Biasakan Antre Dong!

Penulis: Ronal Surapradja Pada: Minggu, 12 Mei 2019, 07:00 WIB celoteh
Biasakan Antre Dong!

MI/Adam
Ronal Surapradja

MEMANG benar bulan puasa ialah saatnya kita menahan hawa nafsu. Rasanya godaan yang memancing emosi lumayan banyak. Mungkin karena perut kosong jadinya sensi, hehehe. Salah satunya, kesal menghadapi orang yang tidak bisa antre. Di negara ini, antre yang seharusnya mudah dilakukan ternyata susah untuk dibiasakan.

Contohnya saat naik lift, bayar minimarket, giliran menggunakan ATM, menunggu taksi, dan yang paling parah tentu saja di lampu merah. Oh ya, biasanya menjelang Idul Fitri sering ada pembagian sembako. Yang sering terjadi ialah rusuh karena masyarakat tidak mau tertib mengantre. Akibatnya, jatuh korban jiwa.

Bangsa kita susah antre karena salah pilih budaya. Korupsi yang buruk marak dilakukan, antre yang baik malah dihindari. Tidak mau antre sejatinya menunjukkan ciri mental yang korup.

Soal tidak mau antre ini dilakukan semua kalangan dari berbagai latar. Ini berkaitan dengan akses dan prioritas. Semua ingin mendapat prioritas, terutama yang mayoritas.

Di jalanan, pengguna motor yang mayoritas selalu ingin didahulukan, peduli setan dengan aturan. Yang tua merasa berhak mendapat prioritas daripada yang muda, yang kaya terhadap yang miskin, pejabat terhadap orang biasa, aparat terhadap sipil. Hal ini diperparah dengan adanya penjual 'jasa prioritas' seperti calo dan polisi cepek.

Menurut saya, ada tiga jenis orang yang tidak mau antre, yaitu orang bodoh, pura-pura bodoh, dan masa bodoh. Orang bodoh meskipun sudah jarang, tapi saya kira masih ada. Karena tidak mendapat pendidikan yang baik membuat mereka sering kali tidak antre karena ketidaktahuannya.

Berikutnya, si pura-pura bodoh. Mereka ini berpendidikan cukup untuk mengetahui aturan tentang antre, tapi sering kali 'mengakali' peraturan terutama jika tidak ada yang mengawasi atau menegurnya. Kalau ditegur petugas atau orang lain, biasanya mengaku salah dan berlindung di balik akting bodohnya.

Yang paling mengesalkan ialah si masa bodoh. Bagi mereka tidak ada peraturan yang bisa mengatur mereka. Karena merasa memiliki kekuatan, mereka inilah yang selalu bilang peraturan dibuat untuk dilanggar.

Padahal, dengan tertib mengantre kita bisa mendapat banyak pelajaran. Dengan antre, kita akan belajar manajemen waktu. Kalau ingin paling depan, datanglah lebih awal. Kita akan belajar bersabar menunggu sampai giliran kita tiba.

Soal rekor antre terlama yang pernah saya lakukan ialah antre untuk nonton konser U2 di Sydney pada 2006, yaitu 14 jam! Untuk konser jam 9 malam saya sudah datang ke stadion jam 7 pagi. Saya kira saya akan dapat antrean depan, ternyata banyak yang sudah antre menginap sejak malam sebelumnya. Gila! Hahaha.

Tidak ada keinginan untuk menyerobot antrean. Karena saya tahu konsekuensinya, kalau tidak digebukin pengantre lainnya, ya diusir petugas. Yang saya lakukan ialah sabar, menikmati lamanya antrean, sekaligus bersosialisasi dengan pengantre lainnya. Setelah 10 kali menonton konser U2 di banyak kota di dunia, teman saya dari berbagai negara bertambah banyak karena berkenalan saat antre.

Konon, keinginan untuk tidak mau antre bisa dipicu ketidakpastian dalam hidup. Sering kali kita dihadapkan pada situasi ketika kita berusaha untuk mengikuti aturan untuk mendapatkan sesuatu, tetapi akhirnya tidak mendapatkan hal itu. Yang dapat malah orang yang tidak mengikuti aturan.

Sebetulnya ada antrean yang pasti, tapi orang-orang tidak mau berebut duluan. Antrean itu ialah antrean dipanggil Yang Mahakuasa. Untuk hal ini rasanya semua orang ingin dapat antrean paling belakang, hehehe. (H-2)

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More