Rabu 15 Mei 2019, 20:35 WIB

ISRN Koreksi Waktu Isya Indonesia yang Telat 18-19 Menit

Syarief Oebaidillah | Humaniora
ISRN Koreksi Waktu Isya Indonesia yang Telat 18-19 Menit

Ist
Ketua ISRN Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka), Prof Tono Saksono

 

ISLAMIC Science Research Network (ISRN) mengoreksi waktu salat isya di Indonesia yang terlambat rata-rata 18-19 menit dari yang seharusnya, padahal waktu Isya adalah saat dimulainya salat tarawih di bulan Ramadan.

"Koreksi yang kami kemukakan adalah hasil riset saintifik menggunakan alat Sky Quality Meter (SQM), pengukur kecerlangan benda langit serta kamera Digital Single Lens Reflex (DSLR) untuk memverifikasi," kata Ketua ISRN Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka), Prof Tono Saksono dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (15/5).

Sebelumnya, pakar astronomi ini juga telah mengoreksi masuknya waktu salat subuh di Indonesia yang selama ini terlalu cepat sepanjang rata-rata 26 menit, padahal waktu subuh adalah waktu dimulainya berpuasa Ramadan.

"Kami sudah punya sekitar 220 hari pengamatan untuk Subuh dan 160 hari pengamatan waktu isya dari 20-an dan belasan lokasi pengamatan sejak 2,5 tahun lalu," katanya.

Lokasi-lokasi tersebut tersebar yakni Medan, Sumatra Utara (2 lokasi), Padang dan Batusangkar, Sumatra Barat, Jakarta (3), Cirebon Jawa Barat, Yogyakarta (2), Balikpapan Kaltim, Bitung Sulut, Labuanbajo, Nusa Tenggara Timur, dan Manokwari, Papua Barat.

"Karena itu, kajian soal ini di Indonesia sudah kami anggap final sebab angkanya sudah stabil, baik pakai data 28 hari, 40, 70, 100, hingga 220 hari, hasilnya sudah stabil. Begitu juga waktu isya," kata Ketua Himpunan Ilmuwan Muhammadiyah (HIM) itu.


Baca juga: Metro TV Berbagi, Momentum Dakwah melalui Zakat


Hasilnya, ujar dia, memang secara meyakinkan menyimpulkan bahwa subuh di Indonesia seharusnya terjadi saat matahari ada pada sun depression angle (dip - matahari di bawah ufuk) -13,4 derajat, sedangkan isya seharusnya telah masuk saat matahari ada pada dip -11,5 derajat.

"Selama ini masih menggunakan pedoman besaran -20 derajat dan -18 derajat, metode yang dipakai di Mesir pada masa lalu yang dibawa ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia, namun belum dikoreksi karena tidak adanya peralatan yang memadai," katanya.

Jadwal salat atau jadwal Imsakiyah Ramadan 2019 yang dikeluarkan Kementerian Agama, menurut dia, juga masih belum dikoreksi dan tetap menggunakan metode masa lalu, di mana peralatan secanggih saat ini belum tersedia dan masih mengandalkan pengamatan dengan mata telanjang.

Contoh perbedaan waktu misalnya jadwal imsakiyah Ramadan di Jakarta untuk Rabu (8/5), Kemenag menyebut subuh dimulai pukul 4.35 WIB dan Isya 19.00 WIB, sementara ISRN Uhamka menetapkan Subuh pada pukul 5.00.59 WIB dan isya 18.37.19 WIB.

Namun demikian berbeda dengan waktu Subuh dan Isya yang terkait erat dengan saat-saat kritis sun depression angle, untuk waktu zuhur asar, dan magrib, menurut Tono Saksono, tidak perlu dikoreksi lagi.

Pihaknya telah membawa soal ini ke Kementerian Agama dan sudah dipertimbangkan namun belum ada kelanjutan berupa ketetapan. (Ant/OL-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More