Kamis 16 Mei 2019, 07:10 WIB

Tren Ideologi Transnasional

Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta | Renungan Ramadan
Tren Ideologi Transnasional

MI/Seno
Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

DUNIA Islam menghadapi sebuah tantangan yang amat sophisticated. Perkembangan sains dan teknologi melahirkan gelombang peradaban yang amat radikal. Mobilitas umat yang tinggi dan pola migrasi umat Islam membawa hegemoni tersendiri di dunia Barat.

Selama dua dasawarsa terakhir diperkirakan lebih dari lima juta umat Islam melakukan eksodus besar-besaran ke negara-negara maju seperti di Eropa, Amerika, Australia, dan Asia Selatan. Berbagai krisis yang melanda Timur-Tengah seperti krisis politik, ekonomi, dan sosial di negerinya membuat kalangan masyarakat dunia Islam Timur Tengah memilih hijrah ke negara-negara tersebut.  

Menurut Murad W Hofmann, mantan Direktur Informasi NATO, dalam bukunya Religion on the Rise, Islam in the Third Millennium, eksodus umat Islam besar-besaran akan memberikan dampak hegemoni sosial-politik dunia, mengingat Islam ialah sistem ajaran yang menuntut loyalitas kepada penganutnya.

Di sini umat Islam akan diuji, mampukah bertahan bersama identitasnya di tengah perubahan sosial yang amat kompleks.

Menarik untuk dianalisis generasi baru muslim/muslimah yang lahir di AS. Apakah mereka akan lebih berat mempertahankan dirinya sebagai warga negara AS atau tetap mengedepankan entitas keislamannya?

Di AS kini lahir generasi kedua mereka yang tetap beragama Islam (the western-born and the second-generation muslim). Dari mana pun dan di mana pun komunitas Islam itu berada selalu menciptakan lingkungan sosial unik karena mereka memiliki simbol-simbol perekat (melting pot) berupa masjid, halal food, pendidikan dasar keagamaan untuk anak-anak mereka, dan majelis taklim untuk para orangtua.

Dari satu sisi keterikatannya dengan negara asal sangat kuat karena tokoh-tokoh keagamaan karismatik dari negerinya tetap dijalin. Bahkan secara periodik tokoh spiritual itu didatangkan ke negeri baru ini untuk memberikan pencerahan.
Pada sisi lain, generasi kedua muslim ini dituntut oleh negeri baru ini untuk memberikan loyalitas penuh sebagaimana halnya warga lainnya yang lahir di negeri tersebut.

Satu sisi secara emosional dan spiritual warga muslim masih tetap terikat dengan negeri asal, tetapi secara hukum ketatanegaraan setempat mengharuskan mereka untuk sepenuhnya loyal kepada negara barunya.

Kenyataan, umat Islam di negara 'kedua' ini membayar pajaknya kepada negara tempat mereka berdomisili. Namun, zakat harta mereka dikembalikan ke negeri asalnya, bahkan sebagian di antara mereka masih menyerahkan binatang kurban dan kambing 'akikah' ke negerinya. Sebagian juga masih membangun rumah di negeri asal, termasuk dana yang dikumpulkan diinvestasikan ke negeri asalnya.

Kegigihan dan keuletan umat Islam bekerja di tempat lain tentu saja memberikan dampak lain di negara yang dituju. Suatu saat Wali Kota Philadephia AS memberanikan diri untuk memberikan pengakuan komunitas muslim di wilayahnya. Ternyata itu tidak mengundang reaksi berlebihan dari kalangan mayoritas beragama Nasrani di wilayahnya.

Para imigran muslim bisa lebih mudah menyatukan diri dengan para warga setempat di lingkungan masing-masing. Perubahan positif warganya di bagian utara Philadelphia mengundang simpati banyak orang.

Black American di bagian utara tadinya memiliki kebiasaan buruk seperti jorok, penggemar minuman beralkohol, angka kriminal tinggi, perjudian, dan prostitusi. Akan tetapi, setelah kebanyakan di antara mereka masuk Islam dan ternyata lingkungan mereka menjadi bersih, kebiasaan buruk narkoba dan minuman beralkohol menurun, mutu sekolah-sekolah mereka menjadi lebih baik daripada Philadelphia selatan yang didominasi warga AS kulit putih.

Umat Islam yang berada di mana-mana tidak terlalu sulit menjadi pengungsi di negara-negara lain karena ada lembaga khusus di PBB yang begitu berwibawa mengawasi mobilitas para pengungsi. Sebagai pekerja ulet dan tekun, tidak sedikit jumlah populasi muslim menembus kelas menengah atas dalam dunia ekonomi di AS dan Eropa.

TAFSIR AL-MISHBAH

Read More

CELOTEH

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Selasa, 17 Sep 2019 / 12 Ramadan 1440 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : 04:25 WIB
Subuh : 04:35 WIB
Terbit : 05:51 WIB
Dhuha : 06:19 WIB
Dzuhur : 11:53 WIB
Ashar : 15:14 WIB
Maghrib : 17:47 WIB
Isya : 18:59 WIB

PERNIK

Read More