Selasa 07 Mei 2019, 10:27 WIB

Banjir di Bengkulu Bisa Parah Bila Tidak ada Perbaikan

Antara | Nusantara
Banjir di Bengkulu Bisa Parah Bila Tidak ada Perbaikan

Antara
Dalam kondisi normal seharusnya kenaikan permukaan air hanya setinggi 20 cm. Namun yang terjadi ketinggian air di atas 1 meter.

 

AKADEMISI Universitas Bengkulu, Abdul Rahman mengingatkan pemerintah daerah segera mengatasi pemicu banjir di Bengkulu Tengah dan Kota Bengkulu.

"Harus ada evaluasi aktivitas pertambangan di hulu sungai. Selama itu tidak diperbaiki, maka banjir lebih parah akan melanda Bengkulu Tengah dan Kota Bengkulu," kata Abdul Rahman, Senin (6/7).

Dosen yang saat ini meneliti daerah aliran sungai (DAS) untuk empat sungai di wilayah Bengkulu itu, mengatakan pembukaan lahan di hulu sungai untuk penambangan dapat dipastikan menjadi salah satu biang keladi banjir parah yang melanda daerah itu.    

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa curah hujan di atas rata-rata, yaitu 182 dan 289 mm terjadi pada 24 dan 26 April lalu.Berdasarkan luas area tangkapan DAS Air Bengkulu di hulu, jika curah hujan 200 mm per hari, seluruhnya mengalir ke muara. Dalam kondisi normal seharusnya kenaikan permukaan air atau genangan hanya setinggi 20 cm. Namun yang terjadi ketinggian air di atas satu meter.

"Tanah di daerah hulu sudah jenuh, tidak menyerap air sama sekali. Sehingga seluruh air dialirkan ke muara dengan tipikal sungai di Bengkulu adalah pendek-pendek," kata dosen Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Politik Universitas Bengkulu.

baca juga: Jumlah Korban Jiwa Banjir Bengkulu Menjadi 24 Orang

Prediksi Abdul Rahman bahwa ketinggian air seharusnya hanya 20 cm, bukan dua meter seperti yang terjadi saat banjir lalu, disebabkan hujan bercampur erosi.

"Erosi itulah yang kemungkinan besar menyebabkan banjir parah di Kota
Bengkulu," ujarnya menyimpulkan. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More