Penjaga Napas Kursus Era Digital

Penulis: Fathurrozak Pada: Minggu, 12 Mei 2019, 03:20 WIB Weekend
Penjaga Napas Kursus Era Digital

DOK PRIBADI
Kampung Course (KC) merupakan marketplace yang lahir dari problematik lembaga kursus lokal

KAMPUNG Inggris di Pare, Kediri, Jawa Timur, terkenal sebagai destinasi mengembangkan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Lembaga kursus ini memiliki strategi yang mengikuti perkembangan zaman guna menjaga keberlangsungan mereka.

Kampung Course (KC) merupakan marketplace yang lahir dari problematik lembaga kursus lokal yang sepi peserta didik karena kurang pemasaran digital. Para lembaga kursus itu hanya fokus pada peningkatan kualitas pendidikan, padahal pemasaran jasa secara digital juga diperlukan.
Danang Pamungkas yang berkuliah di Malang, Jawa Timur, memiliki kenalan pemilik lembaga kursus itu menginisiasi lahirnya KC. KC yang bertujuan sebagai jembatan lembaga kursus dengan peserta didik itu mulai dirintis 2017 melalui lini layanan promosi bisnis aplikasi tukar pesan, kini mulai menunjukkan perkembangannya. Total 20 lembaga kursus bergabung di KC dan 600 peserta didik yang terdaftar.
Bagaimana perjalanan Kampung Course yang sejauh ini sudah mendapat beberapa penghargaan internasional nasional ini? Simak petikan wawancara Muda, pekan lalu.

Bagaimana awal mula kalian membentuk platform ini?
Dari suatu permasalahan di kampung Inggris, ketika saya (Danang Pamungkas) memiliki kenalan komunitas beberapa pemilik lembaga kursus lokal di Kampung Inggris. Mereka sering mengeluh kurangnya peserta didik. Sampai ada beberapa lembaga kursus harus tutup karena mereka tidak paham digital marketing atau memasarkan jasa mereka secara daring.
Kampung Course dibangun sejak Juni 2017, hanya mengandalkan Line@ tentang Kampung Inggris. Kemudian dinamakan Kampung Course (KC) dengan pengikut 10 ribuan. Saya menawarkan kerja sama secara door to door ke tiap lembaga yang ada di kampung Inggris bermodalkan Line@.
Beberapa lembaga menolak, beberapa lembaga mencoba bekerja sama, karena tidak paham digital marketing dan membutuhkan peserta untuk kelangsungan hidup lembaga kursus mereka.
Sedikit demi sedikit, ada peserta yang mendaftar melalui KC. Mereka membayar langsung ke rekening atas nama lembaga guna meningkatkan kepercayaan peserta walaupun mendaftar melalui Line@. Namun, ada kendala ketika peserta sudah melakukan pembayaran booking, uang tidak bisa di-refund peserta, sepenuhnya masuk ke lembaga. KC tidak mendapatkan apa-apa, sehingga saya merasa dirugikan.

Bagaimana pertemuan kamu dengan dua co-founder lain?
Setelah memiliki 3-5 lembaga yang bekerja sama dengan KC, akhirnya saya membeli website seharga Rp3 juta, pendapatan melalui Line@. Saya pun belajar autodidak pemrograman sederhana, seperti HTML dan CMS (Wordpress) untuk bisa mengedit secara mandiri. Semuanya dikerjakan secara mandiri, website, desain, dan pengelolaan media sosial.
Beberapa bulan kemudian, saya bertemu Jimy Candra Gunawan saat Gerakan 1.000 Startup Digital. Saya jadikan dia sebagai co-founder dan chief operating officer (COO) di KC sampai sekarang. Jimy berpengalaman mengajar private bahasa Inggris selama dua tahun semasa kuliahnya.
Saya juga mencari orang yang paham mengenai perkembangan Kampung Inggris. M Indre Wanof, kenalan dan tutor di salah satu lembaga kursus di Kampung Inggris ketika saya belajar di sana, saya jadikan sebagai chief marketing officer (CMO) untuk membantu pemasaran KC.

Pembagian tugasnya seperti apa?
Saya (CEO) lebih bertanggung jawab digital marketing dan situs.  Jimy (COO) bertanggung jawab operasional dan partnership dengan pihak luar. Beberapa minggu lalu ia sempat berangkat ke Australia dalam program Australia Awards Scholarship dari pemerintah Australia. Ia mendapatkan berbagai dukungan dari pemerintah Australia, sehingga mendapat beberapa jaringan ke orang-orang berpengaruh untuk berkolaborasi dengan Kampung Course. Indre (CMO) bertanggung jawab pemasaran offline untuk memperkenalkan KC melalui komunitas-komunitas yang ia ikuti.

Mengapa perlu jadi fasilitator antara penyedia kursus dan calon peserta?
Penting karena banyak lembaga kursus lokal tidak paham pemasaran digital, berbeda dengan lembaga kursus dari perusahaan asing yang sudah lama memanfaatkannya sehingga lembaga kursus lokal selalu kalah bersaing dan kurang dikenal, mengakibatkan kurangnya peserta lembaga kursus lokal.
Kami ingin lembaga kursus lokal berkembang dan bersaing dengan lembaga kursus asing. Berdasarkan data Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan terdapat 29.283 lembaga kursus tersebar di Indonesia, tentu mereka dapat berkontribusi meningkatkan sumber daya manusia dengan berbagai keahlian, terutama masuk dunia kerja.

Untuk siapa saja Kampung Course?
Saat ini KC ditujukan untuk pelajar (SD, SMP, SMA), mahasiswa, (S-1, S-2), dan pekerja/karyawan, target pasar kami pada rentang usia 10-40 tahun. Ke depannya, kami akan menargetkan perusahaan.

Apakah banyak terjadi kasus pencari kursus tertipu oleh lembaga?
Benar, ada beberapa peserta terkena penipuan pendaftaran yang mengatasnamakan beberapa lembaga di sana. Beberapa lembaga kursus di Kampung Inggris tidak memiliki rekening atas nama lembaganya, sehingga mereka menggunakan rekening atas nama pribadi. Ini terkadang membuat calon peserta ragu mendaftar, sehingga KC membantu sistem pembayaran kedua pihak antara lembaga kursus dan calon peserta kursus, melalui rekening perusahaan KC.

Dari mana keuntungan KC?
Keuntungan kami melalui pembagian profit (sharing profit) dengan lembaga kursus sebesar 10% dari total biaya kursus per transaksi atau pendaftar.
Saat ini, kami sama sekali belum mengenakan biaya, alias gratis untuk masuk ke platform KC. Namun, ke depannya kami akan menawarkan tahun pertama gratis kemudian pada tahun-tahun berikutnya dikenakan biaya.

Apa yang menjadi pertimbangan pencari kursus?
Kesulitan pencari kursus ketika mencari program dan lembaga kursus ada beberapa hal, misalnya biaya kursus yang sesuai dengan bujet kebutuhan, program kursus yang sesuai kebutuhan seperti untuk interview kerja dan persiapan TOEFL. Lembaga yang berkualitas, dilihat dari beberapa testimoni peserta alumni lembaga kursus.

Bagaimana kualifikasi para lembaga kursus yang tergabung?
Mereka memiliki SK Diknas, serta kurikulum pembelajaran masing-masing untuk membantu proses belajar peserta. Namun, mereka tidak paham mengenai pemasaran karena hanya berfokus pada kualitas pendidikan.
Saat ini terdapat kursus bahasa Inggris, Arab, dan Mandarin. Memang didominasi lembaga kursus bahasa Inggris. Kami biasanya mempertimbangkan karakter tiap penyedia kursus berdasarkan fokus keahlian materi, seperti speaking, TOEFL, dan IELTS.

Apa yang menjadi ukuran keberhasilan kalian dalam bisnis?
Ukuran keberhasilan kami, yaitu peningkatan peserta lembaga kursus lokal, yang telah bekerja sama dan terbantu dalam pemasaran digital. Calon peserta mendapatkan program dan lembaga kursus yang sesuai dengan kebutuhan dan bujet. Startup kami mendapatkan profit yang berkelanjutan untuk keberlangsungan hidup dan pengembangan Kampung Course ke depan.

Apa ada rencana ekspansi luar Kediri?
Saat ini fokus kami masih di niche market, Kampung Inggris di Pare, Kediri. Tentunya kami akan melakukan ekspansi ke berbagai daerah lainnya karena banyak lembaga kursus lokal lainnya yang ingin kami bantu untuk meningkatkan kuantitas peserta dan kualitas lembaga kursus di Indonesia.

Apa rencana pengembangan KC?
Kami memiliki rencana lima tahun ke depan, pencarian anggota tim untuk pengembangan KC dari berbagai divisi, seperti IT, marketing, dan analyst. Pengembangan situs dan aplikasi mobile, branding Kampung Course untuk mendukung lembaga kursus lokal, juga membantu lembaga kursus lokal untuk menyediakan kursus pembelajaran melalui daring.
Serta menargetkan 100 lembaga kursus bergabung dengan KC dalam satu tahun dan 25 ribu lembaga kursus dalam lima tahun. Selain itu, kami ingin menargetkan berbagai jenis kursus dan pelatihan, seperti desain, IT, dan bahasa asing lainnya.
Tantangan kami saat ini ialah membutuhkan tim IT untuk pengembangan situs dan mobile apps, sehingga kami terkadang kesulitan untuk mengembangkan platform kami. (M-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More