Asita Riau: Penurunan Tarif Pesawat belum Realistis

Penulis: Rudi Kurniawansyah Pada: Kamis, 16 Mei 2019, 15:56 WIB Nusantara
Asita Riau: Penurunan Tarif Pesawat belum Realistis

Antara
Asita Riau mengapresiasi penurunan tarif batas atas tiket pesawat oleh pemerintah, namun belum realistis.

KETUA Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Riau, Dede Firmansyah mengapresiasi penurunan tarif batas atas tiket pesawat oleh pemerintah. Hanya saja, Dede beranggapan persentase penurunan tarif batas atas seharusnya lebih dari itu.

Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menurunkan tarif batas atas, tiket pesawat senilai 12% hingga 16%. Tarif batas atas terbaru itu, mulai berlaku efektif Kamis (16/5) dan akan terus dievaluasi.

"Kalau ukuran 12% sampai 16% itu masih mahal. Seharusnya 35% sampai 45% baru realistis," kata Dede Firmansyah kepada Media Indonesia di Pekanbaru, Kamis (16/5).

Dede menilai, penurunan tarif batas atas tidak realistis. Sebab kenaikan harga tiket sudah dikeluhkan sejak akhir 2018.

"Karena dari Desember 2018 hingga Januari 2019 kenaikan lebih 50% sampai 60%. Jadi realistisnya penurunan tarif batas atas 35% sampai 45%," tegasnya.

Bahkan Dede memprediksi, meski tarif batas atas turun 16%, tingkat arus penumpang di peak season (musim libur) mudik nanti akan terjadi penurunan.

"Kalau dibandingkan mudik tahun ini sama tahun lalu, tentu akan sangat sedikit yang mudik," jelas Dede.

baca juga: Singgih, Peternak Ayam yang Melenggang ke Senayan

Alhasil, selain arus mudik yang turun, terutama penumpang pesawat, banyak di antara pemudik yang sudah memutuskan lewat jalur laut saja. Mengingat mudik biasanya dengan jumlah anggota keluarga banyak. Jika tiket pesawat mahal, mau tak mau, kalau tetap mudik mestilah naik angkutan darat, atau tidak mudik tahun ini.

"Mau tak mau kalau ingin mudik juga ya pilih angkutan darat sebab tiket pesawat masih mahal," ungkapnya.(OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More