Rabu 15 Mei 2019, 08:45 WIB

Tudingan KPPS Diracun Pikiran Sesat

Rudy Polycarpus | Politik dan Hukum
Tudingan KPPS Diracun Pikiran Sesat

ILustrasi
Ilustrasi Racun

 

KEPALA Staf Presiden Moeldoko menegaskan tidak ada satu pun petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal tidak wajar akibat diracun. Ia mengklarifikasi hal tersebut guna menangkal hoaks yang tersebar di media sosial.

"Sekali lagi saya berharap, tidak berkembang menjadi bola liar. Seolah ada racun, tetek bengek ini karena berpikir sesat. Tidak ada!" tegas mantan Panglima TNI itu di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, kemarin.

Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) dan Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) sudah menyelidiki penyebab kematian petugas pemilu.

Menurutnya, pemerintah berupaya menyajikan fakta dan penjelasan ilmiah guna menjelaskan tragedi tersebut kepada publik. Harapannya, masyarakat tidak terpengaruh hoaks produk pihak-pihak yang memiliki kepentingan politis.

"Saya berharap masyarakat Indonesia berpikir yang jernih, berpikir yang wajar bahwa setiap pekerjaan ada sebuah risiko. Kami harus berusaha perbaiki dari waktu ke waktu. Dari rapat ini juga saya memberikan rekomendasi kepada KPU agar selanjutnya persoalan medis dikedepankan," ungkapnya.

Polemik meninggalnya petugas KPPS memicu kecurigaan kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Mereka menilai kematian itu janggal dan berpotensi memengaruhi hasil pemilu. Moeldoko berpendapat penilaian tersebut tendensius karena memolitisasi kematian petugas KPPS.

"Tolong tidak dibawa-bawa ke ranah politik. Kasihan beban keluarga korban yang sudah mengikhlaskan, keluarga-nya bekerja secara sukarela. Mereka volunter yang bekerja secara sukarela yang digaji tidak besar. Jangan merendahkan jasa-jasa yang diberikan keluarga mereka kepada negara ini," pungkasnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan Kementerian Kesehatan, mayoritas penyebab meninggalnya petugas KPPS ialah kardiovaskular (penyakit jantung).

"Kematian ini 51% disebabkan penyakit kardiovaskular atau jantung. Kalau ditambah dengan hipertensi, jadi 53%. Jadi hipertensi ini yang emergency juga bisa menyebabkan kematian. Kami masukkan ke dalam kardiovaskuler," jelas Menteri Kesehatan Nila Moeloek di tempat sama.

Penyebab kematian lainnya, sambung Nila, ialah gagal pernapasan atau respiratori, disusul kecelakaan, gagal ginjal, diabetes melitus, dan liver. Ia menyatakan proses pendataan atau audit medik masih terus berlangsung.

"Kami meminta seluruh dinas kesehatan untuk melakukan audit medik itu. Kematian yang terjadi di rumah sakit sebanyak 39%. Ini kami lakukan audit medik dan sudah terkumpul data dari 25 provinsi," urainya. (Pol/P-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More