Kamis 16 Mei 2019, 04:00 WIB

Nikmat Nontunai

Ronal Surapradja | celoteh
Nikmat Nontunai

MI/Adam
Ronal Surapradja

KOTAK amal berkeliling di antara jemaah ketika khatib mulai berceramah. Terbayang, selembar uang yang akan saya masukkan saat kotak melewati saya.

Lalu saya ambil dompet, tetapi tidak ada satu lembar uang pun di sana. Saya baru ingat sudah hampir seminggu ini belum pernah mengambil uang di ATM. Semua pembayaran saya lakukan menggunakan kartu ataupun ponsel. Akhirnya, si kotak amal lewat begitu saja.

Saya yakin ada yang punya pengalaman serupa dengan saya. Mau bayar sesuatu, tapi di dompet tidak ada uang tunai. Yang ada bermacam kartu, tapi apa daya tempat tersebut belum menyediakan pembayaran uang elektronik.

Teknologi berkembang begitu pesat. Mau tidak mau kita harus mengikutinya. Saat diantar ojek online pun, ketika sampai di tempat tujuan kita hanya tinggal turun karena pembayarannya sudah otomatis diambil dari uang elektronik kita yang ada di aplikasi ojek tersebut.

Begitu juga membayar pesanan makanan online, semudah menekan ikon 'bayar'. Bahkan, ketika kita berpikir bahwa menyentuhkan kartu pada mesin saat membayar belanjaan di minimarket itu canggih, sekarang ada cara pembayaran yang cukup hanya dengan melambaikan kartu kita ke mesin.

Jadi, berhati-hatilah saat di kasir, jangan dadah sembarangan, nanti kita bisa bayarin belanjaan orang lain, he he.

Sejalan dengan program yang diinisiasi Bank Indonesia pada 2014, yaitu Gerakan Nasional Nontunai (GNNT), kini semua institusi berlomba menawarkan jasa layanan uang elektronik ini, dari provider telekomunikasi, layanan transportasi online, perusahaan fintech, dan tentu saja bank.

Bentuk uang elektronik dibagi menjadi dua, yaitu kartu fisik (chip) dan basis server (e-wallet). Sementara itu, metode pembayarannya dibagi menjadi virtual account, e-money, mobile payment application, dan social media payment.

Dari empat metode itu, hanya social media payment yang saya tidak miliki. Alasannya, media sosial yang menawarkan jasa ini ialah media sosial yang ABG banget dan memang saya tidak memiliki aplikasinya di ponsel.

Saya yakin kita (terutama yang tinggal di kota besar) memiliki minimal satu bentuk uang elektronik itu. Dulu saya sempat berpikir seperti dipaksa untuk mengunakan cara bayar ini. Akan tetapi, mengingat banyak layanan yang hanya menerima jenis pembayaran ini, mau tidak mau saya harus memilikinya. Bayar parkir di mal atau bayar tol, misalnya.

Masih minimnya pemahaman masyarakat dan ketatnya persingan membuat pemain uang elektronik, terutama yang berbasis server, jor-joran dalam melakukan promosi. Hal itu terutama dilakukan penerbit uang elektronik bermodal besar bekerja sama dengan merchant-nya.

Penawaran promo dan diskon menjadi cara jitu untuk menarik masyarakat agar mau mengunduh aplikasi pembayaran yang ditawarkan. Cara itu terbukti efektif, terutama untuk pasar dari kalangan milenial yang melek digital.

Sebagai pengguna saya ikut senang dengan persaingan ini. Bagaimana tidak, pesan makanan bisa bebas biaya antar, mendapatkan cashback setiap membayar, atau parkir di mal hanya bayar Rp1. Nikmat, he he.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More