Sepuluh Pemimpin Muda Serukan Perdamaian

Penulis: Dede Susianti Pada: Kamis, 16 Mei 2019, 09:10 WIB Politik dan Hukum
Sepuluh Pemimpin Muda Serukan Perdamaian

MI/BARY FATHAHILAH
10 tokoh pemimpin muda menggelar rapat tertutup di Museum Kepresidenan Balai Kirti, Kompleks Istana Bogor, Jawa Barat.

SEPULUH tokoh pemimpin muda menggelar rapat tertutup di Museum Kepresidenan Balai Kirti, Kompleks Istana Bogor, Jawa Barat, kemarin.

Mereka merumuskan strategi perdamaian jelang pengumum-an hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 pada 22 Mei mendatang .

Hadir dalam rapat itu Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Zulkieflimansyah, Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, Bupati Banyuwangi Azwar Anas, Wali Kota Tanggerang Selatan Airin Rachmi Diany, Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid, Ketua Komando Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, dan Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto selaku tuan rumah.

Sedianya acara tersebut dihadiri juga Gubernur DKI Anies Baswedan. Namun, menurut Bima Arya, Anies Baswedan batal hadir karena menghadiri syukur-an Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang baru saja menerima predikat wajar tanpa pengecualian (WTP) dari BPK.

"Mas Anies sempat oke. Pertama Mas Anies sangat responsif, tadi pagi juga oke. Tapi mendadak tadi menjelang sore dikabari ternyata ada syukuran," ujar Bima Arya yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN).

Mereka yang hadir kompak menggunakan setelan putih-hitam, terkecuali Ganjar Pranowo yang mengenakan lurik lengkap dengan blankon.

Mereka datang bersamaan dari Kantor Wali Kota Bogor di Jalan Juanda atau jaraknya hanya sekitar 300 meter. Mereka menaiki Uncal, bus wisata khas Kota Bogor. Suasana ruangan rapatnya santai, tapi sedikit formal dengan meja dan kursi setengah lingkaran.

Acara rapat bertajuk Silaturahmi Bogor untuk Indonesia tersebut digagas Bima Arya. Menurut Bima, ia bersama sembilan tokoh muda yang hadir memiliki kepentingan yang sama, yakni menginginkan Ramadan lebih mengedepankan suasana yang sejuk di tengah hiruk pikuk pemilu.

Bima berharap pertemuan ini bisa menginspirasi masyarakat Indonesia untuk membangun kebersamaan. "Kita ingin Indonesia yang damai, seluruh pembicaraan tadi energi positif dan optimistis membangun Indonesia dengan cara yang damai," kata Bima.

Bima pun menjawab diplomatis ketika ditanya apakah kegiatan tersebut sudah ada sebelum pemilu, atau baru digelar sesudah pemilu.

"Sebetulnya kami sering bertemu dalam berbagai hal. Kami sering bertemu, ya cuma sekarang ini pas bulan Ramadan aja, Ramadan ini, saya kira penting untuk mencontohkan bahwa kita juga cinta silaturahim dan kita menempatkan persahabatan di atas segalanya. Kemanusiaan di atas politik," pungkasnya.

Tunggu hasil
Agus Harimurti Yudhoyono atau yang kerap disebut AHY menyampaikan pertemuan itu merespons kekhawatiran atas perkembangan situasi di Tanah Air saat ini.

"Ternyata sampai hari ini perselisih-an karena beda pilihan masih berlarut. Pertanyaannya, sampai kapan? Mudah-mudahan kebersamaan kami menginspirasi generasi muda khususnya yang juga aktif dalam proses politik," kata AHY seusai rapat.    

Menurut AHY, Ramadan ini harus digunakan masyarakat Indonesia sebagai momentum meredakan ketegangan pascapemilihan sembari menunggu hasilnya pada 22 Mei 2019.

"Jangan sampai perbedaan identitas di antara kita membuat negara kita semakin terpecah, justru perbedaan itu kekuatan bangsa ini. Semoga kita semua semakin dewasa dan bijaksana. Kita tunggu hasil," tandas AHY. (Ant/P-2)  

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More