Minggu 12 Mei 2019, 06:20 WIB

Bulan Ajang Menjaga Kondusivitas

Rifaldi Putra Irianto | Tausiah
Bulan Ajang Menjaga Kondusivitas

MI/Ramdani
Asrorun Niam

PESTA demokrasi di tengah bulan Ramadan memberikan kesempatan kepada kita untuk meningkatkan upaya menjaga kondusivitas. Pesta demokrasi salah satu proses yang harus dilalui untuk kepentingan bangsa dan kondusivitasnya merupakan tanggung jawab bersama.

"Dalam Islam, memilih pemimpin itu sebagai kewajiban syar'i dan setiap umat Islam memiliki tanggung jawab untuk berpartisipasi. Setelah itu tertunaikan, tanggung jawab kita ialah menjaga kondusivitas," kata  Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam Saleh saat di temui di Masjid Nursiah Daud Paloh, Kompleks Media Group, Jakarta, Jumat (10/5).

Salah satu yang dididik dalam pelaksanaan Ramadan, lanjutnya, ialah kemampuan menahan diri, menjaga rasionalitas, termasuk rasionalitas publik. Seorang muslim yang sedang menjalani ibadah puasa jangan sampai mengucapkan kalimat yang memprovokasi orang lain untuk berbuat yang tidak sesuai dengan koridor hukum.

"Kalau itu kita lakukan, puasa yang kita laksanakan dengan menahan lapar dan dahaga itu akan sia-sia," ujar Asrorun.

Oleh karena itu ia berpesan, siapa pun yang memenangkan pemilihan presiden, masyarakat harus dapat menyikapinya secara profesional. Pemilihan presiden (pilpres) merupakan hal biasa dalam mekanisme kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara sehingga jangan sampai dianggap sebagai bagian dari hidup dan mati. Pilpres, lanjutnya, merupakan bagian dari kontestasi ikhtiar untuk mencari pemimpin yang terbaik dari yang terbaik.
"Tidak berarti yang kalah itu buruk. Yang kalah ialah hanya belum diberi kepercayaan oleh masyarakat." katanya.

Ajarkan disiplin
Pada kesempatan itu ia juga mengatakan, bulan suci memberikan banyak manfaat bagi umat muslim yang menjalani ibadah puasa. Selain menahan diri dari rasa lapar dan dahaga, ibadah puasa juga memberikan manfaat mengajarkan diri untuk disiplin, jujur, hingga menjaga komunikasi pada keluarga maupun kerabat.

"Satu detik saja setelah azan subuh kita mengonsumsi makanan atau minuman. itu batal puasanya. Satu detik sebelum azan magrib kita mengonsumsi makanan atau minuman, itu juga batal puasanya. Puasa melatih kita dalam berdisiplin," Jelas Asrorun.

Hal lainnya, tambah Asrorun, puasa juga melatih diri untuk dapat jujur. Sekalipun orang lain tidak tahu hakikat kita puasa, kita melihat sendiri di dalam mentalitas kita komitmen dan kejujuran kita.

Selain dua hal tersebut, ia juga mengatakan bahwa puasa menyiapkan peran utama untuk menjaga komunikasi dengan berbagai pihak. Di antaranya, berkomunikasi dengan keluarga saat sahur atau berkomunikasi dengan teman saat buka puasa bersama.

"Sahur merupakan momentum untuk berkomunikasi dengan keluarga. Pada sebuah hadis disebutkan, bersahurlah kalian karena di dalam sahur itu ada keberkahan. Di mana keberkahannya? Keberkahan itu ketika makan bersama-sama," paparnya.

Dari ketiga manfaat tersebut, lanjutnya, puasa dapat meningkatkan produktivitas sebab melalui kejujuran dan kedisiplinan secara otomatis melahirkan banyak kepercayan dari orang lain. Dengan rasa percaya, orang akan semakin menjalin kekerabatan untuk membangun kebersamaan.

Di sisi lain, tingkat komunikasi yang tinggi akan menekan stres, yang pada akhirnya melahirkan produktivitas. (H-1)

 

TAFSIR AL-MISHBAH

Read More

CELOTEH

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Selasa, 17 Sep 2019 / 12 Ramadan 1440 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : 04:25 WIB
Subuh : 04:35 WIB
Terbit : 05:51 WIB
Dhuha : 06:19 WIB
Dzuhur : 11:53 WIB
Ashar : 15:14 WIB
Maghrib : 17:47 WIB
Isya : 18:59 WIB

PERNIK

Read More