Sabtu 11 Mei 2019, 13:30 WIB

ESDM dan Pertamina akan Tindak Lanjuti Mafia BBM di Manggarai

Yohanes Manasye | Nusantara
ESDM dan Pertamina akan Tindak Lanjuti Mafia BBM di Manggarai

MI/Yohanes Manasye
Menteri ESDM Ignasius Jonan bersama Dirut PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati di Manggarai

 

MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan bersama Dirut PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati berjanji akan menindaklanjuti kasus dugaan mafia penjualan solar subsidi dengan harga nonsubsidi (industri) di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur pada periode Juli sampai September 2018.

“Saya belum dapat laporan ya. Masyarakat lapor ke pihak kepolisian. Nanti kita tindak lanjuti juga. Kita sangat mendukung,” ujar Jonan usai meresmikan BBM Satu Harga di SPBU Poco Ranaka, Manggarai Timur, NTT, Jumat (10/5).

Jonan menegaskan BBM subsidi harus dijual dengan harga subsidi. Jika ditemukan adanya BBM subsidi yang dialihkan atau dijual ke industri, pelakunya harus diproses secara hukum.

“Tidak boleh BBM subsidi, solar itu dijual ke industri. Sama sekali nggak boleh. Kalau ada, pelakunya harus diproses hukum. Gitu,” tegasnya.

Senada dengan Jonan, Nicke Widyawati mengatakan pihaknya tidak akan menolerir penyimpangan atau penyalahgunaan BBM subsidi. Ia bahkan meminta pihak kepolisian untuk segera mengusut tuntas pihak-pihak yang terlibat.

“Ini terus terang saya juga baru mendengar. Tetapi seperti yang disampaikan pak menteri, tentu kita tidak akan menolerir jika terjadi hal-hal seperti itu. Tentu kami mengharapkan pihak kepolisian segera mengambil langkah,” ujar Nicke.

Baca juga: ESDM Pastikan Stok BBM Aman saat Mudik Lebaran

BBM subsidi, lanjut Nicke, disediakan untuk melayani kebutuhan masyarakat yang kurang mampu.

“Jadi kalau ada yang kurang tepat sasaran, kami mengapresiasi jika masyarakat memberikan laporan. Kita punya call center 135. Nanti untuk masalah hukumnya, pihak kepolisian yang melanjutkan,” tegasnya.

Sebelumnya diberitakan sebanyak 88.000 liter solar subsidi yang dibeli melalui letter of order (LO) SPBU 54.865.03 Carep, Kecamatan Langke Rembong, dialihkan oleh PT El Nusa Petrofin ke Agen Pengisian Minyak Solar (APMS) Industri 55.865.10 Mata Air, Kecamatan Reo.

Pengangkutan solar subsidi tersebut dilakukan sebanyak 11 kali menggunakan mobil tangki 8.000 liter milik PT Elnusa Petrofin sejak Juli sampai Oktober 2018.

Pengawas APMS 55.865.10 Reo, Alfred Ledo, mengatakan pengalihan BBM subsidi jenis solar itu dilakukan pada saat APMS kehabisan stok solar industri. Sementara mereka harus melayani pengisian BBM untuk kebutuhan industri, termasuk mobil-mobil tangki BBM milik PT Elnusa Petrofin.

Dalam kondisi kesulitan itu, pimpinan PT Elnusa Petrofin Reo Canon Laapen menawarkan agar APMS tersebut menggunakan BBM subsidi yang dibeli dengan letter of order dari SPBU 54.865.03 Carep. Kebetulan pemilik APMS Reo yakni Edward Sianatan merupakan salah satu dari dua pemilik SPBU Carep.

Tawaran tersebut disetujui pihak APMS Reo sehingga solar subsidi yang seharusnya diantar ke SPBU Carep dialihkan oleh mobil-mobil tangki PT Elnusa Petrofin ke APMS Reo.

“Saya tidak berpikir lagi soal (beli dengan harga) subsidi dan (jual dengan harga) nonsubsidi. Saya ikut saja ketika Elnusa bilang bisa ambil solar dari SPBU lain yang berhubungan dengan kami. Saya tanya, apakah itu bisa? Elnusa bilang, hal itu bisa demi kepentingan umum,” tutur Alfred, Jumat (28/12).

Canon Laapen membantah pernyataan Alfred. Pengalihan solar subsidi ke industri, kata Canon, merupakan permintaan pemilik SPBU Carep dan APMS Reo yakni Edward Sianatan.

Biasanya, lanjut Canon, ketika APMS Reo kehabisan BBM dan belum bisa membeli BBM industri, Edward meminta PT Elnusa Petrofin agar BBM subsidi yang seharusnya diangkut ke SPBU Carep dialihkan saja ke APMS Reo.

“Sebenarnya dia ambil haknya dia juga. Ditaruh di APMS. Besoknya LO-nya diganti ke SPBU Carep. Itu sebenarnya satu bos yang sama-sama tahu. Kita tidak ada di situ. Untuk masalah angkutan, memang kita yang angkut pakai mobil Elnusa. Itu memang sudah menjadi kewajiban kita,” tutur Canon.

Namun pernyataan Canon dibantah Edward Sianatan. Ia mengaku tak pernah mengetahui apalagi meminta PT Elnusa Petrofin untuk mengalihkan solar subsidi SPBU Carep untuk dijual dengan harga industry di APMS Reo.

“Saya tidak tahu sama sekali. Saya tidak tahu sama sekali soal itu,” kata Edward.

Pihak kepolisian mengaku baru mengetahui kasus ini sejak pertama kali diberitakan oleh Media Indonesia pada Desember tahun lalu. Mereka pun berjanji menuntaskan kasus tersebut.

Padahal, sumber Media Indonesia menyebutkan pengalihan BBM subsidi SPBU Carep ke APMS industri Reo terhenti pada 27 Oktober 2018 karena anggota Polres Manggarai mengendus praktik tersebut langsung mendatangi APMS Reo dan PT Elnusa Petrofin Reo.

Selain itu, kehadiran polisi juga membuat pihak APMS Reo mencicil pengembalian solar tersebut ke SPBU Carep.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More