BI Diprediksi Tahan Suku Bunga Acuan di 6%

Penulis: Atalya Puspa Pada: Kamis, 16 Mei 2019, 10:40 WIB Ekonomi
BI Diprediksi Tahan Suku Bunga Acuan di 6%

ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (kanan) didampingi Deputi Gubernur BI Erwin Rijanto (tengah) dan Dody Budi Waluyo (kiri)

RAPAT Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) akan dilaksanakan pada hari ini, Kamis (16/4). Berkaitan dengan itu, Kepala Ekonom Bank Nasional Indonesia (BNI) Ryan Kiryanto memperkirakan BI akan menahan suku bunga acuan di 6%.

"Saya kira RDG BI, Kamis (16/5), masih akan tetap mempertahankan suku bunga acuan atau BI7DRRR di level 6% dengan beberapa pertimbangan dari faktor eksternal dan internal," kata Ryan kepada Media Indonesia, Rabu (15/4).

Ryan menuturkan, dari faktor eksternal, diyakini arah gerak fed fund rate (FFR) semakin longgar atau dovish dengan The Fed tidak lagi agresif menaikkan FFR.

Bahkan, dirinya menyatakan, ada potensi FFR akan diturunkan 25 bps dalam jangka pendek ini ke level 2,0-2,25%.

Hal itu disebabkan inflasi Amerika Serikat (AS) yang rendah di bawah 2% atau tepatnya 1,7% atau di bawah ekspektasi.

Baca juga: Defisit Neraca Perdagangan Perlu Diwaspadai

Selain itu, ada indikasi perlambatan pertumbuhan ekonomi AS di bawah 3% sesuai perkiraan IMF pada April lalu.

"Pilihan The Fed cuma dua, antara menahan FFR di level saat ini yang 2,25%-2,50% atau menurunkan FFR hanya sekali sebesar 25 bps menjadi 2,0%-2,25%," tambah Ryan.

Dirinya menuturkan, telah banyak desakan yang diarahkan kepada Chairman the Fed Jerome Powel yang menghendaki FFR turun 25 bps menjadi 2,0%-2,25% hingga akhir 2019 untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi AS menuju 3% dan inflasi 2% lagi. Sejumlah bank sentral di dunia juga sudah menurunkan suku bunga acuannya.

Dari faktor internal, Ryan menilai BI dan pemerintah memiliki stance atau pandangan yang sama, yakni stability over growth (memprioritaskan stabilitas sambil menjaga momentum pertumbuhan) sehingga pilihan paling rasional dan strategis adalah RDG BI tetap menahan BI7DRRR di level 6%.

Langkah BI yang pada 2018 lalu secara agresif menaikkan BI7DRRR sebesar 175 bps dari 4,25% ke 6% merupakan langkah yang tepat dan taktis mengiringi kenaikan FFR 100 bps pada saat itu

"Sehingga jika RDG BI saat ini tidak menaikkan BI7DRRR alias tetap di level 6% sebagaimana RDG April 2019 lalu adalah langkah tepat," tutur Ryan.

Keputusan tersebut, katanya, bisa membantu penguatan daya tahan ekonomi Indonesia terhadap tekanan eksternal (trade war Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok, risiko geopolitik, perlambatan ekonomi global, masih melemahnya harga komoditas dan kebuntuan solusi Brexit), menjaga stabilitas makroekonomi, khususnya tekanan terhadap rupiah pasca rilis BPS yang mencatat defisit neraca perdagangan April 2019 yang sebesar US$2,5 miliar dan mempertahankan daya tarik investor asing untuk memegang aset dalam rupiah karena lebih atraktif.

Selain itu, keputusan BI dalam mempertahankan suku bunga acuan juga membantu masuknya dana asing atau capital inflows yang dapat menguatkan kurs rupiah, IHSG di BEI serta memperkecil defisit transaksi berjalan (CAD) yg berkisar 2,6% dari PDB.

"Ditahannya BI7DRRR akan direspon positif kalangan perbankan, sektor riil dan investor portofolio karena level 6% ini dinilai akomodatif," ucapnya.

Di sisi lain, relaksasi kebijakan makroprudensial seperti loan to value (LTV), rasio intermediasi (RIM) dan penyangga likuiditas makroprudensial (PLM) dan kebijakan lanjutannya bisa diperkuat sehingga bauran kebijakan BI akan sangat tepat menjadi jamu manis untuk memperkuat daya tahan perekonomian nasional.

"Pascapemilu, kini saatnya roda perekonomian bergerak lebih cepat untuk menjaga momentum pertumbuhan pada kisaran 5,1-5,3% tahun ini," tutup Ryan. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More