Kompetensi Digital

Penulis: Victor Yasadhana Direktur Pendidikan Yayasan Sukma Pada: Senin, 13 Mei 2019, 03:50 WIB Opini
Kompetensi Digital

Dok. Pribadi
Victor Yasadhana Direktur Pendidikan Yayasan Sukma

'TECHNOLOGY is just a tool. In terms of getting the kids working together and motivating them, the teacher is the most important' (Bill Gates).

Menjadi guru di zaman yang rentan, tak pasti, rumit dan membingungkan (volatile, uncertain, complex, ambiguous-VUCA) seperti sekarang ini, membutuhkan lebih dari sekadar niat baik, kesabaran, dan penguasaan pengetahuan. Perkembangan dunia digital mensyaratkan kerelaan dan kemampuan penguasaan dan pengelolaan atas intervensi (bahkan determinasi) teknologi di ruang belajar.

Penguasaan teknologi hampir pasti menjadi faktor yang semakin dibutuhkan dalam proses belajar mengajar. Namun, keberanian dan kesedian untuk selalu belajar serta kemampuan untuk menjadi lumbung inspirasi, muasal motivasi akan tetap menjadi penting dalam penyelenggaraan pendidikan.

Perkembangan teknologi bisa saja menjadi mula munculnya beragam ramalan hilangnya berbagai profesi. Termasuk guru dan sekolah/institusi pendidikan yang masih percaya metode dan strategi konvensional sebagai cara belajar. Namun, guru yang menginspirasi dan menumbuhkan motivasi tetaplah selalu dapat ditimbang dan diperlukan dalam proses belajar sehingga menimbang kredo menjadi guru ialah proses menuju yang layak untuk digugu dan ditiru, peran guru tetap relevan ditilik dan ditimbang dalam dunia yang berubah cepat.

 

Digugu dan ditiru

Pilihan pada profesi guru, masih dianggap sebagai pilihan mulia dalam benak masyarakat. Seiring berbagai peningkatan kualitas pendapatan dan tantangan jabatan, menjadi guru masih dianggap sebagai profesi yang selalu dibutuhkan bagi kemajuan masyarakat. Sekalipun dalam konteks penghargaan materi, profesi guru di Indonesia masih belum menjadi pilihan profesi terbaik. Namun, perbaikan kualitas penghargaan terhadap guru terus diupayakan negara.

Kesempatan mendapatkan sertifikasi, perbaikan tunjangan, kenaikan gaji, kesempatan dan pengangkatan menjadi PNS, merupakan beberapa upaya yang sering dilakukan pemangku kebijakan pendidikan negara ini.

Guru masih dianggap sebagai profesi nyaris 'suci' yang hampir selalu menuntut kesempurnaan. Ekspektasi yang tinggi selalu ditimpakan pada guru, terutama jika berkaitan dengan kebutuhan pendidikan anak bangsa yang berkualitas sehingga guru ialah rujukan bagi kompas moral dan intelektual. Ia merupakan sosok yang dapat digugu, mewakili keluasan wawasan (intelektual) sehingga perkataannya dapat dipercaya dan dianggap benar.

Pada saat yang sama, guru ialah seorang yang bisa ditiru, menjadi acuan moral yang dapat diikuti, dan dianggap mewakili contoh terbaik perilaku manusia. Teladan sebagai manusia dan kompetensi keilmuan ialah kedua keharusan yang mutlak bagi guru.

Perkembangan zaman memang berpengaruh terhadap pergeseran persepsi pengelolaan pendidikan yang bisa jadi menjadi semakin rasional dan mekanis. Namun, standar harapan bagi guru sebagai rujukan pengetahuan dan acuan moral masih tetap melekat dalam profesi guru sehingga dalam dunia yang penuh dengan kerentanan, ketidakpastian, kerumitan, dan kebingungan, kebutuhan guru untuk tetap menjadi yang digugu dan ditiru perlu dimaknai secara kritis.

 

Tantangan era digital

Tantangan pertama datang dari kebutuhan untuk menjadi guru yang kompeten di era digital ialah kecerdasan, keterampilan, sekaligus kebijaksanaan dalam penguasaan dan penggunaan teknologi. Perkembangan pesat teknologi memberi peluang hadirnya berbagai sumber pengetahuan baru yang di masa sebelumnya jumlahnya lebih terbatas.

Konten pengetahuan dalam proses belajar tak lagi hanya dimiliki guru, tetapi juga dengan mudah didapatkan dari berlimpah sumber di dunia maya. Dalam derajat tertentu, konten pengetahuan yang disediakan di dunia maya, lebih menarik jika dibandingkan dengan konten pengetahuan yang mampu disediakan guru melalui metode konvensional.

Bukan tidak mungkin, jika di masa mendatang, kemampuan menyediakan konten pengetahuan dalam proses belajar di dunia maya, tidak lagi mampu diimbangi guru yang masih mengunakan cara-cara konvensional. Pada titik inilah, kebutuhan guru dengan kompetensi digital menjadi kebutuhan tak terelakkan.

Kompetensi digital lebih komperehensif jika dibandingkan dengan sekadar keterampilan digital. Kompetensi digital mencakup aspek teknis yang berkaitan dengan manajemen hardware dan software, serta kemampuan kognitif yang berkaitan dengan pengetahuan dan pendidikan (Erstad: 2005). Dalam konteks pendidikan, kompetensi digital dapat dimaknai sebagai penggunaan teknologi dengan cara yang meyakinkan, tepat, dan aman untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran dan pendidikan.

Mengacu pada Digcom 2.0, European Comission (2015), setidaknya terdapat lima kompetensi digital yang dapat diupayakan. Pertama, informasi dan literasi data. Kompetensi itu meliputi kemampuan mencari, memilih, memilah, menyeleksi, mengevaluasi, dan mengelola data dan informasi.

Kedua, komunikasi dan kolaborasi. Kompetensi itu meliputi keterampilan berinteraksi, berbagi, terlibat, dan bekerja sama melalui teknologi digital. Selain itu juga mensyaratkan pemahaman dan keterampilan mengelola identitas digital serta penghormatan etika dunia digital.

Ketiga, kemampuan menciptakan konten digital, berkaitan dengan berbagai keterampilan pengembangan, integrasi, dan reelaborasi konten digital. Kompetensi ini juga mencakup pemahaman hak cipta,lisensi,pemograman.

Keempat, keamanan, termasuk kemampuan menjamin pelindungan terhadap gawai, data dan kerahasiaan, kesehatan, dan lingkungan/proses belajar. Terakhir, kemampuan memecahkan dan mengatasi persoalan secara teknis, mampu mengidentifikasi kebutuhan dan respons teknologi yang diperlukan, kreativitas dalam penggunaan teknologi digital, serta mampu mengidentifikasi kekurangan teknologi digital.

Tentu saja, kompetensi digital ini tampak njlimet dan sulit dikuasai, terutama menimbang kecilnya angka guru Indonesia yang benar-benar melek teknologi. Namun, pengembangan kompetensi digital harus mulai dijadikan agenda serius dalam rencana pendidikan secara nasional.

Terlebih, upaya penguatan kompetensi digital selaras pengembangan kemampuan komunikasi, kolaborasi, kapasitas berpikir kritis, kemampuan memecahkan masalah, dan rangsangan bagi upaya menumbuhkan kreativitas dan inovasi yang diperlukan dalam pendidikan di abad ke-21.

Pendidikan di zaman yang bergerak cepat dan penuh kerentanan, ketidakpastian, kerumitan, dan memunculkan kebingungan, perlu direspons dengan dukungan, keberanian, dan kerelaan guru membekali diri dengan kompetensi dan keterampilan yang layak dan tepat.

Pada akhirnya hanya dengan mentalitas dan kesediaan terus belajarlah, kelayakan guru untuk selalu digugu dan ditiru masih bisa terus diupayakan. Selain itu, hanya dari kepantasan digugu dan ditiru, kesempatan guru untuk menjadi sumber inspirasi dan muasal motivasi bagi anak didik selalu berawal.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More