Kalangan Kampus Dukung Rencana Pemindahan Ibu Kota

Penulis: Syarief Oebaidillah Pada: Rabu, 15 Mei 2019, 21:30 WIB Humaniora
Kalangan Kampus Dukung Rencana Pemindahan Ibu Kota

Medcom.id/Citra Larasati.
Diskusi Terbuka bersama Senat Mahasiswa President University tentang "Pemindahan Ibu Kota" di Jakarta,

MENGINGAT kondisi Jakarta yang dinilai tidak layak lagi sebagai pusat pemerintahan dan usaha, rencana Presiden Joko Widodo yang akan memindahkan Ibu Kota Negara ke wilayah lain mendapat dukungan dari kalangan kampus.

"Pak Jokowi adalah Presiden kita yang berani, langkah beliau yang memantapkan gagasan lama sejak era Bung Karno untuk memindahkan Ibu Kota Negara memerlukan dukungan masyarakat. Untuk itu, kami jajaran President University dan mahasiswa mendukung langkah ini,” kata pendiri President University, SD Darmono, pada diskusi 'Pandangan dan Masukan tentang Pemindahan Ibu Kota: Ditinjau dari Aspek Pendidikan, Ekonomi, Sosial, Politik, dan Lingkungan', di Jakarta, Rabu (15/5).

Acara yang digelar Senat Mahasiswa President University ini menghadirkan pula Penasihat Rektor President University, Chandra Setiawan, Wakil Rektor Presiden University, Handa S Abidin.

Darmono, yang juga Chairman Jababeka Group ini, mengutarakan pengalamannya dalam membangun Kota Cikarang, Jawa Barat, melalui PT Jababeka, dengan berbagai unit usaha menopangnya melalui pembangunan pendidikan jenjang menengah hingga pendidikan tinggi yakni kampus President University di kawasan tersebut.

Berkaca dari negara Singapura, Darmono mengutarakan, kota negeri tetangga itu berhasil dibangun menjadi kota penting di dunia dalam tempo yang pendek melalui pendidikan dengan mendirikan dua kampus ternama yakni National University of Singapore (NUS) dan Nanyang Technological University (NTU), serta 25 politeknik.

"Dengan dua kampus utama itu untuk pembekalan teori dan politeknik untuk praktek yang disiapkan sumber daya manusia bagi perusahaan asing yang masuk sehingga Singapura menjadi negara maju," ungkapnya seraya menambahkan pentingnya ibu kota baru mempersiapkan fasilitas pendidikan yang memadai pula.

Selain itu, Singapura berhasil karena membangun untuk praktek bisnis melalui pembangunan kawasan industri Jurong Namun begitu, ia mengingatkan keberhasilan negeri Singa ini juga ditopang penegakan aturan hukum yang tegas dan keras yang tidak berubah ubah serta kebiasaan disiplin yang baik.

"Maka investor yang masuk merasa aman, karena hukumannya tegas, dan fasilitas yang baik sehingga investor menikmati berinvestasi di negara ini," tandasnya.

Ia juga mencontohkan pemindahan ibu kota di sejumlah negara yang telah berlangsung di negara Australia dengan ibu kota Canberra dan Malaysia dengan ibu kota Putra Jaya.

Mengingat masa jabatan Jokowi ke depan hanya lima tahun mendatang, ia mengusulkan pemindahan ibu kota secara praktis ke daerah yang telah maju ke Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Jabatan Pak Jokowi akan lima tahun saja ke depannya, dan penggantinya nanti mungkin bisa berubah lagi. Maka saya mengusulkan di Yogyakarta yang praktis tanpa biaya mahal dan cepat ketimbang daerah lainnya," pungkas Darmono.


Baca juga: Kota di Indonesia Menuju Pembangunan Hijau


Dalam kesempatan itu, sejumlah mahasiwa President University menyampaikan pandangan dan dukungan pemindahan ibu kota dengan sejumlah catatan.

Muhammad Afli mengatakan, rencana pemindahan ibu kota dari Jakarta juga didorong oleh kemampuan daya dukung lingkungan Jakarta yang semakin menurun. Sebagai contoh, pada 2017 pertumbuhan kendaraan di Jakarta tercatat 11,26%, sedangkan pertumbuhan ruas jalan hanya 0,01%, sehingga berdampak pada kemacetan.

Alfi juga menyoroti masalah pembuangan sampah bagi Jakarta yang perlu dicari solusinya.

Ia memaparkan menurut berbagai sumber, hingga awal 2019, Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang sudah memuat 39 juta ton sampah dari total kapasitasnya sebesar 49 juta ton. Dengan produksi sampah warganya yang rata-rata mencapai 7.400 ton per hari, TPST Bantar Gebang diprediksi akan penuh pada 2021.

Tidak hanya itu, memiliki masalah dengan ekosistem sehingga menimbulkan kerawanan banjir, polusi sumber air, dan kekeringan.

"Padahal, ibu kota yang ideal sudah selayaknya ramah bagi warganya sehingga mereka dapat merasa aman dan damai untuk hidup di sana. Selain itu, ibu kota tersebut hendaknya secara geografis aman dari bencana alam, memiliki infrastruktur yang memadai, memiliki tata kota terencana, ditopang dengan pendidikan dan teknologi maju, serta merupakan tempat mencari penghidupan yang layak bagi warganya," kata Alfi.

Mahasiswa lainnya, Tamara, menambahkan, faktor pendidikan menjadi sangat penting guna menyiapkan SDM di ibukota yang baru. Menurutanya, daerah baru tersebut perlu dikembangkan pusat-pusat pendidikan yang dapat menunjang kebutuhan pembangunan setempat dengan mengakomodasi SDM lokal, seperti sekolah kejuruan, politeknik, dan universitas. Sehingga diharapkan terjadi sinergi yang erat antara pemerintah, kalangan usaha, dan dunia pendidikan dalam mengembangkan SDM lokal. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More