR dan penyesuaian fase traffic light (lampu lalu lintas).

Sedangkan untuk persoalan di ruas Jalan Chairil Anwar antara lain kapasitas jalan yang tidak sebanding dengan volume kendaraan, jumlah dan jarak persimpangan relatif dekat. Tiga persoalan inilah yang memicu kemacetan di titik tersebut.

“Antisipasi yang dilakukan oleh dinas adalah manajemen lalu lintas satu arah dan penyesuaian fase TL di titik ini,” kata dia.

Kemudian, persoalan di Jalan Ir. H. Juanda adalah kapasitas jalan dengan volume lali lintas tidak sebanding. Di ruas jalan tersebut juga terdapat Stasiun Bekasi yang memiliki tingkat kepadatan penumpang yang sangat tinggi, di sekitar kawasan sekitar terdapat perdagangan dan permukiman.

Sedangkan, untuk Jalan Mayor Hasibuan, persoalan yang dihadapi adalah kapasitas jalannya lebih kecil dibanding volume kendaraan yang mengarah ke timur. Dinas Perhubungan akan memberlakukan tiga strategi di antaranya pemberlakuan satu arah, larangan parkir sembarangan dan penyesuaian fase TL. Untuk Jalan Cut Meutia memiliki persoalan jarak antar simpang relatif dekat. Solusi yang ditawarkan adalah penyesuaian fase TL.

“Kalau untuk Jalan Sudirman dan Jalan Ahmad Yani kita hanya melaklukan penyesuaian fase TL saja,” ungkapnya.

Terakhir, jalur mudik di Jalan I Gusti Ngurah Rai. Jalan yang menjadi penghubung antara Kota Bekasi dengan DKI Jakarta ini mengalami kerusakan, hingga perlu diperbaiki oleh dinas terkait. Dari sembilan jalur mudik itu, rupanya ada satu jalan lagi yang patut dilakukan antisipasi. Ruas jalan itu berada di Tarum Barat, atau Jalan Cempaka yang menjadi penghubung antara Kota Bekasi dengan Kabupaten Bekasi.

Baca juga: Polisi Lakukan Patroli Malam Hari Guna Pastikan Keamanan Jakarta

Johan mengatakan, di ruas jalan tersebut ada kerusakan jalan, tiga simpang yang diatur oleh Pak Ogah dan jarak simpang relatif dekat. Kemudian solusi yang dilakukan adalah perbaikan jalan dan simpang harus diatur oleh petugas.

“Strategi-strategi ini akan kita lakukan agar pemudik yang melintasi Kota Bekasi tidak mengalami hambatan,” pungkasnya (OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More