Sabtu 11 Mei 2019, 07:00 WIB

Harta Dibawa Mati

Ronald Surapradja, | celoteh
Harta Dibawa Mati

MI/ADAM
Ronald Surapradja

DALAM urusan bekerja, bulan Ramadan bagi saya sama saja dengan bulan-bulan lainnya. Sebagai pekerja serabutan, dalam arti pagi siaran di radio, siang syuting di TV, sore jadi MC di panggung, dan malam menulis untuk kolom ini, saya harus tetap bekerja. Karena kalau tidak kerja, ya tidak akan mendapat bayaran, hehe.

Sebagai seniman yang bisa saya lakukan ialah menjual kemampuan saya. Bersyukur saya tidak punya akses ke anggaran atau main proyek yang butuh uang pelicin, jadi insya Allah rezeki yang saya dapatkan halal.

Gaji penyiar, bayaran syuting, fee MC, dan honor menulis merupakan rezeki yang saya dapatkan. Saya kumpulkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sebagian ditabung untuk anak-anak saya, sebagian lagi dipakai untuk modal usaha dan sedikit investasi.

Kita sering mendengar pepatah, harta tidak dibawa mati dan biar miskin asal masuk surga. Ini tidak salah. Tapi, saya mendapat sudut pandang lain dari seorang ustaz di kajian Islam yang saya ikuti.

Beliau berkata, jika ada pilihan, yakni kaya di dunia lalu berpulang ke Rahmatullah dan masuk surga, mengapa masih memilih miskin di dunia dan mati masuk neraka?

Menjadi kaya, siapa yang tidak mau. Tapi, mendapatkannya harus dengan cara halal, itu juga harus mau. Perhatikan dua dari lima Rukun Islam berhubungan dengan harta, yaitu zakat dan haji. Dengan memiliki harta, kita bisa melakukan dua ibadah wajib tersebut, terutama melaksanakan ibadah haji yang kita tahu biayanya tidak murah.

Sang ustaz mengajak kita untuk mencintai harta sepenuhnya dan berusaha untuk tidak berpisah dengannya. Jadilah orang yang tidak rela meninggalkan harta kita di dunia, sehingga akan melakukan apa pun supaya harta itu bisa kita bawa mati.

Tentu saja ajakan ini jangan ditelan bulat-bulat, apalagi sampai menyiapkan kuburan besar yang kelak akan kita gunakan untuk dikubur bersama mobil, perhiasan, dan semua harta kita lainnya. Bukan begitu caranya, hehe.

Caranya ialah dengan menitipkan harta yang kita miliki sekarang. Bukan dititipkan di bank, tapi dititipkan di masjid, kepada anak yatim, fakir miskin dan duafa, sekolah, pesantren, panti asuhan, lembaga sosial, berzakat, wakaf, dan lainnya.

Yakinlah, pasti ada yang berkenan dititipi amanah tersebut. Insya Allah di akhirat kita bisa mengambil lagi titipan harta itu. Yang masih hidup dan sudah mati akan sama-sama merasakan manfaat harta ini. Bukankah ini hal yang indah?

Semua harta yang kita titipkan itu akan menjadi modal kita di akhirat nanti. Sebaliknya, harta benda yang hanya ditabung di bank bisa jadi malah menjadi masalah bagi yang ditinggalkan.

Sering kita mendengar cerita keluarga yang hancur karena berebut warisan bukan? Belum lagi sebutan yang tidak nyaman dari masyarakat seperti si pelit bin kikir bin koret bin buntut kasir, hehe.

Harta itu akan bermanfaat jika digunakan di jalan-Nya, karena selain itu harta hanya akan menjadi fitnah.

Tidak salah lagi tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah. Berbagi itu indah. Memberi itu dihormati dan disegani. Bercita-cita dan berusaha memperoleh harta secara jujur dan lurus merupakan sebuah kehormatan untuk diberikan kepada orang lain yang nanti diterima lagi di akhirat. Tidak ada harta yang hilang karena kelak dikembalikan lagi dalam berbagai bentuk.

Bulan Ramadan ini merupakan saat yang tepat bagi kita untuk menitipkan harta. Begitu banyak keutamaan dan balasan-Nya karena Allah begitu memuliakan mereka yang bersedekah.

Beberapa di antaranya adalah akan dihapuskan dosa, mendapat naungan di hari akhir, memberi keberkahan pada harta kita, melipatgandakan pahala, membebaskan kita dari siksa kubur, sampai ada satu pintu surga yang dikhususkan untuk mereka yang bersedekah  

Rasulullah bersabda, apabila manusia meninggal dunia, terputus amalnya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya.
Marhaban ya Ramadan, marhaban ya dermawan. (H-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More