Belajar Bersama Anak

Penulis: Ronal Surapradja Pada: Kamis, 09 Mei 2019, 08:10 WIB celoteh
Belajar Bersama Anak

MI/ADAM DWI
Ronal Surapradja

TIDAK terasa sudah 15 tahun saya berkarier di dunia hiburan. Banyak yang menganggap saya sebagai orang sibuk, ya alhamdulillah artinya saya masih dianggap laku, hehe.

Rutinitas saya dimulai sejak pagi buta untuk berangkat siaran radio, siang syuting untuk acara TV, meeting dengan klien, sesekali mengerjakan urusan label rekaman, dan biasanya akhir pekan diisi untuk acara off air.

Dulu rasanya bangga jika kerja itu tiap hari nonsetop sampai pulang larut malam, tapi sekarang sih enggak, hehe. Karena tidak memiliki manajer seperti artis lainnya, jadinya saya punya keleluasaan mengatur waktu sendiri. Dua tahun terakhir ini sesibuk apa pun saya, paling telat magrib sudah di rumah. Tujuan saya hanya satu, menemani anak belajar.

Saya menikmati menemani anak belajar. Membuat dia tetap fokus, mencari cara menjelaskan dengan bahasa yang sederhana, sampai menjaga emosi jika si anak susah untuk mengerti, hehe. Tidak mudah, tapi di situ nikmatnya.

Karena anak saya masih kelas 4 SD, jadi soal pelajaran tidak terlalu sulit. Yang lumayan menantang ialah bagaimana kita menjaga mood dan emosi saat menemani anak belajar.

Perasaan udah jungkir balik dijelasin, tapi si anak masih belum mengerti juga. Gemes kan?
Akan tetapi, marah hanya akan membuat dia kehilangan kepercayaan diri. Belajar adalah sebuah proses.

Terkadang kita sering lupa (atau menyepelekan) akan proses ini, jadi kita cenderung mudah menyalahkan anak atau mengecapnya sebagai pemalas jika tidak mengerti materi tertentu.

Setiap saya mau marah kepada dia, saya sering berpikir, "Jangan-jangan ini yang dirasakan orangtua saya dulu ketika menemani saya belajar." Biasanya setelah itu rasa ingin marah pun hilang. Yang terjadi kemudian malah saya memeluk dia, hehe.

Education is the ability to listen to almost anything without losing your temper or your self confidence (Pendidikan adalah kemampuan untuk mendengarkan/menyimak apa pun tanpa kehilangan kendali emosi dan kepercayaan diri). Begitu kata Robert Frost, seorang penyair Amerika.

Saya mau memastikan anak saya tidak hanya sekadar tahu dan menghafal dalam otak saja, tetapi juga memahami pelajaran tersebut. Dengan demikian, dia akan bisa mengingatnya dalam jangka waktu yang panjang.

Karena menemani anak belajar, mau tidak mau saya juga ikut belajar (lagi). Namun, mencoba me-recall memori pelajaran puluhan tahun lalu terkadang susah. Beruntung ada Google yang bisa membantu kita dalam sekejap. Saya sering tersenyum sendiri jika teringat waktu saat saya belajar pelajaran tersebut. Terbayang guru, teman, ruang kelas, dan sekolah SD dulu.

Lucu, ada perjanjian antara saya dan istri. Jika nanti anak sudah mulai memasuki pelajaran matematika dan fisika yang susah, dia akan belajar ditemani ibunya yang lulusan ITB. Untuk urusan hitungan saya mengaku lemah, tapi untuk pelajaran IPS, bolehlah diadu. Jika nanti pelajaran sudah memasuki persamaan kuadrat atau rumus nan njlimet silakan tanya ibu, tapi kalau soal sejarah dan ilmu sosial lainnya, sini sama bapak, hehe.

Tanpa bermaksud menggurui, untuk urusan menemani anak belajar sebaiknya kitalah, orangtua, yang meluangkan waktu, bukan mencari waktu luang. Pengalaman ditemani orangtua saat belajar ini akan selalu diingatnya sebagai kenangan terindah. (H-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More