Rabu 15 Mei 2019, 22:48 WIB

Indonesia-Malaysia Sepakat Bawa Persoalan Sawit ke WTO

Dero Iqbal Mahendra | Internasional
Indonesia-Malaysia Sepakat Bawa Persoalan Sawit ke WTO

Dok. Sekretariat Wakil Presiden RI
Wapres Jusuf Kalla saat bertemu Wakil PM Malaysia Wan Azizah Wan Ismail

 

DALAM rangkaian kegiatan lawatannya di Jenewa, Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla bertemu dengan Wakil PM Malaysia Wan Azizah Wan Ismail di Hotel Beau Rivage Jenewa, Swiss, Rabu, 15 Mei 2019, pukul 10.15 waktu setempat.

Dalam pertemuan tersebut Wakil PM Malaysia menyampaikan perlunya meningkatkan kampanye bersama untuk penyelesaian kasus kelapa sawit, serta mengajak pemerintah dan swasta Indonesia berperan aktif dalam kampanye anti diskriminasi kelapa sawit oleh Uni Eropa.

Menanggapi hal tersebut, Jusuf Kalla menjelaskan bahwa Pemerintah Indonesia tengah mempersiapkan penyampaian pengaduan Dispute Settlement Body WTO yang akan diawali dengan proses perundingan terlebih dulu dalam kurun waktu 60 hari.

Jusuf Kalla juga mengemukakan, dalam rangka peningkatan hubungan perdagangan dan investasi bilateral Indonesia-Malaysia, perlu bagi ASEAN untuk membahas dampak perang dagang AS-Tiongkok yang dinilai dapat berpengaruh positif maupun negatif terhadap industri nasional.

Dalam pertemuan selama kurang lebih 30 menit tersebut Wapres didampingi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Wakil Menteri Luar Negeri A.M. Fachir, Wakil Tetap RI di Jenewa Hasan Kleib, dan Kepala Sekretariat Wakil Presiden Mohamad Oemar.

Baca juga : Wapres: Bansos Pangan Akan Dikembalikan dalam Bentuk Raskin

Seusai Wakil PM Malaysia meninggalkan ruang pertemuan, Wapres menyempatkan memberikan keterangan pers kepada media dan mengemukakan kembali bahwa Indonesia-Malaysia telah sepakat untuk membawa penyelesaian kelapa sawit tersebut ke WTO.

“(Untuk) Indonesia dan Malaysia (sawit) juga salah satu produk yang penting. Malaysia juga sama, antara nomor 1 atau nomor 2 produsen (sawit) di dunia," terangnya.

Diakhir penjelasannya, Wapres menjawab pertanyaan media mengenai agenda sore ini menghadiri The Christchurch Call to Action di Paris.

Dalam keterangan persnya, bahwa ia di Istana Elsyee Paris akan berbagi pengalaman Indonesia menghadapi teroris dan juga soal ideologi, karena selama ini Indonesia salah satu negara yang dinilai berhasil meredam ideologi yang radikal.

“Sekarang ideologi masuk lewat internet, jadi berubah, keduanya baik yang Islam juga. Kemarin di Christchurch itu pengaruh dari internet," ungkapnya.

“Perlu ada public private partnership (PPP) dalam bidang penyelesaian masalah terorisme di media online," pungkasnya.

Selain para pemimpin negara, akan hadir di Paris para petinggi industri media dan IT dunia, seperti CEO Twitter, Presiden Microsoft, Wakil Presiden Google/YouTube, dan Wakil Presiden Facebook/Instagram/WhatsApp.

Sedangkan Wapres diagendakan lepas landas dari Bandar Udara Internasional Cointrin, Jenewa menuju Bandar Udara Le Bourget di Paris pada pukul 13.00 WS dengan didampingi oleh rombongan terbatas Wakil Menteri Luar Negeri A.M. Fachir dan Kepala Sekretariat Wakil Presiden Mohamad Oemar.(OL-8)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More